Monday, August 8, 2022

Misoram Minyak Asiri Anyar

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sekali tanam cendana misoram, pekebun panen berulang-ulang.

Penyuling minyak asiri di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Atok Fastiono, akhirnya memangkas daun cendana  misoram berumur 9 bulan. Idealnya, tanaman mulai dipangkas 3 tahun pascatanam, ketika tingginya 8 m. “Saat itu kadar minyak sudah maksimal untuk disuling,” kata Atok. Ia panen dini saat tanaman baru 9 bulan lantaran ingin mengetahui kadar minyak dan sekaligus ada permintaan minyak dari Sukabumi, Jawa Barat. Ia memangkas dengan tetap menyisakan 2 mata tunas di cabang agar tunas baru cepat keluar. “Sekitar 4—6 bulan kemudian bisa dipangkas lagi,” ujarnya.

Ia memasukkan 750 kg  daun cendana misoram itu dalam ketel berbahan besi nirkarat tipe 3,04 setebal 3 mm berkapasitas 400 liter. Ketel itu mendapatkan uap panas dari boiler. Jika mengeringkan 750 kg bahan segar itu, ia memperoleh 150 kg bahan kering. Namun, pada uji coba itu ia menyuling daun segar.  “Secara umum teknik penyulingannya sama dengan daun nilam,” tutur Atok. Bedanya, penyulingan nilam hanya menggunakan daun dan ranting, sementara cendana misoram menggunakan daun, bunga, buah, sampai ranting.  Saat panen, beberapa pohon memang telah berbuah. Atok tidak memisahkan antara buah dan daun cendana misoram.

Panen berulang

Penyulingan selama 6 jam menghasilkan minyak yang sepintas mirip dengan minyak nilam. “Warnanya kuning cerah dengan aroma segar tapi menyengat,” tuturnya. Dari 750 kg bahan segar ia menghasillkan 3 kg minyak alias rendemen 0,4%.  Jika ia menyuling 150 kg bahan kering, maka rendemen 2%. Minyak itu kemudian laku terjual setara minyak cendana lokal Santalum album, Rp8—juta per kg. Menurut Atok, minyak itu dibeli penjual minyak asiri asal Sukabumi, Jawa Barat, dan digunakan sebagai bahan kosmetik. Sampai berita ini diturunkan Trubus masih belum dapat mewawancarai pembeli. Atok pernah menemui importir minyak asiri asal Taiwan yang bermukim di Surabaya, Jawa Timur. Ia menanyakan soal pasar  minyak cendana misoram. Menurutnya importir membutuhkan minyak misoram dalam jumlah besar.

Atok menyebut tanaman “baru” penghasil minyak asiri itu cendana misoram. Dari kejauhan, sosok cendana misoram memang mirip cendana Santalum album. Namun, dari jarak dekat, beda keduanya demikian nyata. Bentuk daun cendana misoram menjari dan tepian bergerigi, daun cendana biasa elips. Buah misoram membulat. Beda paling khas, cendana misoram tumbuh baik tanpa tanaman inang. Menurut ahli ekologi tanaman dari Pusat Penelitian Biologi, Prof Dr Tukirin Partomihardjo, cendana Santalum album tergolong tanaman semiparasit.

Artinya cendana memerlukan tanaman inang untuk mendukung pertumbuhan. “Tanpa inang, tanaman akan kerdil dan lambat tumbuh,” kata Prof Tukirin. Sebaliknya cendana misoram justru tumbuh bagus tanpa inang. Di halaman rumah Atok misalnya cendana misoram tumbuh subur.  Atok mendapat informasi bahwa cendana misoram menghasilkan minyak asiri sekelas minyak asal tanaman nilam Pogostemon cablin pada 2010 dari pembibit tanaman hutan di Lampung.

Cendana misoram tergolong jenis tanaman berkayu, sehingga penyuling cukup menanam sekali lalu bisa panen sampai bertahun-tahun. “Tidak seperti nilam yang harus ditanam ulang setelah 3—4 kali panen karena kandungan minyak dalam daun semakin menurun,” kata Atok.  Ia mendatangkan 1.500 bibit cendana misoram setinggi 10 cm dari Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Sayang penyedia bibit di Lampung itu belum bisa dihubungi untuk mengetahui asal-muasal cendana misoram.

Tergolong jenis apa sebenarnya cendana misoram? Prof Dr Tukirin Partomihardjo menduga tanaman itu termasuk genus Tetractomia yang termasuk famili Rutaceae alias jeruk-jerukan. “Secara taksonomi berbeda jauh dengan cendana asli Indonesia, yang tergolong famili Santalaceae (cendana-cendanaan, red),” kata Tukirin.

Penulusuran Trubus ke beberapa pakar minyak asiri belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Periset di Balai Penelitian Tanaman obat dan aromatik (Balitro) dan Dewan Asiri Indonesia (DAI) tidak mengetahui informasi  tentang cendana misoram. Arijanto, sekretaris DAI menuturkan cendana untuk asiri yang dikenal dari genus Santalaceae yaitu Santalum album dan Santalum spicatum. “Saya baru mendengar  nama cendana misoram,” kata Arijanto.

Belum dikenal

Ia pun menyarankan untuk mengonfirmasi kepada Mulyono dari PT Scent Indonesia sebagai produsen minyak cendana di Tanahabang, Jakarta Pusat. Saat Trubus menunjukkan foto cendana misoram dari kebun Atok, Mulyono tidak mengenalinya.

Ia belum pernah menjumpai tanaman itu baik di Indonesia maupun ketika berkunjung ke Mysore, India Selatan. Menurut Atok nama misoram mengacu pada Kota Mysore. “Cendana di India sama dengan Indonesia, jenis Santalum album,” tuturnya. Menurut Atok saat ini ia menanam 1.500 cendana misoram berumur 1,5 tahun di lahan yang  tersebar di Lumajang dan Jember, keduanya di Jawa Timur.

Penanaman cendana misoram bisa tumpangsari dengan beragam sayuran seperti cabai dan tomat. Pilihan lain, tanaman rimpang yang toleran naungan sebagian seperti jahe, kapulaga, atau kencur. Jika menanam secara tumpangsari, ia menyarankan untuk merenggangkan jarak tanam. (Bondan Setyawan)

 

FOTO:

 

  1. Atok Fastiono menyuling cendana misoram
  2. Pekebun dapat menyuling ranting, buah, bunga, dan daun cendana misoram
  3. Cendana misoram di halaman rumah atok Fastiono
  4. Cendana Santalum album di Nusa Tenggara Timur
  5. Dalam perdagangan minyak asiri dunia dikenal minyak cendana dari genus Santalaceae
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img