Saturday, December 3, 2022

Jutawan Cabai

Rekomendasi

Trubus.id — Anak muda menekuni budidaya cabai secara intensif. Laba ratusan juta rupiah. Belum genap 2 tahun Eka Muksin menjadi guru olahraga di sekolah dasar di Palembang, Sumatra Selatan.

Namun Muksin memutuskan kembali ke Desa Karangmanik, Kecamatan Belitang Dua, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatra Selatan lantaran pandemi Covid-19. Pandemi yang berlangsung di seluruh dunia itu menghentikan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di sekolah.

Kondisi yang tidak menentu saat itu memantapkan hati Muksin untuk pulang. Alih-alih berprofesi sebagai pekebun karet layaknya penduduk setempat, Muksin menempuh jalur berbeda.

Di tanah kelahirannya, Muksin banting setir menjadi pekebun cabai merah keriting. Ia memilih cabai lantaran memiliki nilai jual tinggi, meskipun kadang terjadi fluktuasi harga. Bagi Muksin berkebun cabai relatif menguntungkan. Harga cabai merah keriting di tingkat pekebun Rp25.000—Rp35.000 per kg.

Menguntungkan

Pada musim tertentu, harga cabai melonjak hingga Rp95.000—Rp100.000 per kg. Lazimnya, harga tinggi terjadi sepanjang Ramadan. Permintaan cabai yang tinggi tidak diimbangi dengan kecukupan pasokan sehingga harga di pasar melonjak. Muksin mampu memanen 1—1,3 kg cabai keriting merah per tanaman per musim. Biaya produksi hanya Rp5.000 per tanaman.

Biaya itu meliputi pengadaan pupuk, pestisida, benih, mulsa, dan tenaga kerja. Jika dihitung, setiap tanaman menghasilkan 1 kg cabai dengan harga Rp25.000 per kg.

Setelah dikurangi biaya produksi Rp5.000 maka Muksin mengutip untung Rp15.000 per tanaman setara Rp165 juta. Pemuda berusia 26 tahun itu menanam cabai secara konvensional di hamparan terbuka yang dikepung kebun karet.

Masa budidaya tanaman anggota famili Solanaceae itu 70 hari. Muksin menanam varietas lokal yang terbukti adaptif terhadap agroklimat OKU Timur. Petani di OKU Timur banyak yang membudidayakan cabai lokal itu.

Ia mengolah lahan lantas membuat guludan yang ditutup mulsa sebagai tempat penanaman. “Mulsa berguna menjaga kebersihan kebun sehingga serangan cendawan minim. Selain itu, mulsa menghambat pertumbuhan gulma,” kata Muksin.

Ia menanam bibit cabai dengan jarak tanam 50 cm antartanaman. Populasi 11.000 tanaman per hektare. Alumnus Universitas PGRI Palembang itu mengandalkan irigasi tetes untuk memasok kebutuhan air.

Sumber air berasal dari saluran irigasi yang mengalir ke kolam berukuran 15 m x 10 m x 15 m bikinan Muksin. “Air dalam kolam lantas mengalir lewat selang ke bedengan,” kata Muksin.

Penyiraman pada musim hujan dilakukan setiap 3 hari, sedangkan musim kemarau setiap 2 hari. Adapun kebutuhan nutrisi tanaman dipasok lewat pupuk dengan cara dikocor. Pada fase vegetatif, Muksin melarutkan 1 kg NPK seimbang ke dalam 200 liter air.

Ia juga menambahkan 1 liter pupuk hayati per 200 liter air. Pemberian NPK dan pupuk hayati bergantian setiap 3 hari. Ketika tanaman memasuki fase generatif, Muksin melarutkan 2 kg NPK, 3 kg fosfat, dan 3 kg kalsium ke dalam 200 liter air.

Asosiasi petani

Sementara pemberian pupuk hayati meningkat 3 liter per 200 liter air. Untuk mencegah serangan organisme pengganggu tanaman ia melarutkan 5 ml insektisida berbahan aktif abamektin ke dalam 15 liter air.

Adapun untuk pengendalian cendawan, ia melarutkan 2 sendok makan fungisida berbahan aktif mankozeb dan asibensolar-S-metil  ke dalam 15 liter air. Penyemprotan dilakukan bergantian antara insektisida dan fungisida dengan jarak waktu 3 hari.

Berkat budidaya intensif itu Muksin sukses meraup untung. Keberhasilan Muksin meraup pendapatan bersih yang tinggi membuat penduduk setempat tertarik menanam cabai. Muksin bahkan mampu membeli toko pertanian atas nama pribadi. Kini Muksin menjabat sebagai ketua Asosisi Petani Cabai di OKU Timur.

Asosiasi itu menampung 35 pekebun cabai yang tersebar di seluruh kabupaten. Keberadaan asosiasi sebagai wadah untuk saling tukar informasi seputar bercocok tanam cabai dan harga pasar. “Tukar informasi tentang harga cabai sangat pentingi bagi pekebun supaya mendapatkan harga sesuai harapan,” kata Muksin. (Andari Titisari)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img