Friday, January 16, 2026

Festival Urban Farming 2025 Dorong Kemandirian Pangan Keluarga di Jakarta

Rekomendasi
- Advertisement -

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) resmi membuka Festival Urban Farming 2025 pada Rabu (10/7) di Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta Selatan. Kegiatan yang berlangsung hingga 12 Juli ini menjadi momentum penting untuk memperkuat gerakan urban farming di Jakarta dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan perkotaan.

Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, menegaskan bahwa urban farming merupakan salah satu strategi untuk mengurangi ketergantungan pangan Jakarta dari daerah luar.

“Saat ini, 98% pasokan pangan di Jakarta masih berasal dari luar wilayah. Hanya 2% yang diproduksi secara lokal. Urban farming adalah peluang untuk meningkatkan produktivitas pangan keluarga dan membangun kemandirian pangan dari lingkungan sekitar,” ujar Hasudungan.

Menurutnya, salah satu cara meningkatkan ketahanan pangan keluarga adalah dengan memperluas gerakan Jakarta Menanam, yang akan difokuskan pada komoditas bernilai strategis seperti cabai dan tanaman hortikultura. Pasalnya, cabai merupakan salah satu penyumbang inflasi yang paling sensitif terhadap ketersediaan dan harga.

“Kami akan lebih intens mengembangkan komoditas yang berdampak langsung terhadap perekonomian rumah tangga. Urban farming bisa menjadi solusi tapi berdampak jika dilakukan bersama-sama,” jelasnya.

Festival ini juga menjadi wadah untuk menggali dan mengembangkan potensi pertanian kota yang masih belum sepenuhnya dimanfaatkan. Ia berharap semakin banyak masyarakat yang tertarik bertani di perkotaan, memanfaatkan pekarangan rumah, atap gedung, hingga lahan tidur.

“Dengan urban farming, kita bisa membangun ketahanan pangan dari pekarangan sendiri, sekaligus menjaga lingkungan tetap hijau dan sehat,” tambahnya.

Festival Urban Farming Jakarta 2025 menghadirkan beragam pemangku kepentingan, mulai dari instansi pemerintah, pelaku usaha, komunitas, hingga kelompok tani kota. Acara ini menyuguhkan talkshow, pelatihan urban farming, hingga pameran pertanian kota yang inovatif.

Dengan tema “Sinergi Global Menuju Kota Hijau Berkelanjutan”, festival ini diharapkan mendorong kolaborasi antarsektor untuk membangun ekosistem pertanian kota yang tangguh dan berkelanjutan.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2030 sekitar 63,4% penduduk Indonesia akan tinggal di wilayah perkotaan, dan angkanya diproyeksikan naik menjadi 66,6% pada 2035. Peningkatan jumlah penduduk kota akan berdampak langsung pada kebutuhan pangan yang makin tinggi.

“Urban farming harus menjadi gerakan gemilang, menjadikan kota asri dan lestari. Festival ini menjadi langkah menuju ketahanan pangan berkelanjutan di perkotaan,” tutupnya.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img