Trubus.id—Memanen pohon sawit dengan pokok yang cukup tinggi memiliki risiko kesehatan. Pemanenan pohon 2—5 meter lebih mudah daripada pohon dengan ketinggian lebih dari 5 meter.
Maka tim peneliti dari Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB University, Dr. Sam Herodian, Dr. Desrial, dan Dr. Agus Sutejo berinovasi membuat mesin pemanen kelapa sawit Electric Bunch Harvester (e-BHAR ).
Mesin e-BHAR itu untuk membantu petani sawit menanen tandan buah segar (TBS) dengan pohon berpokok tinggi. “Semakin lama orang tidak mau bekerja lagi dengan risiko yang terlalu tinggi. Memanen sawit yang lebih dari 15 meter itu mulai kesulitan,’’ kata ketua tim e-BHAR Sam Herodian pada IPB TV.
“Jika terkena benturan karena jatuh dari ketinggian tertentu itu sawit akan memar. Kandungan asam lemak akan meningkat dan lambat pengolahannya,” kata Sam. Manfaat lain untuk mencegah brondolan dan jatuh berserakan.
Mekanisme pemanenan TBS yakni dengan mengangkat mesin panen menggunakan tangga yang mencengkram pohon agar tetap stabil. Perancangan ruang kemudi mesin itu menggunakan sistem Rapid Upper Limb Assessment (Rula). Tujuannya untuk meminimalisir risiko gangguan kesehatan pada pemanen.
Komponen utama kendaraan agar dapat berfungsi terdiri dari motor listrik, kontroler motor listrik, baterai, rantai spoket, sasis, dan roda kendaraan. Desain sasis menggunaan analisis FEA. Sementara perancangan ruang kemudi dengan Rula mendapat skor akhir dengan nilai 3.
Selain itu, e-BHAR telah melalui pengujian getaran dan kebisingan pada ruang kemudi dan masih dalam kategori batas aman. Sam menuturkan e-BHAR itu ramah lingkungan karena menggunakan listrik. E-BHAR juga dapat menangkap sawit di atas sehingga tidak ada brondolan.
“Membuat pekerja lebih nyaman dan bagi perusahaan lebih menguntungkan,” katanya.
Penangkap buah sawit terdiri dari ring penangkap TBS untuk menahan benturan yang dilengkapi dengan pegas tekan. Kecepatan mesin itu 8,62 meter per detik dengan kecepatan aktual 7,19 meter per detik.
Mesin dirancang dengan menggunakan roda pencengkram menggunakan besi hollow ukuran 40 x 20 mm. Proses pembuka secara vertikal dan horizontal pada pencengkram mengunakan linier aktuator. Tegangan geser dan displacement dari dudukan penjepit yang dipasang pada work platform.
Belok kendararaan dengan menggunakan bantuan rem dengan radius putar 8,6 meter dan dapat berputar di tempat. Kapasitas baterai 132 Ah, baterai manajemen sistem sehingga dapat mengatur arus maksimal dan monitoring baterai. Konsumsi baterai yakni 37,05 Ah. Menurut pengujian kendaraan bisa beroperasi pada 3,56 jam.
“Ini baru sampai pada prototype pertama, sekarang mengalami pengujian lapang, dan setelah itu akan diujicobakan lagi dan mudah-mudahan nanti diuji coba pada skala yang sesungguhnya . Baru tahun depan diproduksi,” kata SAM.
Ia berharap mesin ini dapat diadopsi baik oleh perkebunan besar atau perkebunan rakyat. Sehinga bisa meningkatkan kecepatan dan kualitas produk sawit.
Mesin e-BHAR dapat digunakan bersamaan dengan mesin Fastrex untuk menciptakan work platform pemanen TBS yang lebih optimal. Inovasi ini berhasil didaftarKan empat buah paten masing-masing satu paten biasa dan 3 lainnya paten sederhana.
