
Bisnis minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO) menggeliat lagi. Bahkan, kini pengolah VCO bermunculan di luar Pulau Jawa.
Trubus — Bangunan berukuran 12 m x 14 m itu menjadi sumber pendapatan bagi Balto Xavry Riupassa. Di tempat itu Balto memproduksi 500 l minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO) setiap bulan. Ia menjual VCO Rp250.000 per liter. Setelah dikurangi ongkos produksi, produsen VCO di Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, itu mengantongi laba minimal Rp50 juta per bulan. Pendapatan terbesar Balto berasal dari perniagaan VCO.

Kapasitas produksi saat ini meroket sekitar 700% dari semula yang hanya 60 l per bulan pada Juni 2018. Peningkatan produksi itu terjadi setelah lebih dari setahun ia memproduksi VCO. Artinya usaha pembuatan VCO Balto berkembang sangat pesat. Konsumen Balto berasal dari berbagai daerah seperti Jakarta, Surabaya, Jawa Timur, Bali, Maluku Tengah (Maluku), dan Papua.
Pasar meluas
Balto Xavry menuturkan, “Sebanyak 60—70% VCO saya digunakan oleh masyarakat Kabupaten Maluku Tengah.” Pemilik UD Wootay Coconut itu mengandalkan 10—15 mitra di berbagai daerah untuk memasarkan VCO. Mayoritas konsumen yang membeli merasakan khasiat VCO. Menurut dokter dan herbalis di Malang, Jawa Timur, dr. Zaenal Gani, salah satu faedah VCO mengendalikan kadar gula darah.

VCO pun terbukti berkhasiat sebagai antibakteri dan virus. Beberapa konsumen Balto membuktikan manfaat minyak dara untuk mengatasi diabetes. Pemasaran masih terbatas lantaran Balto tengah mengurus perizinan. Produksi VCO 3 kali sepekan. Ia memakai kelapa lokal sebagai bahan baku. Diperlukan 15—20 kelapa tua untuk menghasilkan 1 liter VCO. Jadi, ia memproses 7.500—10.000 kelapa per bulan.
Pasokan bahan baku memadai karena lokasi usaha berdekatan dengan kebun kelapa. Pembuatan VCO melalui beberapa tahapan meliputi pemilihan bahan baku, pemarutan, pemerasan santan, fermentasi, dan penyaringan. Balto tertarik menjadi produsen VCO karena, “Kelapa salah satu sumber daya alam yang melimpah dan belum dikelola maksimal.” Ia mengetahui cara pembuatan VCO dari beberapa dosen dan mahasiswa asal Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Rombongan dari UGM memberikan pelatihan memproduksi nata de coco dan VCO pada Januari 2018. Semula Balto mengikuti dan memproduksi nata de coco. Kemudian ia juga menggarap VCO sejak Juni 2018. Kini produk VCO milik UD Wootay Coconut mendominasi pasar di Kabupaten Maluku Tengah.
Menjaga kualitas salah satu strategi pemasaran Balto agar produknya selalu menjadi pilihan utama konsumen. Selain memanfaatkan peluang, tujuan lain Balto memproduksi VCO yakni membantu dan memberdayakan masyarakat.
Permintaan tinggi
Beberapa tahun belakangan bermunculan produsen VCO di luar Jawa seperti Balto. Tren penggunaan VCO meningkat kali pertama pada 2005—2006. Saat itu produsen VCO berkembang di Pulau Jawa seperti Yogyakarta. Kehadiran Balto sebagai produsen VCO di Kabupaten Maluku Tengah sejak 2018 bukti tren minyak perawan berkembang di daerah. Balto bersyukur produksi VCO miliknya berkembang berkat bimbingan program CaRED dari UGM dan MFAT (Selandia Baru).

