Sektor hortikultura di wilayah perkotaan kembali mendapat sorotan melalui Festival Hortikultura DKI Jakarta 2025. Gelaran yang diinisiasi oleh Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta bersama Pusat Promosi dan Sertifikasi Hasil Pertanian (PPSHP) ini berlangsung mulai Senin, 27 Oktober hingga Sabtu, 1 November 2025.
Menurut Kepala DKPKP DKI Jakarta, Hadusungan A. Sidabalok, M.Si, kegiatan ini menjadi jembatan bagi masyarakat dan pelaku usaha hortikultura untuk saling berinteraksi sekaligus memperluas jejaring.
“Festival ini kami hadirkan sebagai ruang pertemuan antara pelaku usaha hortikultura, masyarakat, dan para pencinta tanaman hias yang jumlahnya cukup besar di Jakarta,” tutur Hadusungan.
Festival yang digelar selama lima hari ini menampilkan ragam kegiatan edukatif dan kreatif, di antaranya pelatihan edible flowers, merangkai bunga papan dan anggrek, kontes tabulampot, serta pemilihan Duta Hortikultura. Selain itu, Festival Makan Pisang turut memeriahkan suasana dengan memperkenalkan potensi buah lokal sebagai produk unggulan daerah.
Hadusungan menjelaskan, ada sekitar 20 tenant yang berpartisipasi dalam pameran kali ini. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pembudidaya anggrek binaan DKPKP, pelaku usaha bunga di Pasar Rawa Belong, hingga UMKM Jakpreneur. Pemerintah daerah menargetkan sedikitnya 1.000 pengunjung hadir selama acara berlangsung.
“Sebelum festival dimulai, promosi dan sosialisasi sudah kami lakukan sejak sebulan sebelumnya. Respons publik yang tinggi menjadi bukti bahwa masyarakat memiliki minat besar terhadap hortikultura,” jelasnya.
Apresiasi terhadap kegiatan ini juga datang dari pemerintah pusat. Direktur Buah dan Florikultura Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Liferdi Lukman, menilai Jakarta sebagai wilayah yang sangat potensial untuk pengembangan hortikultura perkotaan.
“Hortikultura merupakan komoditas yang paling sesuai untuk DKI Jakarta. Tidak memerlukan lahan luas, dapat dikembangkan di pekarangan, dan hasilnya tetap bernilai tinggi,” ujar Liferdi.
Menurutnya, tanaman hortikultura tidak hanya menghasilkan produk sehat, tetapi juga menghadirkan keindahan yang menenangkan jiwa.
“Hortikultura itu indah, manis, dan menyenangkan. Selain menyehatkan, tanaman hias memberi nutrisi bagi jiwa masyarakat kota yang hidup di tengah kesibukan,” lanjutnya.
Ia menambahkan, penyelenggaraan festival ini berperan penting dalam memperluas akses pasar bagi petani dan pelaku UMKM.
“Event seperti ini menjadi wadah promosi yang efektif. Dengan pasar yang terbuka, produksi akan berkelanjutan, dan kegiatan hortikultura di perkotaan dapat terus tumbuh,” tegasnya.
Melalui festival ini, Jakarta menegaskan posisinya sebagai kota yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga hijau dan estetik. Hortikultura tidak lagi sekadar hobi, melainkan gaya hidup baru yang memberi keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan lingkungan.
(Naya Maura Denisa)
