Trubus — Badan Meteorogi Jepang (Japan Meteorogical Agency atau JMA) merilis informasi, besok akan terjadi hujan badai. Serta-merta para petani menyiapkan segala perlengkapan untuk melindungi tanaman. Pengalaman saya selama 9 bulan magang di Jepang pada 1988, petani sangat patuh pada informasi dari JMA.
Petani yang tidak mengikuti informasi prakiraan cuaca, bisa jadi celaka. Tanaman rusak karena serbuan hujan badai, salju turun, atau angin kencang. Sebab prakiraan cuaca yang disampaikan JMA akurat sehingga bisa menjadi referensi bagi petani untuk melakukan tindakan antisipatif dengan tepat.
Efektif efisien
Apa yang dilakukan para petani Jepang itu bagian dari precision farming yang kini berkembang di mancanegara. Sesuai namanya precision = presisi = tepat, petani melakukan tindakan budidaya secara tepat berdasarkan informasi yang mereka terima. Istilah precision farming pertama kali saya kenal saat mengikuti acara Farm Progress Show, semacam Pekan Nasional Kelompok Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) di Amerika Serikat pada 2014.

Dengan precision farming, petani mengolah tanah, menanam, merawat, memanen tanaman secara presisi. Itu dilakukan dengan bantuan perangkat teknologi digital yang membantu petani mampu menghitung jarak tanam tepat, kebutuhan benih dan pupuk tepat, umur panen dan jumlah panen tepat. Itu dibarengi dengan penggunaan alat mesin pertanian yang serbapintar. Precision farming menjadikan produktivitas produk pertanian menjadi lebih tinggi, lebih berkualitas, dan biaya lebih efisien. Indonesia seyogyanya harus juga mengarah pada precision farming.
Mengapa kita harus mulai bergerak ke pertanian presisi? Mari simak data berikut. Ongkos produksi padi di Indonesia Rp4.079/kg. Ongkos produksi padi per kg di China Rp3.661; India Rp2.306; Thailand Rp2.291; dan Vietnam Rp1.619. Artinya jika dibandingkan dengan Vietnam misalnya, ongkos produksi padi kita lebih tinggi 2 kali. Dari nilai Rp4.079/kg itu sebanyak Rp1.380 (33,8%) untuk upah buruh lepas dan pekerja keluarga, biaya sewa lahan Rp1.719 (42,1%), sisanya biaya saprotan.
Pertanian presisi dapat mengatasi tingginya biaya produksi itu. Pertanian presisi diterapkan di hampir semua tahapan produksi. Pertama, benih. Pemilihan benih harus tepat lokasi, tepat kondisi iklim, tepat kondisi lingkungan. Peta lokasi kebanjiran dan kekeringan serta daerah endemis hama dan penyakit sudah diketahui oleh Badan Litbang Kementerian Pertanian sehingga memudahkan dalam membuat peta produksi dengan berbagai macam kebijakannya. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis perubahan musim. Ini yang dipakai petani untuk memutuskan pemilihan bibit yang tepat.
Kedua, pengolahan lahan. Semula karena ingin irit pada musim gadu—penanaman pada musim kemarau—petani hanya membabat jerami hasil panen dan langsung menanami sawah tanpa pengolahan lahan. Akibatnya produksi rendah, pada saat gadu hanya 4,5—5 ton per ha. Mestinya lahan diolah dengan cara dibajak seperti pada 10 teknik Supra Insus. Di antaranya pengolahan lahan sempurna dengan melakukan bajak 2 kali secara silang dan digaru.
Legowo
Ketiga, mengatur sistem pengairan. Sistem pengairan pada tanaman padi seharusnya tidak dengan cara penggenangan. Penggenangan bertujuan pertumbuhan rumput yang menjadi gulma, tetapi pertumbuhan tanaman padi juga tertekan. Lagipula boros. Sebaiknya gunakan sistem pengairan macak-macak seperti yang telah dilakukan pada SRI System Rice Intesification (SRI).
