
Dr Aswandi SHut MSi terkejut dengan kedatangan pengusaha dari Republik Rakyat Tiongkok. Aswandi, peneliti di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aeknauli, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, itu heran tamu dari Negeri Tirai Bambu itu rela menempuh perjalanan sejauh 3.800 kilometer demi mencari informasi tanaman kapur Dryobalanops aromatica.

“Padahal di dalam negeri perhatian kita sangat kurang terhadap tanaman langka itu,” kata alumnus Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu. Bahkan barangkali mayoritas masyarakat belum mengetahui pohon kapur. Tanaman yang bisa mencapai tinggi 60 m itu merupakan penghasil kamper yang berasal dari getah. Senyawa aktif dalam kamper seperti borneol banyak diburu karena multifungsi.
Kamper yang berbentuk serbuk atau kristal itu banyak digunakan dalam pembuatan parfum. Di Tiongkok borneol menjadi bahan tambahan pembalut wanita. Manfaatnya mengurangi kesakitan dan tekanan ketika haid, mengurangi kesakitan otot dan sendi, membantu membersihkan darah beku, dan mencegah kuman berkembang. Borneol pun berfaedah antiinflamasi, antiseptik, dan analgesik.

Aswandi menuturkan calon investor dari Negeri Ginseng itu berniat membangun hutan kapur di Indonesia. Di Tiongkok mereka memproduksi minyak kamper dari daun, bukan getah di batang. Oleh karena itu kebun yang akan dibangun berupa kebun pangkas. Pohon yang digunakan pun berbeda. Pengusaha di sana memanfaatkan daun Cinnamomum camphora untuk memproduksi minyak, kamper, dan borneol.
Selain digunakan di negeri sendiri, pengusaha dari Asia timur itu menjual produknya ke Perancis dan negara lain di Eropa sebagai bahan baku obat dan parfum. “Menurut pengusaha itu kandungan senyawa aktif antara dryobalanops dan cinnamomum berbeda,” kata Aswandi. Itulah yang membuat calon investor dari Tiongkok melihat peluang menanam pohon kapur skala luas di Indonesia. Namun, mereka ragu dengan kepastian hukum usaha jangka panjang di tanahair.
Sejatinya tidak hanya masa kini kapur asal Indonesia diincar bangsa lain. Sejak dahulu komoditas kehutanan itu menyedot perhatian dunia. Sebutan kapur barus yang terkenal itu merujuk kepada gumpalan getah yang dihasilkan tanaman kerabat kapur empedu Dryobalanops fusca itu. Kata barus mengacu kepada nama tempat yang sekarang menjadi kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Menurut Aswandi kapur barus tidak berkaitan dengan produk modern pengusir kecoak dalam lemari pakaian. Kapur sintetis berasal dari bahan kimia tertentu dan berbau menyengat. Sementara asal kapur barus dari bahan alam yang bikin tubuh rileks. Sejarawan dari Universitas Negeri Medan, Dr Phil lchwan Azhari MS, mengatakan, dahulu Barus terkenal karena memperdagangkan kapur.
Saat itu Barus pelabuhan internasional tempat bersandar kapal-kapal dari berbagai negara. “Nama kapur barus disematkan oleh pendatang untuk menunjukkan negeri penghasil kafura atau kapur,” kata Ichwan. Pasokan kapur banyak berasal dari Singkil (Aceh) dan Pakpak (Sumatera Utara). Mulai sekitar abad ke-7 kapur menjadi magnet perdagangan dunia. Padahal harga kapur setara emas kala itu.
“Laporan terakhir Ibnu Batutah menyebutkan harga 1 g emas setara 1 g kapur barus,” kata Ichwan yang juga menjabat Ketua Pusat Studi Sejarah dan llmu-ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan. Pembalseman mumi di Mesir pun diduga menggunakan kapur dari Sumatera. Kepercayaan masyarakat Mesir kuno mengharuskan jenazah tidak boleh membusuk.

Oleh karena itu para ahli Mesir kuno mencari bahan pengawet ke penjuru dunia dan dapatlah kapur. Kristal kapur didapat dari bagian tengah batang pohon. Dahulu pengambilan kristal kapur meliputi beberapa tahap. Mulai dari memilih, menebang, dan memotong batang dalam bentuk balok. Kristal kapur di dapat dari potongan balok yang dibelah. Cara lainnya mentakik potongan balok.
Sayangnya tidak semua pohon menghasilkan kapur. Penebangan pun dilakukan sembarangan sampai menemukan pohon berkapur banyak. “Cara ini mematikan pohon dan tidak lestari,” kata Aswandi. Metode itu pun berdampak pada penurunan populasi pohon di habitat asli. Ahli botani dari Belanda, Karel Heyne, dalam Tumbuhan Berguna Indonesia, menyebutkan sebaran alami kapur yaitu dari Aerbangis ke utara mulai dari pantai hingga tempat di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (m dpl).
Lokasi lainnya yakni bagian barat Singkil sampai Aerbangis dan di bagian timur mulai dari sebelah selatan Sungai Rokan sampai sebelah utara Batanghari. Lebih ke timur lagi pohon ini terdapat di Kepulauan Riau dan Malaka, sedangkan lebih ke barat ada di Pulau Mursala. Cara lain memperoleh kristal kapur yaitu mengambil langsung dari batang yang keluar secara alami. Metode itu lebih baik karena tidak harus menebang pohon. Cukup menyadap dari batang.

