Kelapa genjah hijau Erabolo Labuanbatu (GHEL) menjadi varietas unggul baru hasil pengembangan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Varietas ini menawarkan daging buah tebal, rasa manis, serta kandungan santan tinggi yang sesuai dengan kebutuhan industri modern.
Perubahan tren industri mendorong permintaan kelapa tidak lagi berfokus pada produksi minyak, melainkan pada kualitas air kelapa yang manis dan santan melimpah. Kondisi ini menjadikan varietas GHEL memiliki prospek besar karena mampu menjawab kebutuhan tersebut.
Kelapa genjah hijau Erabolo Labuanbatu berasal dari Kabupaten Labuhanbatu, Sumatra Utara. Varietas ini dinilai menarik bagi industri karena memiliki produktivitas tinggi dan kemampuan menghasilkan santan dalam jumlah besar.
Peneliti Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Ismail Maskromo, mengungkapkan bahwa kebutuhan kelapa saat ini lebih mengarah pada pemanfaatan air dan santannya. Selain itu, tinggi tanaman kelapa yang umumnya menjulang menjadi kendala bagi petani sehingga diperlukan varietas yang lebih pendek.
Melalui riset, BRIN berhasil melepas varietas GHEL yang memiliki keunggulan cepat berbuah. Tanaman ini sudah dapat berbunga pada umur kurang dari 18 bulan setelah tanam sehingga waktu panen menjadi jauh lebih singkat.
Keunggulan tersebut jauh melampaui tipe kelapa lain, di mana kelapa dalam umumnya baru berbuah di atas lima tahun dan kelapa genjah biasa sekitar tiga tahun. Dengan GHEL, petani dapat memperoleh hasil lebih cepat sehingga meningkatkan efisiensi usaha tani.
Selain cepat berbuah, pertumbuhan tinggi tanaman GHEL relatif lambat. Pertambahan tinggi hanya sekitar 30 cm per tahun, jauh lebih rendah dibandingkan kelapa dalam yang bisa mencapai 100—120 cm per tahun.
Pada umur sekitar 10 tahun, tinggi tanaman GHEL hanya berkisar 2,5—3 meter. Kondisi ini memudahkan proses panen sekaligus mengurangi risiko bagi petani.
Dari sisi kualitas, GHEL memiliki daging buah tebal dengan kandungan santan tinggi. Nilai kemanisan (brix) air kelapa juga mencapai sekitar 6, sehingga berpotensi besar untuk industri minuman dan olahan pangan.
Melansir pada Youtube BRIN saat ini, varietas GHEL telah dimanfaatkan oleh mitra industri BRIN di wilayah Riau. Pengembangan ke depan diarahkan pada pembangunan kebun induk dan penyediaan benih dalam skala besar.
Ismail menambahkan bahwa penguasaan teknologi kultur jaringan menjadi kunci dalam pengembangan varietas ini. Teknologi tersebut memungkinkan produksi benih dalam jumlah banyak, seragam, dan berkualitas tinggi.
Melalui inovasi ini, GHEL diharapkan mampu menjawab keterbatasan benih sekaligus mempercepat pengembangan industri kelapa nasional. Varietas unggul ini juga menjadi langkah strategis dalam meningkatkan daya saing komoditas kelapa di pasar modern
