Thursday, May 7, 2026

VCO & Buah Merah Berpadu Agar Lebih Efektif

Rekomendasi
- Advertisement -

Pernyataan Prof Dr Sumali Wiryowidagdo dalam majalah Trubus edisi Oktober 2005 itu terus terbayang di benak. Musababnya, prinsip menggabungkan beberapa herbal agar lebih efektif dalam mengobati penyakit sudah dilakukan sejak dulu.

Bahkan Pusat Studi Bahan Alam, Departemen Farmasi FMIPA, UI, yang digawangi Prof Sumali dan tim pun meluncurkan sebuah formulasi teh celup mengandung 4 jenis herbal. Paduan daun the Camelia sinensis, pare Momordica charantia, Gymnema silvestre, dan mengkudu Morenda citrifolia terbukti lebih efektif menurunkan kadar gula dibanding glibenklamid.

Lebih efektif

Secara tradisional, herbal-herbal itu telah lama dimanfaatkan dalam pengendalian diabetes mellitus. Walaupun sama-sama menurunkan kadar gula darah, mekanisme kerja setiap herbal berbeda. G. silvestre diduga kuat meningkatkan asupan dan penggunaan glukosa, meningkatkan pelepasan insulin melalui permeabilitas sel, meningkatkan jumlah sel beta, dan menstimulir fungsi sel beta.

Pare yang mengandung senyawa aktif charantin, vicine, dan polipeptidap—protein mirip insulin—meningkatkan sekresi insulin, asupan glukosa jaringan, sintesis glikogen otot hati, oksidasi glukosa, dan menurunkan glukoneogenesis hati. Mengkudu memperlambat absopsi glukosa, sedangkan the berfungsi mencegah komplikasi dan disfungsi jaringan dan organ penderita.

Paduan itu jelas lebih baik dalam menurunkan kadar gula darah ketimbang glibenklamid. Yang disebut terakhir adalah obat diabetes golongan sulfonilurea dengan mekanisme, merangsang keluarnya insulin dari sel beta pankreas.

Filosofi serupa mendasari pembuatan pandanus cocos oil (PCO). Pada kasus diabetes, PCO merupakan gabungan 3 kekuatan pengendali kadar gula darah. Yaitu, inhibitor á-glukosidase dan tokoferol asal minyak buah merah serta asam lemak jenuh rantai sedang dari virgin coconut oil (VCO).

Keunggulan PCO

Inhibitor á-glukosidase berperan memperlambat kecepatan dekomposisi karbohidrat menjadi glukosa. Sedangkan asam lemak jenuh rantai sedang mengaktifk an pankreas sehingga produksi insulin meningkat. Efek utama tokoferol—vitamin E—berkaitan dengan aktivitas antioksidan lipofi lik-nya. Ini berpengaruh terhadap glikasi protein, oksidasi lipida, sensitivitas dan sekresi insulin, serta metabolisme glukosa non-oksidatif.

Gabungan ketiga mekanisme itulah yang membuat PCO lebih baik dalam mengendalikan gula darah dibandingkan minyak buah merah atau VCO saja. Kandungan nutrisi dan senyawa aktif PCO lebih lengkap. Sehingga, diharapkan lebih pas dalam mengatasi multipenyakit.

Misal, penderita kanker yang disertai hipertensi, gangguan pencernaan, dan diabetes. Dalam kasus seperti itu senyawas enyawa ant i oksidan—ß-karoten, tokoferol, vitamin C, dan fl avonoid; steroid; dan triterpenoid dalam PCO membantu mengatasi kanker. Sedangkan asam lemak jenuh rantai sedang, asam lemak, tak jenuh, mineral (Ca, Fe, P, Na, K, Zn), dan inhibitor á-glikosidase-nya membantu mengatasi penyakit ikutan.

Kasus lain, penderita diabetes dengan komplikasi hipertensi, gangguan jantung, dan mata. Di sini inhibitor á-glikosidase, tokoferol, dan asam lemak jenuh rantai sedang dalam PCO membantu mengontrol kadar gula dalam batas normal dan stabil. Sementara senyawasenyawa antioksidan, steroid, triterpenoid, asam lemak tak jenuh, dan mineral membantu mengatasi penyakitpenyakit lain akibat komplikasi diabetes.

Bagi orang sehat, PCO bermanfaat sebagai suplemen untuk menjaga kebugaran dan stamina tubuh. Senyawa antioksidan, steroid, triterpenoid, asam lemak tak jenuh, dan mineral mencegah kanker serta meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan infeksi mikroba patogen seperti virus, bakteri, dan cendawan. Menjaga kadar kolesterol darah dalam batas normal sehingga menurunkan risiko jantung, diabetes, dan mencegah osteoporosis.

Contoh di dunia industri

Pencampuran minyak di bidang pangan dan farmasi lazim dilakukan untuk mendapatkan produk dengan sifat-sifat unggul secara fi sika, kimia, biologis, toksisitas, dan farmakologis dibandingkan minyak penyusunnya. Penelitian SC Nalur dari Amerika Serikat pada 2001 yang berjudul Oil Blend Composition mengungkap campuran baru berbagai minyak sayur seperti minyak sawit dan minyak kelapa untuk mendapatkan perpaduan minyak dengan sifat-sifat lebih baik untuk digunakan dalam industri pembuatan permen dan cokelat.

Penelitian H Ueck dari Jerman pada 2004 berjudul Phramaceutical Composition Th at Contains Eucalyptus and Orange Oil mengungkap komposisi minyak eucalyptus dan minyak jeruk untuk mengatasi penyakit-penyakit saluran pencernaan seperti bronkitis akibat mikroorganisme. Campuran dengan perbandingan 2:1 memiliki aktivitas lebih baik daripada plasebo dalam uji klinis dan sebanding dengan pengobatan menggunakan antibiotika.

Efek serupa terjadi bila minyak zaitun Olea europea dan minyak parsley Petroselinum sativum dicampur dengan perbandingan 1:7. Hasilnya cocok untuk mengobati halitosis—pernafasan berbau busuk. Campuran itu digunakan dalam memproduksi permen karet, pasta gigi, dan obat kumur.

Kasus VCO

VCO dan komponen-komponennya pun kerap dicampur dengan minyak lain untuk mendapatkan campuran minyak dengan sifat lebih unggul. Contohnya, Abbot Lab—produsen formula bayi—menambahkan campuran 35—55% HOSO (high oliec saffl ower oil), 20—40% minyak kedele, dan 20—45% minyak kelapa dalam salah satu produknya.

Minyak dara yang dicampur dengan 5% minyak bunga matahari dan 5% minyak zaitun terbukti menurunkan kadar kolesterol darah dari 370 mg/ dl menjadi 140—240 mg/dl. VCO mereduksi gula darah dari 370 mg/dl menjadi 170—270 mg/dl. Jadi, ada paradigma mencampur berbagai herbal untuk mendapat herbal baru dengan khasiat lebih tinggi. (Dr Ir M Ahkam Subroto, M App.Sc, Ahli Peneliti Utama pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)


Artikel Terbaru

Kecipir Berpotensi Jadi Bahan Pakan Gurami, Kecernaan Protein Tembus 70%

Trubus.id—Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Deisi Heptarina, bersama tim mengembangkan formulasi pakan ikan gurami (Osphronemus goramy) berbasis...

More Articles Like This