Trubus.id—Hingga 1970 masyarakat mengenal durian sebagai pohon yang tumbuh di pekarangan dan bersosok tinggi. Lazimnya perbanyakan tanaman dengan generatif. Saat itu belum ada yang mengebunkan durian secara intensif yang memerhatikan jenis, pemupukan, pemangkasan, dan penyiraman.
Oleh karena itu, pada dekade berikutnya masyarakat “kaget” ketika pohon durian dibudidayakan, karena bersosok pendek dan mampu berbuah. Berikut perkembangan durian di tanah air.
1980-an
Mulai bermunculan kebun durian—hasil budidaya—dengan jarak tanam teratur antara lain milik Ali Wardhana di Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Bernard Sadhani juga mengebunkan durian di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Saat itu para pekebun memilih jenis monthong (durian introduksi dari Thailand) dan durian lokal bernama matahari. Menurut Reza Tirtawinata pada era penguasaan budi daya durian belum kuat. Sistem pemupukan serta penanganan hama dan penyakit belum dikuasai dengan baik. Banyak pekebun yang akhirnya gagal mendapat laba maksimal.
1990-an
Budidaya durian secara intensif di Cagak, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Haryanto Dhanutirto mengembangkan durian monthong, hepe, dan matahari. Budidaya durian berhasil, panen berkelanjutan.
Namun, pada tahun ketiga mulai terjadi pencurian. Lahan budidaya 27 hektare dan tanpa pagar. “Habis berapa miliar jika memagar 27 hektare?” kata Reza. Pencurian dan sumber daya manusia yang menguasai durian menjadi permasalahan pada tahap ini.
2000-an
Mulai introduksi durian mancenegara seperti kanyao dan musang king. Namun, saat itu belum ada histeria durian musang kini seperti saat ini.
2012
Importir mendatangkan daging buah durian musang king dan dipasarkan dengan harga fantastis, Rp500.000 per kg. Masyarakat heboh dengan harga jual yang amat tinggi. Durian introduksi musang king pun menjadi buah bibir.
2014—2018
Masyarakat mulai mengembangkan durian musang king dan ochee. Ada yang menanam bibit langsung, beberapa petani di Brongkol, Kabupaten Semarang, menyambung pucuk (top working) dengan durian lokal. Tiga tahun kemudian, petani memanen hasil sambung pucuk.
2021—2022
Para pekebun yang menanam musang king, ochee, dan bawor memanen buah secara kontinu. Mereka menerapkan sistem inden sehingga ketika panen, buah lagsung terserap pasar. Harga jual buah fantastis, hingga Rp900.000 per kg kupas.***
