Koi dan cupang bersaing di masing-masing kelas demi menjadi yang terbaik.

Semula kesehatan koi milik Hendry Lim menurun menjelang gelaran 3rd Parahyangan Koi Club Young Koi Show 2016. Beruntung Glenardo Yopie—perawat koi milik Hendry—sigap mencermati keadaan. Glenardo lalu mengatur pola makan ikan dan menambahkan mineral tertentu pada kolam. Ia juga memberi pakan khusus warna yang dicampur ramuan rahasia agar kondisi ikan kembali prima.
“Pemberian pakan itu enam kali sehari dan berhenti sepekan sebelum kontes,” kata pria asal Jakarta itu. Tujuannya agar warna ikan maksimal. Hasilnya? Ikan sepanjang 55 cm itu menyabet gelar grand champion (GC), gelar tertinggi dan prestisius pada ajang yang diselenggarakan di Bale Pare Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.
Meriah
Menurut juri dari Blitar, Jawa Timur, Agus Heryanto, koi berjenis showa shansoku itu layak menang karena corak dan warna bagus serta proporsi tubuh ideal sehingga terlihat gagah. Ketua panitia kontes, Andi Suryadi, mengatakan acara yang berlangsung pada 1—2 Oktober 2016 itu ajang ketiga besutan Parahyangan Koi Club. Kontes berlangsung meriah karena, “Pemilik ikan yang berpartisipasi mencapai 159 orang dari 40 kota berbeda di tanahair,” kata Andi.

Ajang itu semakin ramai karena 585 ikan dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jambi, Ciamis, Jakarta, dan Jember bersaing ketat menjadi jawara. Keriuhan tidak hanya pada kontes koi. Nun di Baranangsiang, Kota Bogor, Jawa Barat, adu elok cupang pun semarak. Sejatinya kontes Betta splendens itu termasuk rangkaian acara Festival Akuafest 2016 kreasi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Acara pada 9 Oktober 2016 itu menobatkan Saint Betta Sintang dari Kalimantan Barat sebagai juara umum. Salah satu jagoan Saint Betta Sintang meraih gelar GC kelas halfmoon. “Ikan itu pantas juara karena bertubuh besar dan penampilannya elok,” kata juri asal Jakarta, Edi Sudrajat. Apa rahasianya sehingga cupang halfmoon itu menjadi jawara? Perawatan salah satu kunci sukses hasilkan ikan bermutu.

Menjelang kontes, Lukas Tanuli—perawat cupang halfmoon GC—selalu menjaga air agar memiliki pH 7. Musababnya air bersifat asam mengganggu perkembangan ikan. Oleh karena itu Lukas kerap mengganti sepertiga atau setengah air akuarium setiap hari. Untuk pakan ia mengandalkan kutu air dan jentik nyamuk. “Pagi dan siang ikan mendapat kutu air, sedangkan malam jentik nyamuk,” kata pria asal Semarang, Jawa Tengah, itu.

Jentik nyamuk berperan menguatkan tulang ikan karena kaya vitamin D. Menurut Edi kualitas semua ikan peserta bagus. Semua peraih GC di setiap kelas bukti cupang itu berkualitas baik dan memenuhi kriteria penilaian (warna, proporsi tubuh, kerapihan, penampilan, dan mental). Mental salah satu unsur penilaian penting. Percuma tubuh bagus jika tidak tampil maksimal.
Adu elok di Kota Hujan itu diikuti 798 cupang. Padahal panitia menargetkan 600 ikan. “Kami tidak menyangka animo masyarakat mengikuti kontes cupang setinggi ini,” kata panitia kontes, Muhammad Irfan. Ternyata peserta tidak hanya dari dalam negeri. Lima cupang dari Filipina pun turut meramaikan acara. Lebih lanjut Irfan menuturkan kontes itu kali pertama terselenggara. Ia berharap kontes menjadi acara tahunan. Komunitas Forum Cupang Bogor turut mensukseskan kontes cupang itu. (Muhamad Fajar Ramadhan)
