Sesi Bincang Literasi dalam rangkaian Festival Literasi Jakarta 2025 menghadirkan diskusi bertajuk “Influencer Buku: Bersuara di Tengah Kebisingan Konten”. Menghadirkan dua narasumber yaitu Hannah Al Rashid dan Mochamad Fajar Nur , diskusi ini mengupas peran strategis influencer buku dalam ekosistem literasi serta pentingnya membaca sebagai bentuk aktivisme di era digital.
Fenomena influencer buku mulai berkembang pesat sejak masa pandemi. Para narasumber mengungkapkan, kehadiran mereka tidak sekadar tren, tetapi memberi dampak nyata terhadap perilaku membaca masyarakat. Sebuah penelitian di Rumania tahun 2004 menunjukkan adanya korelasi kuat antara aktivitas promosi influencer dengan peningkatan penjualan buku. “Saat influencer benar-benar berinteraksi dengan audiensnya, aktivitas tersebut berbanding lurus dengan pembelian buku,” ungkap Mochamad Fajar Nur dalam sesi diskusi
Hannah Al Rashid kemudian membawa diskusi ke dimensi yang lebih dalam. Membaca sebagai bentuk aktivisme dan perlawanan terhadap arus informasi instan. “Orang-orang sering takut ketika kita mulai mencari informasi. Padahal, kita bisa belajar banyak dari buku,” ujarnya. Menurutnya, buku bersifat politis, dan membaca dapat menjadi jembatan yang menghubungkan generasi muda—terutama Gen Z—dengan sejarah dan peristiwa penting, baik di Indonesia maupun dunia. “Membaca first-hand accounts menjadi sangat penting agar generasi sekarang tidak kehilangan konteks sejarah,” tambahnya.
Ia juga menyoroti pentingnya literasi dalam membangun solidaritas komunitas. Aktivitas membaca dapat menyatukan individu dengan latar belakang dan kepedulian sosial yang beragam. “Kalau kita membuat aktivasi membaca buku, berarti kita semua bersatu karena kecintaan terhadap membaca” kata Hannah. Dalam konteks isu sosial seperti kekerasan dan keadilan, buku dapat menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan secara lebih mendalam dan kolaboratif.
Di tengah banjir informasi digital, Hannah mengingatkan bahwa buku menawarkan kedalaman yang tidak tergantikan. Internet dan artikel daring sering kali hanya menyajikan ringkasan atau informasi permukaan. Menurutnya, proses membaca harus diikuti dengan menulis dan berdiskusi agar pengetahuan benar-benar terinternalisasi.
Dira kaimel
