Wednesday, August 10, 2022

Hijau Manis, Merah Masam

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

‘Mengejutkan, manis sekali tanpa masam dan kering,’ ucapnya. Setelah tawar menawar, sang pembeli-keberatan menyebutkan nama dan alamat-lantas memboyong beberapa ikat. Lembar rupiah bernominal Rp100.000 berpindah tangan. Padahal, ‘Harga di Pasarminggu paling mahal Rp5.000 per ikatnya. Kalau terlalu mahal tidak ada pembeli yang mau,’ ujar Mubin Usman, pemilik Wijaya Tani. Rambutan itu sepintas memang tampak biasa. Kulit hijaunya menandakan umur petik yang muda. Namun, rasanya bersaing dengan rambutan jenis lain yang dipetik tua.

Berbeda dengan rambutan tua yang meneteskan air lengket saat dikupas, ratujaya-begitu rambutan hijau itu disebut-kering lantaran masih muda. Untuk menjadi merah diperlukan waktu hingga 3 bulan. Saat itu rasa manisnya justru berkurang. Menurut Drs Jawal Anwaruddin Syah, MS, pakar dari Balai Penelitian Tanaman Buah Solok, Sumatera Barat, kematangan fisik tidak selalu terjadi saat kulit menjadi merah. ‘Bisa saja puncak kematangan tercapai saat masih hijau. Rasa manis ketika itu pun paling tinggi,’ katanya. Maka ketika kulit merah, manisnya sebagian berubah menjadi asam.

Mengelupas

Mubin memperbanyak ratujaya dengan okulasi. Cara itu dipilih karena bibit yang dihasilkan cepat berbuah. Paling lama tahun ke-2 setelah penempelan tunas, bibit sudah berproduksi. Selain itu, okulasi tidak terlalu mempengaruhi produktivitas pohon induk. Salah satu koleksinya yang berumur 8 tahun menghasilkan lebih dari 2 kuintal buah. Padahal, di saat bersamaan tunas pohon setinggi 3 m-sengaja dipangkas untuk merangsang pertunasan dan pembungaan-juga diambil untuk okulasi. Dari sanalah ratujaya di Promosi Hortikultura Trubus 2006 berasal.

‘Saya menyebutnya rambutan orang susah. Kalau tidak punya beras, petiklah rambutan muda di pohon lalu jual ke pasar,’ tutur Mubin lagi. Maklum, ketika rambutan lain perlu 80 – 115 hari sejak pentil untuk manis seluruhnya, ratujaya sudah mencapainya pada hari ke-40. Tak hanya manis tanpa masam, daging renyah setebal 5-7 mm pun mudah terkelupas. Begitu kulit hijaunya bersemburat kuning, itulah waktu manisnya mencapai puncak. Umurnya 60-65 hari sejak pentil. Selebihnya hingga kulit menjadi merah, muncul rasa masam. Seiring dengan itu kadar air bertambah sehingga daging menjadi agak becek.

Mubin memperoleh ratujaya di Thailand. Pada 1986 ia membeli 50-an entres 35 cm asal pohon 8 tahun. Sampai di tanahair, pria kelahiran 1940 itu langsung menyambungkannya pada bibit rambutan nyonya di Kampung Ratujaya, Depok. Ternyata, buah yang muncul pada 1988 rasanya serupa dengan yang dimakan di negara Gajah Putih. Tanpa mengulur waktu, perbanyakan segera dilakukan. Memasuki 1990, bibit dipasarkan dengan nama ratujaya.

Sampai Singapura

Sebagai rambutan panen muda, ratujaya tidak sendiri. Selain rapiah yang lebih dulu dikenal, ada firba dari Kalimantan Barat (baca Nikmat Kala Hijau, Trubus Oktober 2004) yang mencapai puncak manis saat kulit hijaunya memunculkan semburat merah.

Tatkala berburu durian di Pulau Bangka akhir tahun lalu, Trubus mencicipi rambutan muda yang tak kalah legit dengan ratujaya. Istimewanya, warna matang bukan merah melainkan kuning pucat hampir putih. Sebab itulah masyarakat setempat menjulukinya rambutan uban. Sebagaimana ratujaya, uban pun nikmat dimakan muda. ‘Paling manis saat umurnya sekitar 70 hari,’ kata Sani, warga setempat.

Pantas uban menjadi kebanggaan masyarakat Pulau Timah itu. Tak hanya sekitar Bangka, pemasaran buah mencapai Riau, Batam, dan Singapura. Bahkan pesanan dari Singapura mengalir setiap musim berbuah tiba. Rupanya sebagian keturunan etnis Tionghoa di Negeri Singa ketagihan legitnya kerabat lengkeng itu. Sebagaimana ratujaya, daging muda uban pun renyah minim air.

Rambutan itu siap dipetik saat hijau rambutnya mulai kekuningan. Ketika matang-kulitnya menjadi kuning pucat dan rambut agak keputihan-kadar air bertambah sedangkan rasanya tetap manis. Itu tercapai pada umur 85-90 hari sejak pentil.

‘Menurut kakek saya, pohonnya sudah ada sejak dia masih kecil,’ cerita Sani. Kulit pohon induk banyak mengeluarkan tonjolan bekas titik tumbuh tunas, saking tuanya. Besar batang melebihi 2 pelukan orang dewasa. Turunannya, berupa bibit cangkokan, banyak ditanam warga sekitar. Sekarang uban tersebar di penjuru Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah. Sani memperkirakan, jumlah pohon uban lebih dari 500 batang. (A. Arie Raharjo)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img