Hama dan penyakit masih menjadi tantangan bagi para pekebun kelapa sawit. Rayap menjadi salah satu gangguan yang sering ditemukan, terutama pada tanaman sawit yang sudah berumur tua.
“Rayap masih jadi kendala, apalagi menyerang pohon yang sudah tua,” ujar Sugiyatna. Serangan rayap dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan menurunkan produktivitas kebun apabila tidak segera dikendalikan.
Menurut Hamdani, S.T., M.T., dosen Fakultas Pertanian Sains dan Teknologi Universitas Panca Bhakti, pengendalian rayap di perkebunan sawit umumnya masih menggunakan insektisida sintetis.
Namun, penggunaan insektisida secara terus-menerus dan tidak bijaksana dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Beberapa di antaranya terbunuhnya musuh alami, munculnya resistensi hama, ledakan hama sekunder, hingga pencemaran lingkungan.
Karena itu, diperlukan metode pengendalian yang lebih ramah lingkungan. Salah satu alternatif yang dapat diterapkan adalah pemanfaatan agens pengendali hayati seperti nematoda patogen serangga (NPS).
Selain rayap, pekebun sawit juga menghadapi ancaman ulat api. Serangan hama tersebut dapat menyebabkan kerusakan tanaman mencapai 50%—70%.
Pekebun sawit asal Provinsi Jambi, Sugeng Rahayu Harjo Suyono, mengaplikasikan insektisida berbahan aktif lamda sihalotrin untuk mengatasi serangan ulat api di kebunnya. Selain ulat api, ancaman lain yang perlu diwaspadai pekebun adalah serangan kumbang tanduk yang dapat merusak tanaman sawit.
Beragam ancaman hama tersebut membuat pekebun perlu menerapkan strategi pengendalian yang tepat. Penggunaan metode ramah lingkungan seperti agens hayati menjadi salah satu pilihan untuk menjaga produktivitas sawit secara berkelanjutan.
