Friday, August 19, 2022

Jamur Parkir di La Capelle

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Mobil-mobil beragam merek memadati gedung parkir bawah tanah The Quartier de La Chapelle, Paris, Perancis. Harap mafhum di sekitar gedung parkir bawah tanah berlantai dua itu berdiri 300 hunian. Deru mesin serta bau khas oli dan bahan bakar yang tercecer kerap tercium ketika memasuki gedung parkir itu. Kini kondisi gedung parkir yang berada di bawah gereja bersejarah di Paris, Sainte Chapelle, itu berubah drastis.

Lampu ultraviolet untuk memerangkap serangga.

Tidak ada lagi mobil terparkir di sana. Bau khas tempat parkir pun sirna. Sejak 2016 gedung parkir bawah tanah itu menjadi tempat budidaya jamur konsumsi seperti shiitake, tiram, dan kancing. “Kami produsen jamur di bawah tanah pertama di Paris,” kata pendiri La Caverne—nama kebun jamur konsumsi di gedung parkir bawah tanah itu—Théo Champagnat kepada Trubus pada musim semi September 2018.

Ratusan baglog—substrat tempat tumbuh jamur—tersusun rapi di atas susunan batang besi seperti pagar yang tergantung. Théo tidak meletakkan baglog di rak-rak seperti yang lazim dilakukan pekebun jamur di Indonesia. Jamur konsumsi itulah yang kini “terparkir” di lantai terbawah gedung parkir bawah tanah seluas 3.500 m². Ukuran dan bobot baglog jamur di La Caverne pun berbeda dibandingkan dengan di Indonesia.

Pekebun jamur di tanah air lazim menggunakan baglog berbobot sekitar 1,5 kg berbentuk bulat memanjang. Sementara pria yang pernah tinggal di pelosok Sumatera Barat itu memanfaatkan baglog berupa balok yang berbobot 10 kg. Théo tidak membuat sendiri baglog itu. Ia mendatangkan baglog dari pekebun jamur di Perancis bagian selatan. Cara itu lebih praktis dibandingkan dengan bila membuat baglog sendiri di Paris.

Jamur shiitake salah satu produk andalan La Caverne di Kota Paris, Perancis.

Theo mengatakan, terlalu repot jika mesti membuat baglog. Baglog terbuat dari aneka bahan organik seperti jerami, kayu, dan biji-bijian. Harga baglog sekitar €400 per ton atau setara Rp6,8 juta jika kurs €1=Rp17.000. Tugas Théo membudidayakan jamur relatif mudah. Musababnya ia hanya memastikan faktor pendukung berkembangnya jamur seperti kelembapan sesuai dengan kebutuhan sumber pangan itu.

Alat penjaga kelembapan akan aktif jika kelembapan tidak sesuai pertumbuhan jamur yang ideal.

Jamur shiitake Lentinula edodes menghendaki kelembapan ruangan 90%, sedangkan tiram sekitar 80%. Jika suhu tidak sesuai, ia menghidupkan alat penjaga kelembapan udara atau humidifier. “Setiap baglog menghasilkan 3—4 kg jamur dengan masa pemeliiharaan sekitar 3 bulan,” kata pria yang pernah berkunjung ke beberapa negara di Eropa dan Asia dengan bersepeda itu.

Selain menyediakan pangan sehat, La Caverne juga membuka lapangan pekerjaan untuk penduduk sekitar.

Artinya biological efficiency ratio (BER)—kemampuan sebuah baglog menghasilkan tubuh jamur dalam satu periode tanam—30%. Nilai itu sama dengan BER yang diraih pekebun jamur tiram di Indonesia. Selang 3 bulan, ia mengganti baglog lama dengan yang baru. Ia lalu menyerahkan baglog lama ke perusahaan pengolah kompos. Harga jual jamur produksi La Caverne €10—€15 per kg setara Rp170.000—Rp255.000 (€1=Rp17.000).

Menurut Théo harga itu dua kali lipat lebih mahal ketimbang harga produk serupa dari produsen lain. Meski begitu dengan harga itu konsumen mendapatkan produk yang lebih segar dan bergizi. Apa penyebab harga jamur produksi La Caverne lebih tinggi? “Kami membudidayakan semua jamur secara organik,” kata pria yang pernah belajar pertanian selama 2 tahun di BTS Développement de l’Agriculture des Régions Chaudes (DARC) Tahiti, itu.

Jamur organik bukan klaim sepihak La Caverne. Théo mengantongi sertifikat organik dari lembaga sertifikasi organik terpercaya di Perancis pada 2017. La Caverne adalah kebun organik bawah tanah pertama di kota yang terkenal dengan Menara Eiffel itu. Oleh karena itu, setiap produk yang berasal dari La Caverne memiliki logo AB—singkatan dari agriculture biologique.

Tempat parkir yang kini menjadi kebun organik bawah tanah pertama di Paris.

Dengan logo itu jamur produksi Théo terbukti memenuhi ketentuan pangan organik Uni Eropa. Adanya sertifikat organik itu membuktikan bahwa jamur milik Théo tidak tercemar. Masyarakat pun aman mengonsumsi komoditas nirklorofil itu meski ditanam di bekas lahan parkir bawah tanah. Justru itu menjadi prestasi tersendiri bagi Théo karena mampu menghasilkan pangan sehat dari lahan parkir.

Théo Champagnat membudidayakan jamur, endive, dan microgreens secara organik di kebun yang berada di bawah tanah di Perancis.

Sebetulnya perwakilan dewan kota dan pemilik gedung sudah melakukan serangkaian uji dan hasilnya menunjukkan tempat itu tidak berpolusi dan aman untuk pertanian. Sertifikat organik juga meneguhkan kebun itu tidak menggunakan pestisida, pupuk sintetis, dan produk Genetically Modified Organism (GMO).

Untuk mengatasi hama Theo memasang jebakan kuning alias yellow trap dan lampu ultraviolet di beberapa titik. Ia memang bertekad memproduksi pangan organik di kota. Dengan begitu produk La Caverne bisa bersaing dengan produk lain. Apalagi banyak konsumen yang mencari produk pangan organik di Perancis. “Pertanian organik menjanjikan dan orang mau bayar lebih untuk produk organik. Tanpa budidaya organik kami tidak dapat berkompetisi dengan produk dari pertanian konvensional,” kata Théo.

Ia menghasilkan sekitar lebih dari 1 ton jamur pangan itu per pekan pada Oktober—April setiap tahun. Théo tidak bertanam jamur pada musim panas karena semua orang berlibur. Ia menjual tanaman yang tidak memiliki klorofil itu ke konsumen langsung di sekitar kebun, toko bahan makanan, dan restoran. Mayoritas pengiriman sama dengan panen sehingga konsumen mendapatkan produk yang lebih segar.

Endive Cichorium endevia sayuran yang dibudidayakan di ruangan gelap.

Pengiriman produk ramah lingkungan karena menggunakan sepeda atau sepeda motor elektrik sehingga lebih rendah mengeluarkan emisi. Théo tidak sendirian mengelola La Caverne. Terdapat 15 orang yang bekerja di tempat itu. Lima orang termasuk Théo membidangi urusan masing-masing seperti produksi dan pemasaran. Sementara sisanya membantu pekerjaan di kebun jamur seperti memanen dan mengantarkan pesanan.

Budidaya jamur shiitake di Indonesia menggunakan baglog bulat memanjang.

La Caverne (dalam bahasa Perancis berarti gua) tidak hanya menyediakan jamur organik sehat kepada masyarakat sekitar. Warga setempat pun mendapatkan pekerjaan di La Caverne sebagai tenaga operasional yang tidak memerlukan keahlian khusus. Memberdayakan masyarakat lokal salah satu manfaat sosial keberadaan La Caverne di salah satu lingkungan miskin itu jika dibandingkan dengan wilayah lain di Paris.

Semua produk La Caverne berlogo AB yang berarti dibudidayakan secara organik.

Sejatinya La Caverne tidak hanya produsen jamur pangan. Tempat itu juga memproduksi sayuran kerabat sawi, endive dan microgreens (baca boks: Berkebun di Bawah Tanah). Menurut Théo endive sayuran sumber vitamin B9 dan mangan yang lazim digunakan dalam salad. Tanaman itu berasal dari Belgia dan kali pertama dibudidayakan pada 1850. Ia memperoleh umbi endive dari petani di Perancis.

Semua produk La Caverne berlogo AB yang berarti dibudidayakan secara organik.

Berkebun di Bawah Tanah

Ruangan bawah tanah bekas lahan parkir The Quartier de La Chapelle, Paris, Perancis, itu gelap total. Tidak ada pencahayaan sama sekali. Théo Champagnat memanfaatkan gedung bekas lahan parkir itu untuk membudidayakan endive. Tujuannya agar tanaman anggota famili Asteraceae itu tidak berwarna hijau.

Sebelumnya petani di Perancis memanen umbi bertunas itu dari tanaman endive dan menyimpannya di cold storage selama 10 bulan untuk “memaksa” umbi berhibernasi. Umbi yang selesai menjalani hibernasi itulah yang digunakan Théo untuk memproduksi endive. Théo lalu memasukkan umbi endive itu ke dalam baki berkapasitas 500 umbi. Pekerja lalu menyusun sekitar 10 baki secara vertikal dan memasukkannya ke ruangan seluas lapangan bulu tangkis.

Théo hanya mengalirkan air tanpa pupuk yang merendam umbi endives Cichorium endivia dalam baki. Suhu ruangan 15°C. Selang 4 pekan pekerja memanen endive yang berkelir kekuningan. Pekerja lantas membuang daun terluar dan komoditas itu siap dipasarkan. Budidaya sayuran daun asal kawasan Mediterania itu unik lantaran memerlukan dua proses yakni penanaman di lahan dan pembentukan endives di ruangan gelap.

Harga microgreens produksi La Caverne €60 setara Rp1 juta per kg.

Ia menjual sekitar 1 ton endive per pekan selama masa produksi seharga €6 setara Rp102.000 per kg. La Caverne satu-satunya kebun produsen endive di bawah tanah di Paris.
Harga termahal komoditas La Caverne adalah microgreens yang yakni €60 setara Rp1 juta per kg. Produsen sayuran organik bermerek FAM Organic dan famO, di Kota Bandung, Jawa Barat, Soeparwan Soeleman, mendefinisikan microgreens sebagai tanaman berumur 3 pekan atau kurang yang memiliki 1—2 daun sejati.

“Itu bukan definisi baku. Yang pasti kategori microgreens mengacu pada tanaman berumur 3 pekan atau kurang,” kata Soeparwan. Théo mengembangkan lebih dari 10 microgreens seperti radish, bunga matahari, dan bawang prei. Ia mudah mendapatkan benih microgreens di Perancis. Sementara pekebun microgreens di Bandung, Jawa Barat, seperti Eva Lasti Apriyani Madarona, mengandalkan benih microgreens impor. (Riefza Vebriansyah)

Previous articleEMBUNG WISATA
Next articleSwasembada Bawang Putih
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img