Thursday, December 8, 2022

Gading Mas Cup II Kejayaan Cinhua Terulang

Rekomendasi

Dua rival terberatnya, jagoan kelas cencu modern dan free marking, pun bertekuk lutut. Itulah grand champion ketiga baginya, setelah merebut gelar sama pada kontes di Tasikmalaya dan Jakarta.

Langkah lou han yang bertarung di kelas cinhua mutiara itu amat meyakinkan. Di kelas itu ia beradu molek dengan 19 ekor kimhua mutiara lain. Persaingan ketat pun tak terelakkan lantaran mutu peserta kontes lumayan bagus. Meski demikian lou han yang menghuni akuarium nomor KHM-15 itu tampil prima. Ia tampak elegan berenang ke sana ke mari. Tubuh proporsional bertaburan mutiara.

Ketiga juri—Hariyanto, Hendry Sutaki Utomo, dan Ali—mengganjar kimhua sepanjang 24 cm itu sebagai jawara kelas. “Tubuh mendekati sempurna, sirip bagus, dan bermental kuat,” ujar Hariyanto, salah satu juri. Menjadi kampiun di kelasnya, kimhua itu akhirnya melangkah ke babak berikutnya untuk memperebutkan gelar grand champion.

Dua kali

Dari 8 kelas yang digelar, panitia menentukan masing-masing juara pertama di 5 kelas untuk perebutan gelar bergengsi. Kelima kelas itu adalah kimhua mutiara, kimhua nonmutiara, cencu modern, cencu klasik, dan free marking. Sedangkan jawara kelas bonsai, unik, dan nonjenong tak diikutkan dalam perebutan grand champion.

Persaingan pun kian meruncing. Dalam penentuan jawara, juri menilai 2 kali. Yang pertama diambil 3 ekor terbaik, yakni kimhua mutiara, cencu modern, dan free marking. Cencu modern penghuni akuarium CM-12 menuju grand champion setelah menaklukkan 14 rivalnya. Sedangkan jawara kelas free marking melaju sesudah menghentikan perlawanan 13 seterunya. Toh, kampiun free marking dan cencu modern gagal menjegal langkah cinhua.

Cinhua klangenan H Wawan memang bermental jawara. Ia telah malang-melintang di berbagai kontes di tanah air. Selain gelar 3 grand champion, ia juga mengantongi 12 juara pertama. Di kontes kali ini cinhuaitu kembali mengukir prestasi dengan merebut grand champion. Menurut juri, ukuran cencu modern jagoan Pramono itu kecil dan performa pun kurang baik.“Kelemahan cencu di konstruksi tulang sirip dan ekornya,” ujar Hendri.

Bersaing ketat

Persaingan ketat juga terjadi di kelas free marking. Diikuti oleh 13 peserta membuat juri kewalahan. Soalnya, semua ikan memiliki performa bagus. Namun, penilaian hanya terkonsentrasi pada bentuk tubuh, sirip, warna, dan kepala. “Persaingan free marking ketat karena marking tidak dinilai,” kata Hariyanto.

Lou han di akuarium FM-09 itu memang luar biasa. Bentuk tubuh, kepala, sampai sirip dayung meraih angka tertinggi setelah grand champion. Warna lembut, kepala bagus, dan bermuka mirip monyetmembuat juri berdecak kagum. Wajar bilakoleksi Andry Siswandi, hobiis dari Jakartaitu mewakili free marking untuk bertarungmeraih grand champion.

Di kelas nonjenong kompetisi alot juga terjadi. Sekitar 22 lou han tanpa nongnong beradu elok. Liukan ekor dan kelincahan gerak tampak cantik. Kilau mutiara dan gradasi warna ikut menentukan pemenang di kelas ini. Lou han milik Denny Aryadi dari Jakarta akhirnya menjadi yang terbaik di kelas itu.

Maskoki

Kontes yang berlangsung di sentra ikanhias Kelapagading, Jakarta Utara, itu diikuti oleh 45 peserta dari 50 akuarium yang disediakan. Hobiis dari Jakarta mendominasi, peserta lain dari Bandung dan Bekasi.Selain lou han, panitia juga menggelar kontes maskoki dan guppy. “Lomba ini diharapkan mampu menyemarakkan usahaikan hias di Indonesia,” kata Hariyanto, juri dari Asosiasi Lou han Jakarta (ALJ).

Adu molek maskoki dikelompokkan dalam 5 kelas. Sedangkan untuk guppy, panitia membuka 3 kelas. Tercatat 42 guppy beradu indah di kontes itu. Selain itu, lomba mendesain akuarium juga digelar di sana. (Rahmansyah Dermawan)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Lengkap! Budidaya Cacing Sutra Sistem Apartemen Hemat Tempat dan Air

Trubus.id — Peningkatan tren ikan hias diikuti dengan permintaan pakan tinggi. Cacing sutra menjadi salah satu pakan ikan hias...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img