
Ikan dewa asli Indonesia memiliki beragam spesies.
Trubus — Sekelompok ikan yang kerap meloncat membetot perhatian Dr. Haryono M.Si. ketika mengeksplorasi alam dekat Sungai Barito Hulu, Kalimantan Tengah, pada 2004. Ikan-ikan itu berloncatan seperti lumba-lumba. “Itu ikan sapan,” kata warga setempat yang menemani Haryono. Peneliti ikan di Pusat Penelitian Biologi, Bidang Zoologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), itu pun terpincut meneliti ikan itu.

Alasannya ikan sapan asli Indonesia, berukuran besar, dan belum dibudidayakan, sehingga Haryono berhasrat mendomestikasi ikan sapan. Ciri ikan itu antara lain berkepala dan bermulut besar, bagian di antara mata rata, dan bermoncong membulat atau runcing. Selain itu panjang moncong sama dengan panjang rahang. Kepala agak memanjang yang diduga bentuk adaptasi dengan habitat berarus agar mudah berenang.
Menyebar
Ciri lain ikan sapan terdapat dua pasang sungut (dekat moncong dan rahang atas) dan lubang hidung lebih dekat ke mata daripada ke moncong. Posisi mulut juga agak bawah (inferior) yang diduga untuk menyesuaikan diri dengan makanan pada substrat di dasar sungai. Perut ikan sapan betina lebih membulat ketimbang jantan. Sisik ikan anggota famili Cyprinidae itu bertipe sikloid dan berukuran besar.

Pola warna ikan sapan sangat menarik. Lazimnya perpaduan antara merah, kuning, dan biru sehingga berpotensi dikembangkan sebagai ikan hias. Sebetulnya ikan sapan nama lokal ikan bergenus Tor. Masyarakat di Pulau Sumatera menyebut ikan sapan dengan semah. Kancra sebutan lain ikan sapan di Jawa Barat. Nama beken ikan sapan lainnya yaitu ikan dewa. “Semua nama itu mengacu kepada ikan bergenus Tor,” kata Haryono.
Jadi, ikan dewa tidak spesifik untuk spesies, tapi genus. Nama umum ikan dalam genus Tor adalah mahseer. Java salmon juga menjadi sebutan lain ikan dewa. Haryono menduga java salmon mengacu kepada perilaku ikan dewa yang bermigrasi ke hulu ketika memijah mirip salmon. Sejatinya perpindahan ikan antarekosistem air tawar seperti dari hilir ke hulu yang dilakukan ikan dewa disebut potamodromous.

Sementara tipe migrasi salmon termasuk anadromous yaitu migrasi ikan yang kecil dan besar di laut, tapi memijah di perairan tawar. Lebih lanjut ia menuturkan ada empat ikan Tor di Indonesia yakni Tor soro, T. tambroides, T. douronensis, dan T. tambra. Keempatnya dibedakan berdasarkan keberadaan dan ukuran cuping bibir bawah (Lihat Tabel Ikan Dewa Indonesia).

Penyebaran ikan dewa meliputi Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Jadi wajar ikan itu memiliki banyak nama berbeda di berbagai daerah. Di dunia terdapat 20 jenis ikan bermarga Tor yang tersebar di Asia. Hulu sungai dengan dasar berbatuan, berarus deras, berair jernih, dan lingkungan sekitar berupa hutan merupakan ciri habitat kesukaan ikan dewa.
Ikan itu termasuk perenang aktif yang menyukai bagian sungai berarus. Menurut Haryono dalam satu sungai di tanah air bisa ditemukan lebih dari satu jenis ikan dewa. Ia menduga ikan dewa yang ditemui berjenis T. tambroides. Tambroides berukuran tubuh lebih besar dibandingkan dengan ikan sejenis. Buktinya Haryono menangkap tambroides berbobot 20 kg di sungai di Bukit Batikap, kawasan Pegunungan Muller, Kalimantan Tengah.
Bahkan, warga setempat melaporkan, pernah menangkap tambroides berbobot 50 kg per ekor. Sementara bobot maksimal ikan dewa lainnya seperti T. soro kurang dari 10 kg, T. douronensis 3—5 kg, dan T. tambra 3 kg.
Tambroides
Peneliti ikan dewa di Balai Riset Penelitian Budidaya Air Tawar dan Penyuluh Perikanan (BRPBATPP) Bogor, Jawa Barat, Drs. Jojo Subagja, M.Si, mengatakan tambroides lebih cepat besar dibandingkan dengan ikan sejenis lainnya. Sayangnya induk tambroides sulit didapat karena mengandalkan tangkapan alam. Harap mafhum kerusakan habitat dan penangkapan berlebihan ancaman serius tambroides berukuran besar. Pertumbuhan douronensis lebih lambat daripada soro dan tambroides.

Meski begitu jumlah anakan douronensis lebih banyak ketimbang ikan sejenis lainnya. Ketersediaan induk douronensis pun relatif banyak di alam. Pembudidaya ikan dewa di Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Endang Mumuh, membuktikan tambroides lebih cepat besar daripada soro. Endang memasukkan bibit tambroides dan soro masing-masing sepanjang 2—3 cm. Berselang 3 bulan, panjang tambroides 12 cm, sedangkan soro 8 cm.
Menurut peneliti ikan dewa di BRPBATPP Bogor, Jawa Barat, Otong Zenal Arifin, M.Si, harga jual tambroides paling mahal ketimbang ikan sejenis lainnya. Itu karena Malaysia gencar mempromosikan tambroides. Apalagi ukuran ikan itu besar. Menyantap tambroides berbobot 5—6 kg pun menjadi prestise. Salah satu bukti tambroides berharga lebih mahal diketahui dari harga bibit.
Perkumpulan Pengusaha Ikan Mahseer Indonesia (PPIMI) membanderol bibit tambroides berukuran 1—5 cm seharga Rp1.500 per ekor, sedangkan soro dan douronensis Rp1.000 per ekor. Apa pun jenisnya, sudah sepantasnya ikan dewa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. (Riefza Vebriansyah)
