Wednesday, August 10, 2022

Ismail Saleh Keajaiban Sembuh Kanker Otak

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Hasil pemeriksaan Hirofumi Hiyama, MD, Ph.D dan Kintomo Takakura MD, Ph.D menunjukkan, tumor yang disebut cerebral lymphoma telah menyebar di otak. Dengan bantuan mahkotadewa, kanker ganas itu dapat dijinakkan. “Sebuah keajaiban,” ujar dokter di Singapura yang memeriksa kesehatan penggemar bonsai itu.

Setahun sebelumnya, Ismail Saleh menjalani pemeriksaan berkali-kali di beberapa rumah sakit di Jakarta. Pada awal Maret 2004, misalnya, pria 79 tahun itu diperiksa dengan Magnetik Resonance Imaging (MRI) di Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk. MRI berfungsi untuk mendeteksi posisi dan ukuran tumor di otak. Mantan kepala Kantor Berita Antara itu divonis mengidap kanker otak pada 10 April 2004.

asil MRI menunjukkan, ada pembengkakan otak yang menjurus ke arah tumor jenis lymphoma malignant. Semula informasi soal penyakit itu disimpan rapatrapat oleh keluarganya. Sebab, khawatir mempengaruhi emosi Ismail. Ketika diberi tahu dirinya terkena kanker otak, Ismail tak pernah menyangka penyakit maut itu menghampiri dirinya.

“Saya tidak habis pikir, apa sebabnya ada tumor nyelonong masuk ke otak. Padahal saya selalu aktif, gembira, suka humor, tidak stres, dan sering menulis artikel di berbagai media massa,” ujar mantan Jaksa Agung itu. Mantan Jaksa Tentara di Pengadilan Manado itu menuturkan, “Sebagian orang mungkin terkecoh melihat penampilan saya yang kelihatannya segar, tegar, dan penuh humor.”

Sumbat telinga

Penghujung 2004 kondisi kesehatannya tak kunjung membaik. Alumnus Perguruan Tinggi Hukum Militer itu mengalami gangguan keseimbangan badan, fokus komunikasi, dan pita suara. Dampaknya ia kerap terjatuh dari tempat tidur dan kamar mandi. Bangun sendiri pun tak mampu. Itulah sebabnya Ismail Saleh segera dibawa ke rumah sakit Gleneagles di Singapura.

Diagnosis dokter di sana menyebutkan, Ismail Saleh mempunyai masalah disorientasi, confusion, sakit kepala, serta ketidakmampuan untuk berdiri dan duduk. Salah satu bentuk gangguan confusion itu adalah ”Saya pernah mengajak istri terjun dari jendela kamar 610 saat dirawat di rumah sakit. Kemudian sewaktu gosok gigi pada pagi hari saya mengusulkan untuk m e n y e l e n g g a r a k a n kumur nasional,” ujarnya mengenang.

Tak lama berselang ia diterbangkan ke negeri Sakura. Tim dokter tidak melakukan biopsi karena usia Ismail waktu itu mencapai 78 tahun. Apalagi letak tumor sangat membahayakan bagi pasien. Dokter hanya melanjutkan pemberian obat dan menyarankan penyinaran radio terapi di Indonesia. Sepuluh hari dirawat membuatnya bosan.

Untuk melampiaskan kebosanan kadang-kadang tablet dan kapsul-kapsul itu tak diminum. Obat itu malah disembunyikan di lubang telinga boneka yang ada di kamar. Pada kesempatan lain, ”Tablet-tablet itu saya bungkus dengan kertas. Kemudian saya lempar seperti bola kepada para perawat di rumah sakit Tokyo,” ujarnya. Prof. Yuko Ono, MD ahli neuroradiologi mengizinkannya pulang untuk dirawat di salah satu rumah sakit di Jakarta.

23 kali

Harapan kesembuhan kini digantungkan pada radioterapi. Di sebuah rumah sakit di Jakarta, Ismail menjalani 23 kali radioterapi sejak Agustus—Desember 2004. ”Menurut beberapa orang radioterapi satu kali saja kulitnya sudah melepuh, sedangkan kulit saya yang kena radioterapi 23 kali tidak apa-apa,” ujarnya. Radioterapi itu perlahan mengembalikan memorinya yang hilang.

