Buah peria manjur mengatasi larva penyebab demam berdarah. Pegagan ampuh mengatrol trombosit.
Sejak ditemukan pertama kali di Surabaya pada 1968, demam berdarah dengue terus mewabah. Ketika itu 58 orang terinfeksi dan 24 orang di antaranya meninggal dunia. Jumlah korban terus melonjak. Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit demam akut akibat virus dengue yang dibawa nyamuk Aedes aegypti. Program pencegahan dan pemberantasan DBD berhasil menurunkan angka kematian hingga 0,87 % pada tahun 2014.

Walau demikian, belum berhasil menurunkan angka kesakitan. Jumlah penderita cenderung meningkat dan penyebarannya semakin luas. Kini serangannya tidak hanya pada anak-anak, tetapi juga golongan umur yang lebih tua. Data terakhir dari Kementerian Kesehatan RI menyebutkan, sampai Agustus 2014 tercatat 24.362 kasus dengan 196 kematian.
Buah peria
Usaha pencegahan di antaranya pengendalian lingkungan dan pengendalian secara kimia. Pengendalian lingkungan yang digalakkan yaitu menutup dan menguras tempat penyimpanan air bersih, membuang atau mengubur barang-barang yang dapat digenangi air hujan (3M). Penggunaan insektisida kimia atau abate pada bak penampungan air memang memberikan hasil yang efektif dan optimal.
Namun, dalam jangka panjang dan dosis tinggi, residunya berpotensi negatif terhadap organisme hidup maupun lingkungan sekitar. Itulah yang membuat Herry Hermansyah, Refai, dan Azhan Azhari dari Politeknik Kesehatan Palembang, Sumatera Selatan, pada 2013 meneliti khasiat buah peria Momordica charantia sebagai larvasida jentik nyamuk Aedes aegepty pada instar ke-3 dan ke-4.
Senyawa-senyawa yang terkandung dalam buah peria khususnya alkaloid mempunyai daya racun sebagai penolak serangga. Herry Hermansyah dan kawan-kawan meneliti khasiat buah anggota famili Cucurbitaceae untuk membantu pencegahan penyebaran larva nyamuk. Sebab, buah peria mudah dijumpai di lingkungan masyarakat. Mereka menggunakan 6 perlakuan dan 24 ekor larva Aedes aegepty pada masing-masing gelas percobaan.
Selanjutnya mereka memberi ekstrak peria—konsentrasi berbeda, yakni 1%, 2,5%, 5%, 10% dan 20%—pada gelas percobaan. Pengujian konsentrat itu dengan 4 kali pengulangan selama 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada konsentrasi 10% dan 20% jumlah larva yang mati 24,00 atau 100%. Dengan demikian ekstrak buah peria manjur untuk membunuh atau sebagai larvasida alami terhadap larva nyamuk Aedes aegepty. Menurut peneliti utama di Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Prof Dr Ir I Wayan Laba MSc, salah satu kandungan buah peria memang alkaloid.
Racun perut
Menurut Wayan Laba alkaloid itu bersifat racun yang menghambat sistem respirasi, mempengaruhi sistem saraf larva, dan bisa digunakan sebagai penolak serangga. “Cara kerja senyawa-senyawa itu dengan bertindak sebagai stomach poisoning atau racun perut. Oleh karena itu bila senyawa-senyawa ini masuk dalam tubuh larva, alat pencernaannya akan terganggu.
Selain itu senyawa alkaloid menghambat reseptor perasa pada daerah mulut larva. “Akibatnya larva gagal mendapatkan stimulus rasa sehingga tidak mampu mengenali makanannya. Akibatnya, larva mati kelaparan,” ujar Wayan. Jadi penggunaan buah peria dapet menjadi salah satu alternatif pengganti abate yang ramah lingkungan. Pencegahan cara terbaik menghindari terjangkitnya penyakit demam berdarah dengue.

