Trubus.id— Beligo terbukti empiris menurunkan kadar kreatinin sehingga cocok sebagai pangan fungsional pasien penderita batu ginjal. Kreatinin adalah zat yang dihasilkan dari konstraksi otot normal dan dilepaskan ke dalam darah kemudian melewati ginjal untuk diekskresikan.
Nilai normal kreatinin serum pada pria 0,7— 1,3 mg/dl, sedangkan pada perempuan 0,6—1,1 mg/dl. Meningkatnya kadar urea dan kreatinin biasanya merupakan tanda timbulnya gagal ginjal terminal dan disertai gejala uremik.
Sebelum memutuskan operasi, alternatif lain bagi penderita batu ginjal adalah dengan mengonsumsi beligo (Benincasa hispida). Beligo—dalam bahasa Jawa disebut kundur—tumbuhnya merambat seperti mentimun.
Sebelum mengonsumsi beligo sebaiknya diolah terlebih dahulu. Caranya potong kecil-kecil beligo, lanjutkan dengan mengukusnya. Setiap pagi dan sore konsumsi 4—5 potong beligo seukuran potongan labu siam untuk konsumsi. Tidak ada takaran pasti, yang penting setiap pagi makan 4—5 potong.
Rasa beligo tawar sehingga terkadang akan membuat bosan setelah konsumsi sepekan. Untuk itu Anda bisa mengubah hidangan beligo sebagai sayur bening. Jika kebosanan menghampiri lagi, tambah variasi menu beligo menjadi manisan.
Setelah 3 bulan rutin mengonsumsi beligo, Anda dapat datang ke dokter untuk meminta mengecek kadar kreatinin. Jika hasilnya berkurang kadar kreatinin, Anda dapat melanjutkan konsumsi beligo hingga 7 bulan atau hingga kadar kreatinin tergolong normal.
Menurut dokter di Kota Tangerang Selatan, Banten, dr. Prapti Utami, secara empiris masyarakat Asia termasuk Indonesia menggunakan beligo sebagai makanan yang bersifat diuretik atau peluruh kemih.
Buah tanaman anggota famili Cucurbitaceae itu juga bersifat antiradang serta antioksidan. “Kreatinin yang tinggi menunjukkan terjadi peradangan kronis pada ginjal penderita,” kata Prapti.
Sifat diuretik beligo memperlancar berkemih, sedangkan sifat antiradang beligo mengurangi peradangan sehingga memulihkan kembali ginjal. Demikian pula antioksidan dan asam amino dalam beligo mempercepat pemulihan.
Namun, bukti itu baru terbatas empiris sehingga Prapti tidak berani menyebutnya sebagai obat. Masyarakat tradisional memang dapat memandang produk buah atau sayuran sebagai makanan maupun obat.
“Pada kasus beligo lebih tepatnya pangan fungsional yang membantu penyembuhan karena batu ginjal,” kata Prapti.
Di tanah air belum ada uji klinis penyembuhan batu ginjal dengan beligo. Menurut Prapti menggunakan beligo sebagai pangan fungsional tidak kontradiktif dengan pengobatan modern.
“Sebagai produk pangan yang digunakan turun-temurun, beligo aman dikonsumsi dalam jangka waktu panjang,” kata Prapti.
