
Trubus — Hadi Senjaya terpukau menyaksikan louhan berwarna dominan merah cerah itu berenang aktif. “Perpaduan warna dan mutiara yang berkilau itu menjadi magnet bagi siapa saja yang melihat,” kata juri kontes louhan senior asal Bandung, Jawa Barat, itu. Intinya penampilan ikan di akurium bernomor 40 itu menawan. Oleh sebab itulah louhan milik Yohanes dari tim Infinity itu mendapatkan gelar paling prestisius di Final Liga Louhan Indonesia 2019 yakni grand champion (GC). Keunggulan lain louhan yang bertanding di kelas golden base A itu yakni tubuh proporsional dan kepala yang cukup baik.
Lazimnya yang menyabet gelar GC berasal dari kategori cencu dan cinhua yang dianggap lebih bergengsi. Menurut Ketua Panitia Liga Louhan Indonesia 2019, Wahid Supriyadi, sistem penilaian kategori cencu pun paling komplit dan detail. Hadi mengatakan kandidat utama GC yaitu louhan di kelas cencu A. Sayangnya tubuh ikan milik Asep dari tim Revolution itu agak panjang dan warnanya belum menonjol. Sejatinya persaingan ketat terjadi di setiap kelas pada kontes yang berlangsung pada 11—15 Desember 2019 itu. Harap mafhum, “Banyak ikan yang dipersiapkan untuk final Liga Louhan Indonesia 2019,” kata Hadi.

Ketua Perhimpunan Pencinta Louhan Indonesia (P2LI) bidang acara dan operasional, Jonlie Sarpin mengatakan Liga Louhan Indonesia 2019 cukup sukses karena jumlah peserta meningkat dibandingkan dengan acara sejenis pada 2018. Wahid pun sempat kelabakan karena sebelumnya ada 518 ikan yang terdaftar. Padahal ia hanya menyediakan 500 akuarium. Saat kontes hanya 486 louhan yang beradu molek. Itu jumlah peserta terbanyak kontes louhan di Indonesia pada 2019. Tim Infinity menjadi juara Liga Louhan Indonesia 2019 dengan nilai 13.192. Tim itu mengalahkan tim Aries (8.548) dan Villa (3.828). (Riefza Vebriansyah)