SRI menghemat air sekaligus bibit dengan hasil yang lebih tinggi. Penggunaan benih hemat karena satu lubang tanam cukup 1 bibit. Bibit dipindah tanam ke sawah dari pembibitan pada umur 7 hari saat akar belum memanjang sehingga tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. Akibatnya produksi menjadi optimal.
Keempat, cara tanam. Selama ini petani mengenal cara tandur (tanam mundur) dan tanju (tanam maju menggunakan caplak). Kini gunakanlah sistem legowo, disarankan untuk memilih legowo 2. Yakni 2 baris padi diselang 1 baris kosong dan seterusnya dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm dan longgarnya 25 cm. Pada musibah serangan wereng cokelat, padi dengan sistem legowo relatif aman. Itu karena kelembapan udara relatif kering. Tanpa legowo, kelembapan udara di sekitar menjadi tinggi yang menjadi kesukaan wereng.
Kelima, pemupukan tepat. Untuk memupuk tepat, petani harus melakukan analisis sampel tanah. Sekarang banyak laboratorium tanah sederhana yang mudah diakses. Dari hasil uji laboratorium akan diketahui unsur hara makro dan mikro yang terkandung dalam tanah. Informasi itu yang kemudian dibawa kepada industri pupuk untuk menghasilkan formula pupuk sesuai kebutuhan petani.
Listrik sekam
Keenam, penggunaan pestisida yang bijaksana. Pestisida digunakan hanya ketika serangan hama dan penyakit di atas ambang ekonomis. Misal pada serangan wereng, sudah ditemukan 3 wereng per batang. Cara lain yang lebih alami yakni dengan menerapkan teknologi refogia. Teknologi itu yakni menanam tanaman bunga warna-warni di galengan sawah sebagai rumah predator alami. Jenisnya seperti tembelakan dan bunga matahari.
Ketujuh, teknik panen. Teknik panen yang dilakukan sekarang biayanya mahal dan kehilangan hasil tinggi, sampai 9—10,5%. Padi hilang ketika batangnya dipanen dengan arit. Guncangan arit saja sudah bisa menyebabkan padi rontok. Belum lagi saat malai padi dipukul-pukul, ada gabah yang hilang karena terlempar keluar. Dengan mesin panen, kehilangan hasil hanya 2—3%.
Terakhir membentuk Badan Usaha Milik Petani (BUMP) untuk mengatasi masalah rendahnya kepemilikan lahan dan kecilnya porsi pendapatan petani. Dengan kepemilikan lahan 0,35 ha, dengan instrumen apa pun seperti menaikkan subsidi pupuk atau menaikkan harga beli masyarakat, kesejahteraan petani tetap belum tercapai. Selama ini petani menjual hasil panen berupa gabah dan langsung menerima pembayarannya.
Bandingkan dengan yang dilakukan petani di Thailand. Mereka mengolah gabah menjadi panas yang menggerakkan turbin listrik. Listrik dimanfaatkan sendiri dan dijual ke perusahaan listrik negara. Sekam diolah menjadi karbon; bekatul menjadi rice brand oil, ampasnya menjadi pangan sehat tinggi vitamin B. Di Vietnam menir diolah menjadi tepung untuk membuat mi, di China jerami diolah menjadi papan antiterbakar. Artinya petani tidak hanya mendapatkan uang dari pembayaran gabah.
BUMP sebuah model untuk menyejahterakan petani dengan dukungan awal berupa permodalan dan teknologi. Setiap 50—100 ribu ha perlu ada kawasan industri perberasan yang dilengkapi dengan dukungan mesin industri seperti di Thailand. Hal lain, asuransi Pertanian sangat bermanfaat bagi para petani di era perubahan iklim global.
Pemerintah banyak menunjang pertanian antara lain perbaikan saluran air yang rusak 52%, membangun bendungan sebanyak 60 buah selama 5 tahun, puluhan ribu embung, puluhan ribu alat mesin pertanian (pompa air, traktor, mesin tanam, mesin panen, pengering dan rice milling unit (RMU). Menyongsong 2045 Indonesia akan menjadi Lumbung Pangan Dunia. Persiapannya harus dimulai dari sekarang.***
*) Winarno Tohir, Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional
