Friday, August 19, 2022

Itik Jantan: Dulu Dibuang, Kini Disayang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Firaun ketakutan mendengar terawangan seorang peramal. Ia ditakdirkan mati dibunuh seorang lelaki dari Bani Israil. Makanya sebelum bayi-bayi itu tumbuh jadi lelaki dewasa, mereka lebih dulu disingkirkan. Para peternak itik ketakutan DOD (day old duck, anakan itik berumur 1 hari) yang dihasilkan dalam sekali penetasan didominasi jantan.

Harap mahfum, harga DOD jantan bak bumi dan langit dengan DOD betina. Pada 2005—sekadar menyebut contoh, di sentra penetasan di Boyolali harga DOD betina Rp2.500 per ekor; jantan hanya Rp350 per ekor. Di sentra penetasan di Mojosari juga setali tiga uang. Pada tahun 2000 nilai jual DOD betina Rp3.000 per ekor; jantan Rp 750 per ekor. Pantas menetaskan telur jantan berarti kerugian buat peternak.

Jantan sedikit

DOD betina menjadi incaran peternak yang membesarkan itik satu hari itu selama 5 bulan menjadi betina calon petelur. Nasib sebaliknya pada DOD jantan. Kebutuhan jantan untuk industri itik petelur cuma 2:100. Bahkan tanpa pejantan sekali pun peternakan itik petelur tetap produktif. Toh telur tak perlu dibuahi karena langsung dijual. “Pejantan tidak diperlukan jika telur tidak untuk ditetaskan,” ujar Sulardi, peternak itik petelur di Karanganyar, Jawa Tengah.

Kebutuhan jantan untuk industri penetasan telur lebih mutlak. Setiap 10 betina membutuhkan 1 jantan supaya telur terbuahi dan menghasilkan DOD baru. Namun, jumlah industri penetasan lebih sedikit ketimbang petelur. Terbukti dari data ternak itik 2007, populasi itik jantan diperkirakan hanya 14,66% sedangkan betina 85,34%. Artinya, kebutuhan itik jantan sedikit.

Namun, Itu cerita hingga 2007. Menjamurnya rumah makan penyedia itik muda sejak 2008 jadi penyelamat nasib DOD jantan. Sekadar menyebut contoh, di kawasan Jakarta Selatan dan Jakarta Barat banyak bermunculan rumah makan penyedia itik jantan muda.

Permintaan dari rumah-rumah makan itu mendorong munculnya peternak- peternak itik ABG. Sebut saja Kuadi, di Gunungpati, Semarang, yang baru mengusahakan itik jantan muda itu sejak Oktober 2009. Ia mengambil pasokan DOD jantan dari penyedia anak itik di Semarang. Setelah dirawat selama 2 bulan, itik jantan muda itu siap jual sebagai pedaging.

Euforia itu ujung-ujungnya berimbas pada permintaan DOD. Setidaknya, itulah yang dirasakan Suhartati di Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. “Dulu DOD betina mendominasi permintaan hingga lebih dari 70%. Sekarang permintaan jantan dan betina seimbang 40:60 sampai 50:50,” tutur ketua Kelompok Tani Ternak Bebek Lestari Jaya itu. Kini Suhartati menerima permintaan 3.000—4.000 DOD jantan per minggu. Dua tahun lalu paling 1.200 ekor per minggu.

Berimbang

Cerita serupa dialami Suyono—di desa sama. Selama 30 tahun menjadi peternak penetas telur itik, baru sekitar 2 tahun terakhir ia merasakan nikmatnya menghasilkan DOD jantan. Musababnya selisih harga DOD jantan dan betina kini tinggal Rp1.000—Rp1.500 per ekor. Sementara permintaan—seperti kata Suhartati—nyaris imbang. Malah pemain lain menyebutkan permintaan DOD jantan melonjak tajam sehingga mereka kelimpungan memenuhi permintaan. “Tiap daerah saya batasi hanya bisa membeli 5.000 DOD per sekali kirim,” ujar Tatang Nurhasan di Pamanukan, Jawa Barat, yang melayani permintaan dari peternak itik pedaging di Jabodetabek, Pekalongan, Semarang, dan Cilacap—tiga terakhir di Jawa Tengah, serta Palembang, Sumatera Selatan. Padahal permintaan dari peternak di Jakarta dan Bogor saja masing-masing 10.000 DOD jantan per minggu.

Untuk memenuhi seluruh permintaan, alumnus Fakultas Teknik Elektro Universitas Negeri Yogyakarta itu menggandeng 20 peternak penetas. “Tujuannya agar target minimal 7.000 DOD jantan per minggu terpenuhi,” ujarnya. Strategi lain diterapkan Agus Heriyanto di Mojokerto. Supaya bisa memenuhi permintaan DOD jantan ia melakukan barter telur dengan penetas lain yang khusus menghasilkan DOD betina untuk bibit petelur.

Jantan “palsu”

Tingginya permintaan DOD jantan tak jarang membuat pembeli mesti inden untuk mendapatkan pesanannya. Itu yang dialami Rika Adi Kusuma, peternak di Karanganyar, Jawa Tengah, yang mesti menunggu 1 minggu sebelum pesanan DOD jantan dari Boyolali datang ke kandang. Jika memesan dalam jumlah besar, waktu tunggu lebih lama lagi. “Untuk pesanan minimal 1.500 ekor, peternak harus inden selama 1 bulan,” ujar Heriyanto Oetomo, penyedia DOD dan pengepul itik jantan di Semarang.

Uniknya, jika dulu DOD jantan tak diinginkan, sekarang justru ada penetas yang mencampur bibit itik jantan dan betina supaya bisa memenuhi permintaan. Itu jelas merugikan peternak pedaging. Pertumbuhan DOD betina lebih lambat ketimbang DOD jantan. Itik mojosari betina baru mencapai bobot sekitar 1 kg setelah 2 bulan dipelihara. Itik kalung betina malah hanya 0,6 kg pada umur sama. “Berbeda dengan itik jantan yang bobot pada umur 2 bulan mencapai 1,3—1,5 kg per ekor,” ujar Iko—sapaan akrab Rika.

Selain itu, konsumsi pakan betina lebih banyak. “Kebutuhan pakan jantan rata-rata hanya 160 g/ekor/hari, sementara betina 220 g/ekor/hari,” kata Heriyanto.

Makanya peternak itik pedaging mesti cermat melihat perbedaan dari penampilan fisiknya. “DOD jantan lazimnya berparuh gelap, sementara yang betina warna paruh lebih terang dan mengkilap,” ujar Anita Etik Sukowati, peternak penetas di Modopuro, Mojosari. Cerita itu sungguh berkebalikan dengan kondisi 3 tahun ke belakang saat DOD jantan bernasib seperti bayi-bayi lelaki di zaman Firaun. (Tri Susanti/Peliput: Ari Chaidir)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img