Trubus.id – Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkenalkan inovasi Gamahumat dalam kegiatan panen raya padi di Bimomartani, Sleman, Kamis (24/4). Panen ini bukan sekadar seremonial, melainkan uji efektivitas Gamahumat dan nanosilika dalam meningkatkan produktivitas pertanian.
Gamahumat merupakan pembenah tanah yang berasal dari ekstraksi batubara berkalori rendah, mengandung asam humat dan fulvat. Inovasi ini dikembangkan oleh tim lintas disiplin UGM sebagai solusi efisien menyimpan pupuk dan memperbaiki kualitas tanah.
Menurut Dr. Cahyo Wulandari dari Fakultas Pertanian UGM, pemberian Gamahumat dapat meningkatkan efisiensi penyimpanan pupuk hingga 20–50%. Kondisi tanah yang diberi humat lebih mampu menahan unsur hara, sehingga pemakaian pupuk kimia bisa ditekan.
Selain menyimpan pupuk, Gamahumat juga meningkatkan hasil panen. Dalam uji coba, kombinasi pupuk NPK penuh, Gamahumat, dan nanosilika mampu meningkatkan jumlah bulir isi padi hingga 62%.
Wulandari menyebut hasil ini masih perlu dikaji lebih lanjut di laboratorium. Namun, jika terbukti konsisten, penggunaan humat lokal bisa mengurangi ketergantungan impor dan menekan biaya pertanian.
Melansir pada laman UGM, Ketua tim peneliti, Prof. Ferian Anggara dari Departemen Geologi UGM, menjelaskan bahwa humat membantu menjaga struktur tanah tetap stabil. Dengan struktur tanah yang lebih baik, nitrogen dari pupuk bisa lebih lama tersimpan di dalam tanah.
Uji coba Gamahumat kali ini merupakan yang kedua dilakukan di lokasi yang sama setelah uji pertama pada Oktober 2024. Hasil panen menunjukkan efektivitas yang mendekati produktivitas padi dengan pemupukan kimia konvensional.
Perbedaan dalam uji kali ini adalah penggunaan variabel tambahan, yakni nanosilika. Nanosilika diketahui membantu memperkuat batang tanaman dan mendistribusikan nutrisi lebih efektif, serta meningkatkan ketahanan terhadap hama dan cuaca ekstrem.
Prof. Himawan Tri Bayu Murti Petrus menambahkan bahwa inovasi ini berangkat dari keprihatinan atas kondisi tanah yang rusak pasca panen. Gamahumat diharapkan mampu memperbaiki kondisi tanah dan menjaga keseimbangan unsur hara jangka panjang.
Saat ini, tim Gamahumat tengah menguji penerapan teknologi ini di berbagai jenis tanah seperti tanah kapur dan tanah vulkanik. Tak hanya pada tanaman pangan, mereka juga merencanakan penggunaan di lahan bekas tambang untuk pemulihan lingkungan.
Inovasi ini mendapat apresiasi dari pihak industri dan pemerintah. PT Bukit Asam memandang Gamahumat sebagai wujud nyata hilirisasi batubara, sementara Kementerian ESDM menyatakan siap mengawal pengembangannya ke tahap lebih lanjut.