Aswandi menduga populasi tanaman kerabat kapur keladan Dryobalanops oblongifolia itu merosot tajam. “Kita baru punya peta sebaran populasi kapur yang tersisa,” kata pria kelahiran Kuok, Provinsi Riau, itu. Organisasi lingkungan yang berkantor pusat di Swiss, International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan kapur ke dalam kategori kritis atau sangat terancam punah (critically endangered). Selain penebangan liar, kapur juga terancam punah karena alih fungsi hutan.
Aswandi dan tim menyaksikan langsung ancaman perkebunan kelapa sawit di Kota Subulussalam, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) terhadap kelangsungan hidup tanaman itu. Di salah satu kawasan di kota seluas 1.206 km² itu kelapa sawit mengepung hutan tersisa seluas 1.485 ha yang berisi 200—300 kapur beraneka ukuran. Mayoritas tanaman berdiameter lebih dari 50 cm. Diameter tanaman lainnya mencapai 70 cm. Bahkan ada tanaman berdiameter 3 m yang diduga berumur ratusan tahun.
Sekumpulan kapur itu lumayan “aman” karena medan menuju lokasi sangat terjal. “Kebanyakan pohon kapur itu berada di tebing. Jalan menuju ke sana sangat sulit,” kata Aswandi. Untungnya lagi pemerintah daerah setempat peduli dengan kehadiran tanaman kerabat kapur tanduk Dryobalanops lanceolata itu dengan menjadikan daerah itu Taman Hutan Rakyat (tahura) Bukit Kapur sehingga kelestariannya relatif terjaga. Pembentukan tahura itu berdasarkan SK. Menteri Kehutanan No.865/Menhut II-2014 seluas 1.485 ha.
Kemungkinan luasan tahura bertambah menjadi 1.500-an ha karena ada kawasan yang belum terhitung dan terdapat vegetasi kapur di dalamnya. Meski begitu perlu ada patroli dari pihak berwenang. Musababnya Aswandi masih menemukan penebangan liar di sekitar tahura. Kini motif penebangan kapur tidak lagi mengincar minyak di dalam batang. Oknum penebang liar mengincar kayu kapur yang terkenal kuat dan awet. Menurut penelitian kayu kamper termasuk kelas awet II—III, kelas kuat II, dan berat jenis 0,61—0,94.

Lazimnya kayu kapur digunakan untuk konstruksi, balok, dan tiang. Kemungkinan kayu kapur awet dan tahan rayap karena kandungan minyak. Pada 1970-an penebang kapur di Singkil mengamankan minyak yang keluar dari batang terlebih dahulu. Setelah itu mereka baru memotong-motong kayunya. Harap mafhum saat itu harga kayu kapur Rp100.000—200.000 per m³, sedangkan minyak dilego Rp500.000—Rp800.000 per liter. Satu pohon setinggi 40 m dan berdiameter sekitar 40 cm dapat menghasilkan 2—3 drum berkapasitas 50 l minyak.
Jadi, penebang memperoleh maksimal 150 l minyak kapur sehingga mendapat omzet Rp75-juta—Rp120-juta. Bandingkan jika mereka hanya mengambil kayu. Paling banter mereka hanya menangguk omzet Rp500.000—Rp1-juta dari penjualan 5 m³ kayu. Aswandi mengatakan kandungan minyak dalam batang muncul saat tanaman berumur 40 tahun atau memiliki diameter lebih dari 40 cm. Tanaman berdiameter kurang dari 20 cm belum terdapat minyak dalam batang.
Namun, daunnya kemungkinan berminyak. Sebab aroma khas kapur menguar saat daun diremas. Saat ini hampir tidak ada lagi pengambilan minyak kapur di habitat alami seperti di Singkil, Subulussalam, dan Barus. Salah satu pemicunya populasi tanaman yang diidentifikasi ahli botani asal Jerman, Joseph Gaertner, itu semakin anjlok. Jika ada pohon kapur pun sangat sulit mendapat kapur berbentuk kristal. Sebagian besar berupa minyak yang harganya lebih rendah dibandingkan kristal kapur.