Yang paling anyar yaitu berdirinya PT Kelapa Wakatobi Sejahtera di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Perusahaan yang berdiri pada Agustus 2019 itu membuka lapangan kerja bagi ibu rumah tangga di Wakatobi untuk memproduksi VCO. Perusahaan juga membeli kelapa milik petani kelapa lokal dengan harga tinggi. Manajer Penjualan dan Pemasaran PT Kelapa Wakatobi Sejahtera, Joseph, tertarik memproduksi VCO lantaran ada peluang pasar. Ia merilis produk VCO bermerek Coco Waka pada September 2019.
Kata coco mengacu pada kata Bahasa Inggris coconut yang berarti kelapa, sedangkan waka menunjukkan asal tempat produksi di Wakatobi. Co-founder Coco Waka, Marcelia Yovian dan Delvi Alksari mengatakan, produk mereka mendapatkan perhatian dari Dinas Pariwisata Kabupaten Wakatobi karena secara tidak langsung mengangkat nama Wakatobi agar dikenal lebih luas di Indonesia. Kapasitas produksi saat ini 400 liter saban bulan. Joseph memasarkan produknya ke industri hotel, restoran, dan kafe (horeka) ternama di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).
Pemanfaatan VCO oleh para konsumen itu antara lain sebagai campuran pada sambal matah, minuman berbahan leci (smoothies lychee coconut), dan kopi (coconut cappucino). Marcelia dan Delvi juga memperkenalkan Coco Waka sebagai produk perawatan kulit dan wajah seperti pembersih riasan (make up remover) dan pelembap kulit. Meski tergolong produsen baru, bisnis VCO Balto serta Marcelia dan Delvi terus bertumbuh. Balto berencana menambah kapasitas produksi menjadi minimal 2 ton VCO per bulan pada 2020.
Ia berharap semua perizinan rampung pada 2020 sehingga pemasaran VCO Wootay Coconut lebih luas daripada sebelumnya. “Jika saya meproduksi 5 ton VCO per bulan pun bisa terserap pasar,” kata mantan general manager (GM) salah satu hotel terkenal di Gili Trawangan, Nusa Tenggara Barat, itu. Itu menunjukkan besarnya potensi pasar minyak perawan di Indonesia bagian timur.

Joseph pun bakal meningkatkan kapasitas produksi minimal 30% setara 120 liter per bulan pada 2020. Alasannya ada pembeli dari mancanegara yang tertarik menggunakan Coco Waka sebagai bahan baku kosmetik dan produk kesehatan untuk pijat. Tidak hanya pemain baru seperti Balto dan Joseph yang menaikkan kapasitas produksi demi memenuhi permintaan konsumen.
Prospektif
Produksi VCO CV Sumber Rejeki milik Wisnu Gardjito pun meningkat 50% menjadi 1.000 botol masing-masing bervolume 100 ml. Sebelumnya produsen VCO sejak 2007 di Kota Depok, Jawa Barat, itu menghasilkan 500 botol setiap bulan. “Tren diet ketogenik mendongkrak penjualan VCO. Para konsumen puas meskipun harganya lebih tinggi,” kata Manajer Pemasaran dan Keuangan CV Sumber Rejeki, Muhammad Nur Azis.
Apalagi Azis meluncurkan produk VCO varian baru pada Juni 2019 sehingga pilihan konsumen lebih banyak (Baca Minyak Dara Bersalin Rupa halaman 58—59). Kini VCO menjadi menu “wajib” para pegiat diet ketogenik sebagai sumber lemak sehat (Baca Lemak Sehat untuk Diet Ketogenik halaman 56—57). Sejatinya jika Azis menjual 2.000 botol VCO per bulan pun pasti ludes.
Permintaan VCO tidak hanya di dalam negeri. Pasar mancanegara pun menghendaki VCO berkualitas prima. Azis belum memenuhi permintaan sekitar 100 ton VCO per bulan dari Taiwan, Bangladesh, Hongkong, dan Turki. Oleh karena itulah, CV Sumber Rejeki membangun pabrik berkapasitas produksi 100 ton VCO per bulan pada Desember 2019. Ia berharap permintaan mancanegara bisa terpenuhi bertahap dengan adanya pabrik itu.
Azis meyakini tren VCO pada masa depan tetap bagus. Alasannya hampir banyak orang mengenal minyak dara. Informasi seputar manfaat VCO pun mudah dijumpai terutama di dunia maya. Balto dan Joseph pun optimis bisnis VCO di masa mendatang tetap cerah. Buktinya keduanya berani menambah kapasitas produksi. Tren gaya hidup sehat dan kembali ke alam pun mendongkrak pamor VCO. (Riefza Vebriansyah)
