Rp3,51 triliun. Itulah nilai ekspor florikultura Indonesia sepanjang 1 Januari hingga 14 September 2026. Angka yang membuktikan bahwa hobi menanam kini bertransformasi menjadi industri serius. Namun di balik capaian itu, tersimpan tantangan. Nilai tersebut justru turun dibandingkan dengan 2025 yang mencapai Rp4,42 triliun.
Fakta itulah yang mengiringi pembukaan Floriculture Indonesia International (FLOII) Expo 2026, Kamis (17/9/2026), di Hall 3A ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Provinsi Bnaten. Memasuki tahun kelima penyelenggaraan, pameran tanaman hias internasional ini mengusung tema “United by Nature”.
Ekspor Turun, tapi Pasar Domestik Masih Raksasa
Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding, membuka langsung acara tersebut. Ia menegaskan florikultura tak lagi bisa dipandang sebelah mata. “Florikultura bukan sekadar hobi. Melainkan bagian penting dari ekonomi hijau, industri kreatif, inovasi, penyerapan lapangan kerja, dan peluang ekspor nasional,” kata Karding.
Sepanjang 2025 nilai ekspor florikultura nasional mencapai Rp4,42 triliun dengan volume 93,9 juta komoditas ke 95 negara. Pada 2026, meski nilainya turun jadi Rp3,51 triliun, jangkauan pasar justru melebar ke 96 negara. Komoditas andalannya antara lain bunga dan bibit krisan, bibit lilium, bibit Saintpaulia, serta tanaman akuarium.

Potensi pasar dalam negeri jauh lebih besar lagi. “Perdagangan tanaman hias di dalam negeri diperkirakan Rp20 triliun sampai Rp40 triliun. Ini masih dikelola secara alami, belum ditangani secara sungguh-sungguh,” ujar Karding.
Ia juga mengingatkan tanggung jawab yang menyertai geliat ekspor itu. “Ketika tanaman Indonesia terbang ke luar negeri, yang kita bawa bukan sekadar komoditasnya. Namun juga nama baik, reputasi, dan kepercayaan pasar dunia terhadap Indonesia,” tutur Karding.
Asosiasi Ajak Pelaku Industri Bersatu
Ketua Umum Indonesia Aroid Society (IAS), Anjasmara Prasetya, mengajak seluruh pelaku industri tanaman hias bersatu. “Indonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa. Para breeder yang kreatif, kolektor yang luar biasa, hingga pengusaha tanaman hias yang tangguh. Yang kita perlukan saat ini adalah bersatu, membangun jaringan, meningkatkan profesionalisme, dan bergerak bersama,” tutur Anjasmara.
Wakil Ketua Perhimpunan Florikultura Indonesia (PFI), Friesia Sutjiati Widjaja, mengapresiasi dukungan Barantin terhadap pertumbuhan bisnis tanaman hias. Menurut Friesia dalam sepuluh tahun terakhir pertumbuhan bisnis berkembang pesat dari sekadar usaha rumahan menjadi bisnis lintas negara.
120 Eksibitor dari Empat Negara Ramaikan FLOII Expo 2026
Steering Committee FLOII Expo, Rustika Herlambang, menyebut pameran tahun ini diikuti lebih dari 120 eksibitor dari Indonesia dan mancanegara. Termasuk Tailan, Taiwan, Tiongkok, dan Ekuador. “FLOII Expo 2026 mengajak kita melihat florikultura bukan sekadar tren atau hobi, melainkan ruang kolaborasi yang mempertemukan komunitas, pelaku industri, dan masyarakat melalui kecintaan terhadap tanaman, alam, dan gaya hidup berbasis nature,” kata Rustika.
Selain area pameran, FLOII Expo 2026 menghadirkan rangkaian program berupa talk show, workshop, kontes dan kompetisi tanaman, botanical park convention, hingga community meet-up. Penyelenggaraan tahun ini didukung Kementerian Pertanian RI, Badan Karantina Indonesia, serta sejumlah sponsor. Sebut saja Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai official bank partner, Pupuk Indonesia, PT PLN (Persero), Pertamina International EP, dan Kebun Raya.
FLOII Expo 2026 berlangsung hingga 20 September 2026 di ICE BSD City, Tangerang.
