Trubus.id-Muhadi menuai 6 kuintal gabah kering basah di lahan seluas 1.000 m². Panen itu ia peroleh saat musim tanam kedua, yakni Maret.
Biasanya pada musim tanam kedua petani tidak memperoleh hasil panen sebesar itu. Otomatis jumlah panen yang diperoleh pada musim tanam pertama jauh lebih besar.
Muhadi menuai 7 kuintal gabah kering basah pada musim tanam kedua. Musim tanam kedua biasanya antara November—Desember.
Petani padi di Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, itu konsisten menanam padi dengan produktivitas tanaman yang tinggi. Bandingkan dengan petani lain.
Dengan luasan yang sama petani lain hanya menuai 4—5 kuintal gabah kering basah. Kuncinya Muhadi membudidayakan padi dengan sistem pertanian organik.
Ia bersama beberapa petani lain membangun kelompok tani organik dan memperoleh sertifikasi organik sejak 2010. “Kunci panen optimal yaitu dengan memanfaatkan pupuk organik,” kata Muhadi.
Ia dan petani organik lain menggunakan pupuk organik granul (POG) sebagai asupan nutrisi tanaman padi. Mereka meramu POG sendiri.
Muhadi mencampurkan kotoran ternak, dolomit, dan bakteri Nitrobacter sp. dari akar tanaman putri malu. Selanjutnya ia melakukan fermentasi semua bahan selama 3—4 bulan.
Hasil fermentasi itu kemudian diolah dalam bentuk granul. Pemupukan dasar sebanyak 80—120 kg per 1.000 m².
Pemupukan selanjutnya saat tanaman berumur 15 hari setelah tanam (HST) dan 30—35 HST. Jumlah pupuk yang diberikan masing-masing sebanyak 80 kg.
Total kebutuhan POG selama satu musim tanam sekitar 320 kg per 1.000 m². Menurut Muhadi pertumbuhan padi menggunakan POG memang lebih lambat dibandingkan dengan padi yang mendapat pupuk anorganik.
Dua bulan setelah tanam (BST), tanaman yang mendapat pupuk anorganik lebih tinggi. Namun, baik padi yang mendapat pupuk organik maupun anorganik memiliki tinggi yang sama saat tanaman 3 BST.
Selain itu tanaman padi organik memiliki daun lebih hijau. Muhadi dan petani organik lain mempertahankan sistem pertanian organik lantaran menghasilkan tanaman yang lebih sehat dan menghasilkan padi berkualitas.
Produk turunannya menghasilkan beras organik yang berkualitas. Dari produk organik berkualitas itu otomatis meningkatkan nilai jual.
Setidaknya selisih harga jual padi kering basah organik dengan anorganik sebesar Rp3.000 per kg. Apabila harga padi kering basah anorganik Rp5.000 per kg, maka harga gabah kering basah organik Rp8.000 per kg.
Apabila dikalikan dalam jumlah 6 kuintal berarti terdapat selisih pendapatan lebih tinggi sebesar Rp1,8 juta per sekali panen
