Bergizi, manis, dan menyehatkan. Itulah jagung ungu rakitan periset Universitas Brawijaya.
Jagung berbiji ungu kehitaman itu tampil memikat. Warna ungu Zea mays itu mengandung antosianin. “Kadar antosianinnya 9 mg per 100 g, lebih tinggi daripada bluberi yang hanya 6 mg per 100 g,” ujar Ir. Arifin Noor Sugiharto, M.Sc, Ph.D, pemulia jagung dari Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Antosianin merupakan antioksidan yang menyehatkan tubuh.
Zat itu melawan radikal bebas yang menjadi sumber beragam penyakit seperti penuaan dini, kanker, alzheimer, dan strok. Arifin meneliti jagung unik itu sejak 2009. “Jagung untuk pangan itu harusnya enak dan bergizi. Jagung manis, sejatinya sudah enak dan kandungan proteinnya tinggi,” ujarnya. Agar makin digemari butuh nilai tambah. Warna ungu itulah nilai plus yang membedakannya dengan jagung di pasar yang pilihannya terbatas, sekadar putih dan kuning.
Produktif
Meski manis, kadar gula jagung rakitan Arifin tergolong rendah sehingga cocok untuk diet. “Kadar gulanya hanya 9—10º briks, sementara jagung manis biasa 12—14º briks,” ujar ayah lima anak itu. Produktivitas jagung itu tergolong tinggi mencapai, 11 ton segar per hektare. Bandingkan dengan rata-rata produktivitas nasional yang hanya 4—6 ton per hektare. Tetua jantan jagung ungu itu justru jagung kuning SBY yang berbiji kuning.
“Jagung SBY itu rendah produktivitasnya, tetapi ketika dikawinkan, anakannya selalu bagus dan tinggi produktivitasnya,” ujar alumnus Kyushu University, Jepang itu. Tetua betina baru jenis berbiji ungu UP 33, yang memiliki warna ungu pekat. Jagung ungu itu juga relatif tahan terhadap penyakit yang menjadi momok para petani jagung, yaitu bulai atau downy mildew.

Harap mafhum, serangan penyakit akibat Peronosclerospora maydis itu bisa menurunkan produktivitas jagung sebanyak 30—100%. Namun, kelemahannya pada umur panen yang sedikit lebih lama. “Jagung ungu itu mulai panen umur 78—83 hari setelah tanam. Jagung manis biasa pada pada umur 75—80 HST,” ujar Arifin. Sebelum merilis, pemulia menguji multilokasi di beberapa daerah di Lampung, Malang, dan Magetan.
Hasilnya, produktivitas paling tinggi di dataran menengah dari 400—800 meter di atas permukaan laut. “Umur panen di dataran rendah paling cepat, selisih 2—3 hari dibandingkan dengan di dataran menengah. Namun produktivitas di dataran rendah hanya 7,5—8 ton, warna ungu juga kurang pekat,” kata pengampu mata kuliah Bioteknologi itu. Sementara di dataran tinggi, umur panennya bisa empat bulan lebih. Oleh karena itu lokasi budidaya ideal di dataran menengah.

Arifin juga mempersiapkan jagung ungu ketan manis. “Mendapatkan jagung ungu ketan manis itu susah,” ujarnya. Ia menumpulkan para tetua dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Banyuwangi dan Madura. Selain warnanya yang menarik, rasa jagung ungu ketan manis itu enak. “Itu termasuk jagung komposit, sehingga produktivitasnya masih rendah,” ujar pemulia yang hobi membaca itu.
Jagung komposit merupakan hasil perkawinan silang tunggal atau perkawinan tunggal penghasil varietas yang memiliki hasil tertinggi. Berbeda dengan hibrida yang merupakan perkawinan antara dua atau lebih induk yang unggul.
Pangan fungsional
Menurut pemulia jagung dari Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal) Ir. M. Yasin H. G., Balitsereal memiliki plasma nutfah jagung berbiji ungu tinggi antosianin. Manfaatnya memperlancar sirkulasi darah, menghambat timbunan lemak, dan mencegah kanker kandungan atau kanker payudara. Ia menyarankan kepada penentu kebijakan agar menggunakan jagung fungsional antosianin untuk memperkuat ketahanan pangan.

Caranya dengan memanfaatkan jagung itu sebagai makanan balita agar lebih sehat, karena mereka generasi penerus bangsa. Pengajar Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Brawijaya Tatiek Koerniawati Andajani, S.P. M.P., menuturkan hal senada. Warna jagung ungu yang ngejreng dan unik menjadi daya tarik bagi anak-anak untuk menggemari jagung bergizi itu. Hal itu menjadi modal membangun generasi penerus bangsa yang lebih sehat.
“Anak-anak pasti akan suka dengan jagung itu karena warnanya menarik,” ujar Tatiek. Ia juga optimis, bisnis jagung ungu pada masa depan sangat menjanjikan. “Masyarakat makin sadar pentingnya kesehatan. Jagung ungu memiliki nilai gizi khususnya antosianin yang lebih tinggi dibandingkan dengan jagung putih maupun kuning. Inilah salah satu keunggulannya,” ujarnya. Dua keunggulan jagung ungu yaitu warna yang menarik dan kaya antioksidan menjadi modal untuk diterima konsumen dalam maupun luar negeri. (Bondan Setyawan)
