Trubus.id—Dosen di Fakultas Pertanian, IPB University, Prof. Dr.agr. Asep Gunawan, S.Pt., M.Sc., dan tim menciptakan marker genomik pada domba. Tujuannya menghasilkan domba premium meliputi bibit dan daging berkualitas.
Kegiatan itu melalui pemulian domba yakni upaya meningkatkan mutu genetik domba dengan memanfaatkan suatu teknologi tertentu.
Untuk menghasilkan domba premium itu Asep dan tim membutuhkan waktu lebih kurang 8 tahun. Pemuliaan dengan seleksi berbasis molekuler.
Penelitian yang berjalan sejak 2016 itu berhasil menemukan penanda seleksi cepat berupa marker genomik untuk menghasilkan domba premium IPB.
Menurut Asep Kkeunggulan daging domba premium IPB yakni kayak akan kandungan asam lemak tak jenuh, rendah kolesterol dan memiliki bau prengus yang rendah. Selain itu, bobot potong dan karkas yang besar dengan keempukan daging yang tinggi.
“Kami sampling sekitar 1.500 ekor domba dari berbagai wilayah yang ada di Indonesia dan sudah memotong sekitar hampir 200 ekor. Kami uji nilai nutrisi dan gizi secara kualitatif dan kuantitatif,” kata Asep.
Secara kuantitatif atau pengukuran di laboratorium Asep membandingkan domba premium dengan non premium yakni dari kandungan gizi dan nutrisi. Berdasarkan hasil penelitian Asep dan rekan kandungan kolesterol domba premium 71.90 mg/100g sementara non premium 103.30 mg/g. Sementara kandungan total asam lemak tak jenuh 30,37% dan non premium 24,40%.
Lebih lanjut ia menjelaskan teknik seleksi domba premium itu telah bersertifikat paten. Untuk memperbanyak bibit domba premium itu Asep mengembangkan Breeding Center Domba Premium di berbagai wilayah di Indonesia.
Ia juga memperluas pengembangan domba premium itu di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat di innovation valley. Untuk produk akhir Asep dan tim sudah mengembangkan daging domba segar, daging siap masak, dan siap konsumsi berupa rendang domba premium.
Asep menuturkan saat ini domba premium memiliki 7 Breeding Center yang ada di seluruh Indonesia. Kegiatan itu juga bekerja sama dengan universitas terdekat. Pengembangan domba premium itu terintegrasi dengan sistem Internet of Things (IOT) berupa cloud computing technology system.
Rekording dan breeding domba premium itu memanfaatkan RFID sebagai penanda permanen pada individu ternak. Keterlacakan secara real time antar Breeding Center domba premium dengan berbagai perangkat digital.
Identitas menggunakan scanner dan data tampil otomatis pada website meliputi data silsilah, performa bibit, dan status kesehatan ternak. “Berharap dapat diimplementasikan banyak daerah untuk meningkatkan mutu genetik ternak lokal dan mampu menebar kemandirian dan pemenuhan protein nasional,” kata Asep pada IPB TV.