Musababnya kristal kapur mengandung 93—98% borneol, sedangkan minyak kapur berisi 25—30% borneol. Pada 1980—1990-an harga kristal kapur Rp3-juta—Rp5-juta per kg. Sementara harga minyak kapur Rp500.000—Rp800.000 per liter. Masyarakat juga tidak lagi mengambil minyak kapur karena ketidaktahuan dan susahnya mencari kristal kapur berkualitas. Selain itu eksploitasi berlebihan gangguan berupa alihfungsi hutan dan penebangan liar, serta belum berkembangnya budidaya intensif memicu penurunan produktivitas kapur.
Eksploitasi berlebihan berupa pemanenan yang melebihi kemampuan regenerasi alaminya sehingga dalam jangka waktu lama populasi dan produktivitas semakin anjlok. Faktor pemicu belum berkembangnya budidaya intensif antara lain tidak tersedia sumber benih unggul dan tidak diketahui teknik budidaya untuk meningkatkan produktivitas. Selain itu belum adanya sumber benih yang ditunjuk dan belum diketahui provenan terbaik.
Hambatan lain, belum adanya pengembangan penanda molekuler pohon induk dan belum diketahuinya viabilitas dan fenologi. Sebaran alami juga belum diketahui secara lengkap merupakan akar masalah tidak tersedianya benih unggul. Sementara akar masalah tidak diketahuinya teknik budidaya peningkatan produktivitas yakni belum diketahuinya teknik silvikultur (seperti jarak tanam dan perlakuan perawatan tegakan).

Oleh karena itulah sejak 2015 Aswandi dan Cut Rizlani Kholibrina SHut MSi serta rekan dari BP2LHK Aeknauli meriset kapur demi menjawab semua pertanyaan itu. Kini tim mengeksplorasi tanaman kerabat kapur sintuk Dryobalanops beccarii itu di Subulussalam, Singkil, dan Tapanuli Tengah. Hasil kunjungan lapang menunjukkan kapur tumbuh mengelompok pada dataran rendah hingga perbukitan pada ketinggian 700 m dpl.
Setelah era pengusahaan hutan berakhir, tegakan kapur hanya ditemukan di lokasi-lokasi kecil yang terpencar. Hasil identifikasi mengungkapkan jenis pohon kapur di ketiga lokasi itu termasuk Dryobalanops aromatica. Cut menjelaskan pada 2015 tim peneliti mensurvei lokasi. Lalu pada 2016 tim mengumpulkan buah dan bibit untuk penelitian lebih lanjut. Rencananya tim juga ke Kepulauan Riau.
Idealnya tim mendatangi setiap lokasi vegetasi kapur berada. Makin banyak tempat yang dikunjungi, kemungkinan semakin beragam juga genetik kapur yang didapat. Artinya keragaman genetik yang luas sangat menguntungkan peneliti. Percuma memiliki 1-juta tanaman, tapi dari satu induk semua. Jika satu pohon terserang penyakit, kemungkinan besar nasib tanaman lain juga sama.
Tim memperbanyak tanaman dengan setek pucuk untuk mendapatkan material genetik dalam waktu cepat. “Kami sudah membangun kebun pangkas yang berasal dari 5 daerah berbeda,” kata alumnus Fakultas Kehutanan, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) itu. Setiap daerah diwakili 10 tanaman sehingga populasi kebun pangkas saat ini 50 kapur. Cut yang bertugas di bagian genetika membandingkan semua jenis kapur hasil eksplorasi itu.

Kemudian ia memilih jenis kapur yang bagus sehingga bisa mendongkrak produktivitas tanaman. Harapannya tanaman-tanaman itu menghasilkan kapur. Tahap berikutnya yakni memperbanyak tanaman menghasilkan sehingga anakan pun memproduksi kapur seperti sang induk. Lebih lanjut Cut menuturkan pada 2017 tim akan membikin plot penanaman kapur sebagai show window. Artinya BP2LHK Aeknauli mengoleksi semua kapur di Sumatera.
“Ke depan kami juga menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah yang ingin menanam kapur,” kata perempuan kelahiran Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, NAD, itu. Harapannya populasi kapur bertambah banyak dan tetap lestari sehingga generasi mendatang mengenal sosok tanaman langka itu. Dengan begitu status konservasi dapat diturunkan. Kapur itu tanaman unik karena berbunga dan berbuah setiap 3—4 tahun. Tim memprediksi kapur berbunga pada Oktober—November.
Adanya asumsi yang menyatakan tidak semua pohon menghasilkan kapur menjadi misteri yang mesti dipecahkan oleh tim. Pada masa depan tim juga berharap mampu menyuling minyak dari daun tanaman kerabat kapur gumpait Dryobalanops keithii itu. Tentunya semua upaya itu memerlukan waktu dan dana besar serta dukungan semua pihak. Tujuannya hanya satu yakni agar keberadaan kapur lestari dan memakmurkan masyarakat. (Riefza Vebriansyah)
