Tuesday, January 27, 2026

Janji Laba Kapulaga

Rekomendasi
- Advertisement -

Kapulaga memberi tambahan  omzet jutaan rupiah. Pasar besar  masih kekurangan pasokan.

Samsuludin akhirnya pulang kampung membawa ijazah dan gelar Sarjana Psikologi setelah empat tahun kuliah di Jakarta. Harapan sang ayah tak muluk-muluk, Samsuludin menjadi amtenar alias pegawai negeri. Pada Agustus 2008 Samsuludin  kembali ke Desa Pasawahan, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Namun, ia malah bertani dengan  menanam 8.000 bibit kapulaga di bawah naungan sengon dan jabon di lahan total 4 ha. Jarak tanam 2,5 m x 2 m sehingga populasi 2.000 per ha.

Keruan saja sang ayah tidak setuju. Namun, pria yang kini berusia 27 tahun itu bergeming. Ia melihat peluang besar di bawah tegakan sengon. Lahan yang ia tanami itu merupakan kebun keluarga. Ayahnya mengebunkan sengon dan jabon secara monokultur. Di bawah tegakan itu tanah dibiarkan “menganggur”. Lahan itulah yang dimanfaatkan oleh Samsuludin sehingga tidak perlu menyewa. Sementara untuk membeli benih ia menghabiskan Rp10-juta hasil pinjaman dari teman dengan sistem bagi hasil. Menurut Samsuludin biaya perawatan—pupuk, cabut gulma, dan tenaga kerja—hanya Rp15-juta per ha setiap tahun.

Perlu naungan

Setahun berselang, Samsuludin  panen perdana kapulaga. Volume panen mencapai 1 ton buah kapulaga basah per ha atau total 4 ton per 4 ha. Saat itu pada 2009 harga sekilogram kapulaga kering mencapai Rp35.000. Setiap 1 kg kapulaga kering didapat dari 10 kg buah basah. Pada panen kedua 6 bulan kemudian volumenya lebih besar, yakni 2 ton kapulaga basah per ha. Sementara panen ketiga 2,9 ton, ke-4  (3,7 ton), dan ke-5 (4,5 ton). Hasil panen terus meningkat hingga usia kapulaga 73 bulan atau 6 tahun. Selama itu pekebun 9 kali panen dengan interval 6—7 bulan.

Dari jumlah itu sebanyak 50% buah kering diterima pasar ekspor dengan harga Rp45.000 per kg dan pasar lokal Rp25.000 per kg. Samsul menghitung, dalam  5 tahun masa panen, bisa memungut laba bersih minimal Rp68-juta per ha setahun.  Mengetahui laba besar itu, sang ayah pun senang bukan kepalang.

Amomum cardamomum bisa saja dibudidayakan secara monokultur sehingga populasi meningkat tajam hingga 3.500 tanaman per ha. Namun, para pekebun justru menghindari teknik budidaya monokultur semacam itu karena produktivitas anjlok, 25% lebih rendah daripada kapulaga di bawah naungan.

Menurut Dr Ir Rosihan Rosman MSc APU, periset di Balai Penelitian Tanaman Rempah  dan Obat, naungan mutlak untuk budidaya kapulaga. Sinar matahari berlebih merusak daun dan mengurangi produksi. Kapulaga di kebun milik Ade Iwan Hermawan di Desa Budiharja, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, misalnya, berdaun keriting, kuning, dan berlubang. Ade menanam kapulaga di lahan 1 ha tanpa naungan. Padahal, “Kapulaga memerlukan naungan hingga 80%,” ujar Rosihan.

Ade Iwan Hermawan, ketua Kelompok Usaha Bersama, menuai keuntungan Rp4-juta per bulan. Ade mengatakan bahwa keuntungan bakal meningkat jika kapulaga ditanam di bawah naungan. Dua tahun terakhir seiring dengan maraknya penanaman sengon dan jabon, budidaya kapulaga juga meluas. Berdasarkan data statistik Kementerian Pertanian, luas lahan sengon di Jawa pada 2010 mencapai  2,8- juta ha. Angka itu hampir 2 kali lipat dari data tahun 2005, yang hanya 1,6-juta ha.

