Trubus.id— Sektor pertanian terus berkembang. Idealnya pengembangan bukan hanya pada sektor hulu, tapi juga di hilir. Tujuannya untuk keseimbangan kesejahteraan petani dan masyarakat.
Menurut Lala M. Kolopaking, P.hD., Ketua Prodi Pascasarjana Sosiologi Pedesaan, Institut Pertanian Bogor, terkait pangan alternatif, industri hilir porang menjadi produk pangan yang mesti dikembangkan.
Selain pangan, pengembangan porang bisa menjadi bahan baku kosmetik dan produk kesehatan. Porang prospektif. Komoditas itu juga mendapatkan banyak perhatian dari lintas sektor, tetapi belum sinergis.
Saat ini ada pendampingan agropreneur yang melibatkan mahasiswa untuk komoditas porang di kawasan kluster porang lintas kementerian. Ia menilai kegiatan itu bisa menjadi contoh.
“Saya bergembira karena anak muda bukan hanya menanam tetapi juga mendorong hilirisasi pasar pangan. Kopi juga komoditas berprospek bagus karena pertumbuhan anak muda makin banyak. Budaya minum kopi untuk mengumpul sehingga menambah nilai ekonomi,” jelasnya.
Sementara dari laut, komoditas yang potensial berkembang pada 2023 yakni rumput laut. Terutama untuk pengembangan rumput laut pada sektor pangan dan kesehatan. Hilirisasi memberikan nilai tambah berkaitan dengan nilai pendapatan nelayan dan reformulasi nilai pasok.
Tidak hanya menjual kering, tetapi ada pengolahan lebih lanjut dengan aneka jenis rumput laut. Pasar rumput laut bisa bersaing dengan Tiongkok. Udang pun masih bagus. Selama belum berhenti produksi, hasil panen terserap pasar.
“Saya memilih komoditas yang disebutkan itu karena pemanfaatan luas yakni untuk industri pangan, kosmetik, dan obatan-obatan,” paparnya.
Selain hilirisasi, perlu upaya lain untuk mendukung kesuksesan agribisnis dan menghadapi tantangan ke depan. Prof. Dr. Ir. Masyhuri, Ketua Laboratorium Agribisnis, Universitas Gadjah Mada, agar agribisnis menguntungkan mesti ada pengadaan infrastruktur yang baik seperti perbaikan irigasi dan jalan yang rusak.
“Hal itu berpengaruh pada distribusi,” kata Masyhuri.
Penerapan smart farming juga perlu untuk menjaga protokol kesehatan dan cocok untuk kaum milenial. Terkait permodalan ada program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang sudah masuk ke dunia pertanian. Dengan begitu para pelaku agribisnis bisa mengatasi tantangan.