Meski demikian tetapi kemungkinan virus itu masuk dalam tubuh tetap tinggi. Sebab, kita rentan gigitan nyamuk Aedes aegepty. Akibatnya, tetap saja sering kecolongan dan tertular penyakit itu. Menurut dokter dan herbalis di Kota Serang, Provinsi Banten, dr Eliya, MARS, demam berdarah dengue berbahaya karena virusa menyerang tempat pembuat trombosit di sumsum tulang belakang dan hati.
Masyarakat biasa memanfaatkan beberapa herbal seperti angkak Monascus purpureus, jambu merah, sari kurma, dan jintan hitam untuk mengatasi demam berdarah. Herbal peningkat sel darah merah lainnya adalah pegagan Centella asiatica sebagaimana riset Titin Dwi Hendrayati. Periset dari Universitas Jember itu membuktikan rebusan daun pegagan terhadap jumlah trombosit. Ia menggunakan tikus mencit Mus musculus sebagai objek percobaannya. Titin memilih daun pegagan segar, berdiameter 3—4 cm. Ia merebus daun itu dalam air 100 ml sampai mendidih dan volumenya menjadi 50 ml.
Titin membuktikan bahwa mencit dengan asupan rebusan berdosis 0,2 g pe kg bobot tubuh paling terpengaruh nyata kenaikan kadar trombosit. Jumlah trombosit sebelum perlakuan 162,8-ribu per ml², kemudian turun drastis menjadi 51,6-ribu per ml² setelah pemberian heparin. Setelah pemberian rebusan pegagan, kadar keping darah merah melonjak bahkan melebihi jumlah sebelum perlakuan, yaitu pada 183,5-ribu per ml².
Bahkan lebih besar daripada perlakuan kontrol positif berkandungan senyawa sintetis yang kadar trombosit berjumlah 166-ribu per ml² setelah perlakuan. Dengan demikian, maka terbukti pegagan memang berpotensi mampu membantu memperbaiki kondisi trombosit yang menurun akibat serangan penyakit ke jumlah yang normal. Dalam kasus DBD, penurunan kadar trombosit hal yang difokuskan untuk segera ditangani.
Eliya mengatakan, setelah 2—3 hari virus dengue masuk ke dalam tubuh, maka terjadi respons yang menyebabkan terbentuknya antibodi. Antibodi itu menyebabkan timbulnya trombositopenia. “Trombositopenia adalah istilah medis untuk menggambarkan kondisi jumlah trombosit yang rendah. Normalnya, kadar trombosit manusia berkisar 150.000—450.000 per ml²,” kata Eliya.
Jika kekurangan trombosit tidak segera ditangani, akibat paling berbahaya adalah terjadinya pendarahan dalam yang sering tidak terdeteksi letaknya dan menyebabkan kematian. Dokter yang membuka klinik di Banten itu menyarankan, perawatan medis selalu diutamakan untuk pertolongan pertama pasien DBD. Sebab, semakin cepat tertangani berarti kemungkinan nyawa terselamatkan makin besar.

Di kalangan herbalis, pegagan bahan herbal yang sudah lama dipakai untuk membantu menyembuhkan berbagai penyakit. Menurut dokter sekaligus herbalis di Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dr Erna Cipta Fahmi, M.Pharm, mengatakan bahwa pegagan mengandung bahan senyawa flavonoid glikosida kuersetin. Kuersetin itu senyawa yang terkandung dalam daun jambu biji, selama ini untuk meningkatkan jumlah trombosit dalam darah.
“Cara kerjanya kuersetin merangsang terjadinya megakariosit, yaitu sel bakal pembentuk trombosit pada sumsum tulang belakang. Oleh karena itu bila megakariosit yang diproduksi berjumlah banyak, maka trombosit yang akan terbentuk juga semakin banyak,” ujar Erna. Ia meresepkan ramuan pegagan sebagai obat demam berdarah, tetapi perannya melengkapi khasiat herbal yang lain.
Ramuan itu berbahan pegagan, daun pepaya, temu giring, temulawak, kulit manggis, dan daun jambu biji. Ia menakar masing-masing bahan itu 30 g. Cara membuatnya dengan mencuci semua bahan sampai bersih dan merebus dalam 600 ml air bersih. Biarkan mendidih hingga airnya tinggal setengahnya. Setelah itu baru diangkat dari perapian, dinginkan, lalu saring. Minum sehari dua kali dan secara rutin sampai sembuh. (Muhammad Hernawan Nugroho)
