
Tiga dendrobium spesies bersosok elok.
TRUBUS — Ketika bunga Dendrobium anosmum mekar, dekati kelopak bunga. Seketika tercium aroma harum mirip buah stroberi. Nama spesies itu, anosmum pinjaman dari bahasa Latin bermakna harum. Bunga mampu bertahan 5—10 hari, tergantung dari kecukupun nutrisi pada tanaman. Pantas jika Dra. Rini Pintokowati jatuh hati pada anggrek itu. Selain wangi, sosok dendrobium itu juga elok.
Mahkota bunga ungu muda dan bibir bagian dalam ungu tua. “Saya mendatangkannya dari Maluku pada 2005,” kata pehobi anggrek di Desa Kepitu, Tirtomulyo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Rini Pintokowati. Tanaman kerabat vanili itu tersebar di India, Papua Nugini, Filipina, dan Indonesia. Sayang, sepekan setelah sampai di kediaman Rini, anggrek itu menggugurkan daun. “Saya kaget, kenapa daunnya rontok?” ujar Rini mengenang.
Karakter anggrek
Sebulan kemudian sejak daun gugur, Rini girang bukan main ketika Dendrobium anosmum berbunga. Menurut Rini karakter dendrobium itu menggugurkan daun menjelang berbunga. Batang anggrek setinggi 1,5 m itu menampakkan bunga berdiameter 10 cm. Di kebun Rini, D. anosmum berbunga sekali setahun saat perubahan musim dari kemarau ke hujan. Pemilik Kebun Anggrek Kepitu itu juga mengoleksi jenis anggrek lain seperti Dendrobium gatton sunray dan D.usitae.

Alumnus Universitas Negeri Semarang itu mendatangkan Dendrobium gatton sunray dari sesama pehobi di Jakarta pada 2008. Anggrek itu merupakan hasil persilangan antara Dendrobium pulchellum dan D. ilustre. “Saya suka bentuk dan warna bunganya yang menarik,” ujar perempuan kelahiran Padang, Sumatera Barat, 9 Maret 1961 itu. Bunga D. gatton sunray berwarna kuning berukuran 8 cm x 7 cm.
Sebuah tangkai setinggi sekitar 3 cm memunculkan 5 kuntum bunga. Labellum anggrek berambut dan kuning. Di tengah-tengah labellum itu, muncul warna coeklat. “Karakternya sama dengan D. anosmum, menggugurkan daun dulu sebelum berbunga,” ujarnya. Di kebun Rini, D. gatton sunray berbunga dua kali setahun pada Februari dan September. Pensiunan guru itu mengoleksi belasan tanaman Dendrobium gatton sunray.
Adapun Dendrobium usitae hasil hibrida secara alami antara D. bullenianum dan D. goldschmidtianum. Di habitat asalnya, anggrek itu hidup menggantung di pohon. Batang anggrek D. usitae menjuntai sepanjang 60 cm. Di kediaman Rini 30-an kuntum menggelayuti batang tanaman sepanjang 1,5—2 m. Warna bunga merah kekuningan D. usitae berbunga 3—4 kali setahun pada Agustus, Desember, dan April.
Sepenuh hati
Rini merawat anggrek-anggrek itu sepenuh hati. Ia memperhatikan media tanam setiap jenis anggrek itu. Misalnya untuk D. gatton sunry, Rini menggunakan media tanam arang dan pakis. D. anosmum tumbuh di media tanam pakis saja dengan tambahan moss. Sementara untuk D. usitae, ia menggunakan media tanam arang dan pakis. “Kombinasi media itu bagus untuk menjaga kelembapan dan perakaran anggrek,” ujar Rini.

Sarjana Psikologi Pendidikan dan Bimbingan itu menempatkan anggrek-anggrek koleksinya di bawah jaring penaung 70%. Artinya jaring hanya meloloskan 30% sinar matahari. “Saya ingin membuat kebun yang mirip dengan habitat asli Phalaenopsis gigantea,” ujar mantan guru SMA di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, itu. Tanaman kerabat vanili itu tampak segar menunjukkan pertumbuhan bagus.
Penyiraman dendro—sebutan dendrobium di kalangan penggemarnya—sehari dua kali dengan selang air. Keruan saja, air siraman itu membasahi lantai semen di kebunnya berketinggian 499 meter di atas permukaan laut. Selain itu Rini memberikan vitamin B1. Kolektor anggrek sejak 1999 itu melarutkan satu tutup botol dalam 14 liter air bersih, mengaduk rata, dan menyemprotkan ke sekujur tanaman. Frekuensinya hanya dua kali setahun pada Maret dan November.

(foto: Dra Rini Pintokowati)
Rini Pintokowati mengkhawatirkan kelestarian anggrek-anggrek itu khususnya D. anosmum. Keresahan itu muncul lantaran keberadaan anggrek-anggrek itu di alam menyusut. Putu Yuni Astriani Dewi dan rekan dari Universitas Udayana, Bali, memulai penyelamatan anggrek itu dengan memperbanyaknya melalui teknik kultur in vitro. Mereka berhasil membuktikan penambahan air kelapa pada media kultur mampu meningkatkan jumlah embrio tahap akhir yang terbentuk. (Bondan Setyawan)
