Tuesday, January 27, 2026

Inovasi Mesin Fermentasi Bawang Hitam Tingkatkan Produktivitas UKM

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id-Produksi bawang hitam atau black garlic dikenal membutuhkan waktu dan ketelitian tinggi agar menghasilkan mutu yang baik. Selama ini, banyak pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) masih mengandalkan alat penanak nasi (rice cooker) sebagai media fermentasi. Meskipun praktis, metode tersebut memiliki banyak keterbatasan, seperti suhu yang tidak bisa diatur, kapasitas kecil, serta hasil fermentasi yang tidak merata karena posisi bawang yang bertumpuk di dalam tabung alat.

Hal serupa dialami oleh Meridianto, pelaku UMKM asal Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur. Ia menggunakan rice cooker dengan kapasitas hanya 5 liter, yang hanya bisa menampung sekitar 2 kilogram bawang putih dalam sekali proses. Waktu yang dibutuhkan pun cukup lama, yakni sekitar 15 hari untuk menghasilkan bawang hitam dengan kualitas yang sesuai standar. Tak hanya itu, ia juga harus rutin membalik bawang agar tidak gosong, karena suhu dalam rice cooker tidak stabil.

Namun, kondisi tersebut mulai berubah ketika Meridianto mendapatkan bantuan mesin fermentasi inovatif bernama Camion. Mesin ini merupakan hasil karya lima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya, yakni Andy Pratama Nugraha, Nandya Nadhalia, Melati Ayuning Putri, Sang Norma Lintang Asmara, dan Nur Rahmat Khairi. Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan Teknologi (PKM-T), dengan tujuan memberikan solusi fermentasi bawang hitam yang efisien, akurat, dan berkapasitas lebih besar.

Menurut Dr. Sri Purwiyanti, S.T., M.T., dosen Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Lampung, proses fermentasi bawang hitam yang optimal membutuhkan tahapan suhu yang bertingkat. Tahapan tersebut dimulai dari suhu 50—60°C selama 10 jam, lalu dinaikkan menjadi 70°C selama 30 jam, dan terakhir 80°C selama 200 jam. Total waktu yang dibutuhkan adalah 240 jam atau sekitar 10 hari. Pengaturan suhu bertahap inilah yang mampu menghasilkan bawang hitam dengan tekstur lembut, rasa manis alami, dan warna hitam yang merata.

Mesin Camion dirancang dengan mempertimbangkan seluruh kebutuhan tersebut. Tidak hanya mampu mengatur suhu dengan presisi, Camion juga memiliki kapasitas produksi yang jauh lebih besar dibandingkan rice cooker, yakni mencapai 12 kilogram bawang putih dalam satu siklus fermentasi. Sejak menggunakan mesin ini, Meridianto mengaku pendapatan UKM yang ia kelola, Wikischool, meningkat signifikan. Rata-rata penerimaan usahanya naik sebesar 50%, sementara pendapatan bulanan melonjak hingga 92,98%.

Selain Universitas Brawijaya, inovasi serupa juga hadir dari Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Tim PKM-T Unesa yang terdiri dari Mohammad Ilham Fahmi, Ahmad Ali Ma’sum, Fajar Achamd Batin, Hilman Heno Cahyono, dan Muhammad Ihza Khalifa Pradana, mengembangkan mesin fermentasi bawang hitam bernama Gation. Mesin ini dilengkapi dengan sistem kontrol suhu dan kelembapan otomatis yang lebih canggih.

Menurut dosen pembimbing mereka, Agung Prijo Budijono, S.T., M.T., Gation menggunakan sensor suhu dan kelembapan DHT22, yang mampu mengukur kondisi lingkungan secara akurat dan cepat. Sensor ini dilengkapi dengan mekanisme kontrol api otomatis: ketika suhu dalam mesin mencapai batas maksimal 70°C, intensitas panas akan dikurangi secara otomatis agar tidak merusak proses fermentasi. Sistem ini memungkinkan fermentasi berjalan stabil dan konsisten.

Sensor DHT22 sendiri merupakan perangkat elektronik berukuran kecil, dengan kemampuan transmisi sinyal digital hingga 20 meter. Sensor ini banyak digunakan bersama Arduino, platform open source yang umum digunakan dalam pembuatan sistem kontrol cerdas berbasis mikrokontroler.

Baik Camion maupun Gation membuktikan bahwa inovasi dari kalangan mahasiswa mampu memberikan dampak nyata bagi sektor UMKM, khususnya dalam hal efisiensi produksi, peningkatan mutu produk, dan daya saing di pasar. Dengan dukungan teknologi tepat guna, para pelaku usaha kini tidak lagi harus bergantung pada alat sederhana seperti rice cooker yang terbatas. Sebaliknya, mereka bisa melangkah lebih jauh, menjangkau pasar yang lebih luas, bahkan membuka peluang ekspor untuk produk bawang hitam yang memiliki nilai jual tinggi dan manfaat kesehatan yang besar.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img