Tim dokter memutuskan kemoterapi untuk mempercepat kesembuhan. Saran itu pada awalnya ditolaknya. ”Pengobatan kemoterapi terdengar mengerikan,” katanya. Berkat bujukan istri tercinta, Ismail menerima jalan pengobatan itu. Pada sebuah malam yang hening ia terbangun dan melihat istrinya duduk di tempat tidur. Sang istri menangis seraya berkata agar Ismail pasrah, mengikuti nasehat dokter, dan kooperatif menjalani pemeriksaan di rumah sakit.

”Saya termasuk orang yang tidak mudah menangis. Tapi malam itu saya terharu dan ikut menangis. Betapa saya menyulitkan hidup istri, para sahabat, dan anak-anak,” katanya. Maka ia menerima kemoterapi sebagai penyembuhan. Tiga kapsul Temodal masing-masing 100 mg ditelan pada pagi hari selama lima hari berturutturut. Efek sampingnya memperpanjang lara penggemar suiseki itu. Ia sakit kepala, sulit tidur, sulit buang air besar, mual, dan muntah.

Mukjizat

S e c e r c a h harapan itu muncul ketika kerabatnya menemukan brosur tentang mahkotadewa. Brosur itu menjelaskan khasiat Phaleria macrocarpa menumpas sel kanker. Mahkotadewa instan pun dikonsumsi rutin setiap hari dengan dosis 1 sendok makan plus madu, Frekuensi konsumsi per hari 3 kali. Mahkotadewa instan jadi pilihan karena praktis. Tinggal seduh, aduk, dan minum, tanpa harus merebus dulu.

Meski dokter melarang, Ismail tetap meminum mahkotadewa secara sembunyi-sembunyi. Obat dari dokter tetap diminum, biasanya sejam lebih awal. Semangat hidupnya yang semula redup, mulai bergairah. Sebulan rutin memadukan obat medis dan mahkotadewa, ia sudah dapat berjalan meski bertongkat. “Bangkitlah semangat hidup saya dari yang tadinya pakai kursi roda dan walker sampai bisa jalan sendiri,” kata Ismail.

Diapers—lazim dipakai bayi untuk menampung urine—yang semula dikenakan Ismail, juga ditanggalkan. Semangat hidupnya kian menggelora ketika rekannya Ny Herawati Diah dan Ny Mashud—istri almarhum Mashud, mantan kepala LKBN Antara— membesuknya. Umur Ny Diah mendekati 90 tahun dan aktif berolahraga. Ismail jelas jauh lebih muda.

Setelah kembali ke rumah dari rumah sakit, Ismail mengkonsumsi rebusan 7 iris cangkang mahkotadewa kering, rimpang temulawak, rimpang temuputih, dan pegagan, semua sudah kering masing-masing diambil 1 sendok makan. Bahan itu direbus dengan 5 gelas air hingga mendidih dan tersisa 3 gelas yang dikonsumsi pada pagi, siang, dan malam. Pada 7 Maret 2005, Ismail kembali diperiksa dengan MRI. Dr. Jacob Pandelaki, dokter spesialis radiologi, menyatakan penurunan choline 232 dibandingkan pemeriksaan 7 Januari 2005.

Menurut ahli bedah saraf dr Eko, penurunan choline salah satu tolak ukur kesembuhan penderita kanker otak. Tim Dokter RSCM melalui Dr. Teguh Ranakusuma menyatakan, kesembuhan Ismail dari kanker otak merupakan mukjizat.

begitu pula tim dokter Singapura menggunakan istilah miracle alias keajaiban. Jarang pasien penderita tumor otak bertahan lama. Dokter Eko mengatakan, ”Saya setuju penggunaan herbal untuk menangani kanker. Sebab, upaya mengatasi kanker tak dapat 100% mengandalkan obat medis. Toh, beberapa obat medis juga diperoleh dari ekstraksi herbal,” katanya.

Rahasia keperkasaan mahkotadewa menggempur sel kanker terkuak melalui riset Prof Dr Akio Mimura. Guru besar Universitas Yamanashi Jepang itu sukses mengidentifi kasi senyawa aktif antikanker dalam mahkotadewa. Senyawa itu menekan pertumbuhan sel kanker lantaran menginduksi apoptosis. Apoptosis adalah program aktif kematian sel normal yang teratur.

Pada penderita kanker, sel-sel tumbuh dan tak pernah mati untuk memperbanyak diri. Nah, mahkotadewa dapat mengembalikan sifat apoptosis sehingga sel kanker dengan sukarela melakukan bunuh diri. Dampaknya sel kanker perlahan hilang dan penderitanya pun sembuh dari penyakit maut itu. (Sardi Duryatmo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img