Para pekebun kayu berhasrat mengintensifkan lahan dengan menanam komoditas tahan naungan sekaligus prospektif. Pilihan jatuh pada kapulaga. Lihat saja pengalaman drg Devianti yang membudidayakan kapulaga di lahan  7 ha di Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Dokter gigi itu mulai menanam kapulaga pada awal 2012 di sela-sela sengon.  “Saya tertarik karena peluangnya menggiurkan,” ujar dokter gigi yang praktek di sebuah perusahaan di Jakarta itu. Devi optimis buah-buah anggota famili Zingiberaceae itu kelak menghasilkan rupiah ke rekeningnya.

Permintaan tinggi

Harapan Devi bukan bagai menggantang asap. Sebab, permintaan Amomum cardamomum di pasar lokal maupun ekspor kian meningkat. Di pasar lokal, meningkatnya permintaan kapulaga karena kebutuhan beragam industri yang terkerek naik. Samsuludin rutin memasok 30 ton buah kapulaga kering setiap 3 bulan kepada seorang eksportir ke Tiongkok. Menurut  Samsuludin, “Itu saja baru 30% dari permintaan total.”

Di negeri Tirai Bambu  kapulaga menjadi bahan baku kosmetik dan minyak asiri.  Eksportir menghendaki buah yang kering, biji besar berdiameter 4 cm, kapulaga yang kering langsung dari matahari. Sekilogram buah kering berasal dari 10 kg segar. Sementara dari 2,5 kg buah kering menjadi 1 kg biji kering berkadar air 17%. Permintaan sebetulnya lebih besar daripada itu.

Contoh, sebuah produsen jamu di Jawa Tengah meminta kapulaga secara rutin ke Samsuludin lebih dari 5 ton buah kering  setiap bulan. Sayang, produksinya bersama 50 pekebun binaan rata-rata hanya 4 ton per bulan sehingga tidak memadai untuk memasok permintaan besar itu. Samsuludin dan 50 pekebun binaannya menanam kapulaga malabar. “Kapulaga jenis malabar produktif pada umur 16 bulan, sementara sabrang (kapulaga jenis asli India, yang adaptif di dataran tinggi, red) berbuah pada umur 24 bulan,” ujar Samsuludin.

Nun di Windusari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Ibnu Fajar  rutin menjual  1 ton biji kapulaga per bulan ke perusahaan pengolah minuman di Jakarta. Ia menjual Rp135.000 per kg biji kering. Fajar mengatakan bahwa 1 kg biji kering berasal dari 2,5 kg buah kering setelah penjemuran rata-rata 7—10  hari. “Permintaannya masih  4 kali lipat dari itu,” ujar Fajar yang mengatakan keterbatasannya memasok dalam jumlah besar. Harga itu meningkat sejak 2009.

Ibnu Fajar bermitra dengan 28 petani yang menanam kapulaga di bawah tegakan sengon seluas 13 hektar.  Selain itu pemanfaatan si ratu rempah sebagai bahan baku minyak asiri pun berprospek bisnis cerah. Dimas Permadi dari CV Nusa Aroma, distributor minyak asiri, mengatakan harga terakhir minyak kardamom atau minyak kapulaga pada permulaan 2013 mencapai Rp1,7-juta per kg. Di Eropa minyak kardamon sebagai komponen pewangi dalam sabun, detergen, calir atau lotion, dan parfum. Sementara di Amerika banyak digunakan sebagai campuran minuman bersoda dan juga es krim.

Beberapa kedai kopi di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta menjadikan kapulaga sebagai campuran kopi. Kapulaga juga memberikan sensasi hangat sehingga melegakan tenggorokan. Sebuah restoran di Kota Jambi, Provinsi Jambi, misalnya, sejak 10 Mei 2012 menjadikan kapulaga sebagai menu andalannya. “Wedang kapulaga merupakan salah satu minuman favorit di sini,” ujar Ade Putra dari Restoran Capulaga Food And Soul. Capulaga menyajikan rata-rata 15 gelas per hari pada akhir pekan. (Rizky Fadhilah)

 

FOTO:

 

  1. Kapulaga untuk pasar ekspor maupun lokal sebagai bahan baku kosmetik dan minyak asiri
  2. Kapulaga cocok ditumpangsarikan dengan sengon dan jabon
  3. Satu rumpun kapulaga dapat menghasilkan 5 kg buah basah
  4. Saat ini Samsuludin, MA Si bersama 50 orang plasmanya sedang mengupayakan pengembangan kapulaga di Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img