Sukun (Artocarpus altilis) bukan sekadar tanaman buah tradisional yang biasa diolah menjadi camilan. Tanaman tropis ini memiliki potensi besar sebagai sumber pangan masa depan karena produktivitasnya tinggi, kaya nutrisi, dan mampu tumbuh pada berbagai kondisi lingkungan.
Sukun termasuk dalam genus Artocarpus dari famili Moraceae yang memiliki sekitar 70 spesies. Genus ini berasal dari kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara, dengan Kalimantan dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman tanaman tersebut.
Menurut Utomo dkk. (2024) dalam jurnal Frontiers in Plant Science, sukun merupakan tanaman hortikultura yang mampu beradaptasi pada berbagai kondisi lingkungan. Buahnya memiliki kandungan nutrisi yang mirip dengan beras sehingga di beberapa wilayah dunia dimanfaatkan sebagai alternatif sumber karbohidrat.
Sukun juga memiliki produktivitas yang tinggi. Kajian Jones dkk. (2011) menyebutkan, hasil panen sukun dapat mencapai sekitar 6 ton per hektare berat kering yang dapat dimakan. Produksi tersebut lebih tinggi dibandingkan beberapa tanaman pangan utama seperti padi, jagung, dan gandum.
Selain menghasilkan pangan, sukun termasuk tanaman dengan kebutuhan input budidaya yang relatif rendah. Tanaman ini juga banyak dikembangkan dalam sistem agroforestri karena memberikan manfaat bagi lingkungan, seperti memperbaiki kualitas tanah, menjaga unsur hara, dan mengurangi risiko erosi.
Selama ribuan tahun, masyarakat di kawasan Oseania telah membudidayakan sukun sebagai tanaman pangan utama. Tanaman ini tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari budaya dan kehidupan masyarakat setempat.
Keberadaan sukun juga mendapat perhatian dalam upaya menjaga sumber daya genetik pangan dunia. Tanaman ini termasuk salah satu komoditas prioritas karena memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan global.
Namun, keberlanjutan sukun menghadapi sejumlah tantangan. Perubahan penggunaan lahan, deforestasi, perubahan pola konsumsi, serta perubahan iklim dapat memengaruhi produktivitas dan keberagaman varietas sukun.
Perubahan iklim menyebabkan perubahan faktor lingkungan seperti suhu dan pola curah hujan yang dapat memengaruhi persebaran tanaman. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mengancam berbagai sumber pangan, termasuk tanaman lokal yang memiliki nilai penting bagi manusia.
Di Indonesia, sukun tersebar hampir di seluruh wilayah dan dikenal sebagai tanaman serbaguna. Selain buahnya yang dapat dikonsumsi, bagian lain seperti kayu, getah, serat, daun, dan akar juga memiliki berbagai manfaat.
Kayu sukun dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan dan perahu, sedangkan getahnya digunakan sebagai perekat serta dalam pengobatan tradisional. Daun dan bagian tanaman lainnya juga telah lama dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai keperluan kesehatan.
Penelitian modern menunjukkan bahwa daun sukun mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan untuk bidang kesehatan. Beberapa penelitian bahkan mengungkap potensinya dalam membantu pencegahan penyakit kardiovaskular.
Dengan kemampuan adaptasi yang baik, produktivitas tinggi, serta manfaat lingkungan melalui sistem agroforestri, sukun memiliki peluang besar menjadi salah satu tanaman pangan strategis di masa depan.
Pengembangan sukun tidak hanya menjaga keberagaman pangan lokal, tetapi juga dapat menjadi bagian dari solusi menghadapi tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan dunia.
Sumber:
Utomo, S. W., Lestari, F., Adiwibowo, A., Fatmah, Fisher, M. R., & Qadriina, H. I. (2024). Predicting the suitable cultivation areas of breadfruit crops Artocarpus altilis (Moraceae) under future climate scenarios in Central Java, Indonesia. Frontiers in Plant Science, 15:1363153. DOI: 10.3389/fpls.2024.1363153.
Jones, A. M. P., Ragone, D., Tavana, N. G., Bernotas, D. W., & Murch, S. J. (2011). Beyond the Bounty: Breadfruit (Artocarpus altilis) for food security and novel foods in the 21st Century.
