Monday, August 8, 2022

Kala Dewa dan Dewi Meraih Bintang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kerumunan di depan anjungan Wijaya Tani pada pameran buah di Jakarta Hilton International Hotel di penghujung Januari silam begitu menyemut. Setumpuk belimbing di deret terdepan jadi pusat perhatian. Dengan cepat buah bintang itu berpindah ke tangan pembeli meski tertera harga Rp15.000 per kg. Maklum yang dijajakan belimbing dewa, sang juara Lomba Buah Unggul Nasional 2003.

Penampilan belimbing koleksi Mubin Usman, penangkar di Depok, itu memang begitu meyakinkan. Sosok buah besar, rata-rata berbobot 300—350 g atau sekilo berisi 3buah. Yang dikirimkan ke panitia LBUN 2003 malah mencapai 380 g. Kulit buah oranye terang, mulus, dan mengkilap. Bentuk blimbingan seperti segitiga gemuk dan padat dihiasi lingir berwarna senada.

Warna daging buah pun se-ngejreng kulit. Rasanya manis segar tanpa rasa sepat dengan kandungan air banyak. Teksturnya nyaris tanpa serat. Wajar dengan segala kelebihan itu, para juri LBUN 2003 sepakat menobatkan Averrhoa carambola itu sebagai yang terbaik di kelas buah bintang.

Tetua dari tempat sampah

Mubin Usman pertama kali mendapatkan bibit dewa dari sebuah pameran di kawasan Ancol, Jakarta Utara, pada 1977. Waktu itu pohon berumur 1,5 tahun dibeli di dalam pot. Setelah sampai ke kebun, carambola itu dipindah ke tanah. Dari 3 pohon induk, lantas belimbing diperbanyak. “Yang dikirim untuk lomba berasal dari pohon berumur 19 tahun,” ujar ayah 3 anak itu. Produktivitas tanaman mencapai 750 buah per panen. Mubin menyebutnya dewa baru.

Tetua sang dewa dimiliki seorang haji di Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan (Baca: Trubus edisi Februari 1998). Ia semula tumbuh liar di dekat tempat sampah. Berkat tangan dingin Haji Timang anggota famili Oxalidaceae itu berkembang.

Dulu si buah bintang itu pernah menyandang nama dewi. Padahal sebutan itu sudah dipakai untuk belimbing kuning kemerahan dengan lingir hijau. Ia pertama kali diperkenalkan oleh produsen bibit PT Dewi Jaya di Pondokgede, Bekasi. Supaya masyarakat tak rancu, Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH) DKI menamakan carambola dari Jagakarsa sebagai dewa, pasangan dewi.

Di kebun Mubin Usman di Depok pohon induk dewa yang dibeli 25 tahun silam beranak-pinak. Belimbing ditanam dengan jarak 7 m x 7 m. Pupuk kandang rutin dibenamkan 2 kali setahun. Tajuk secara berkala dipangkas agar tetap kompak. Umur 6 bulan setelah pindah tanah, tanaman belajar berbuah.

Namun, idealnya pada umur 2 tahun belimbing dibuahkan massal. Agar buah mulus, kelahiran Depok 25 November 1947 itu membungkus buah dengan karbon sejak seukuran jempol. Satu tangkai hanya disisakan 1 buah supaya ukuran buah maksimal. Hasilnya, belimbing tampil prima. Oleh karena itu meski tak ada persiapan khusus, buah unggul hasil penilaian Badan Benih Nasional itu menuai gelar juara.

Juara 1994

Mubin pantas sumringah. Selain dewa, juri LBUN 2003 juga menobatkan dewi dari kebunnya sebagai pemenang ke-2. Meski berukuran sama besar, dewi mudah dibedakan dari dewa. Lingir sang dewi berwarna hijau, blimbingannya kerap bergelombang. Meski daging agak berserat dan lebih pucat, rasa sangat manis. Teksturnya padat dan juicy. Bobot maksimal bisa mencapai 500 g.

Dulu sempat beredar belimbing sejenis dengan nama bangkok. Hasil kajian BPSBTPH DKI menunjukkan keduanya sama. Akhirnya nama dewilah yang terus dipakai untuk menyebut belimbing lokal unggul itu.

Keistimewaan dewi pernah diganjar gelar pertama waktu diikutsertakan Permanasari Harun—pemilik Dewi Jaya—dalam lomba buah-buahan nonlangka di Ancol, Jakarta Utara, pada 1980. Ia pun memenangkan juara III LBUN 1994 kala dikirim Ibnu Purnomo dari Jagakarsa, Jakarta Selatan. (baca: Trubus edisi April 1996)

Sang dewi milik Mubin—ia menyebutnya dewi murni, diambil dari pohon berumur 7 tahun. Lokasi penanaman berseberangan jalan dengan pohon dewa. Produktivitas mencapai 500 buah per musim. Bersama-sama dewa, bibitnya sudah menyebar hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Langsung dapat order

Kemumpunian dewi pun dibuktikan pada LBUN 2003. Gelar ke-3 disabet dewi asal kebun buah Wanakarya di Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Penampilannya lebih pucat ketimbang “saudari”-nya dari Depok. Hendro Soenarjono, pakar buah yang menjadi salah satu juri, menduga itu karena faktor pembungkusan. Toh, rasa manis tak berkurang.

Belimbing itu salah satu dari 1.200 pohon yang dikebunkan H Thoriq Basalamah, pemilik kebun, di lahan seluas 3 ha. Selain dewi, ada juga sembiring, bangkok, filipina, dan malaya. Kebun di ketinggian Bukit Cengal itu pun dipenuhi durian, jambu jamaika, jeruk nipis, dan jeruk limau. Maklum sejak lama pengusaha properti itu bercita-cita memiliki kebun buah komersil. Belimbing jadi salah satu pilihan karena lokasi cocok dan merupakan buah unggul lokal.

Dari pohon yang ditanam pada 2000, pria tinggi besar itu menuai 40 buah per musim meski produksi bisa mencapai 50—100 buah. Padahal panen besar di kebun berjarak 30 km dari kota Bogor itu 3 kali.

Prestasi dalam LBUN itu merupakan kado mengejutkan buat Thoriq. Maklum manajer kebun, Muhammad Irwan, mengirimkan buah tanpa sepengetahuan pria berparas Timur Tengah itu.

Dering telepon dari panitia meyakinkan Thoriq bila dewi asal Leuwiliang itu menjadi pemenang. “Alhamdulillah, ini merupakan anugerah dan menjadi motivasi untuk lebih baik di masa depan,” tutur Thoriq. Kemenangan itu kian manis lantaran beberapa hari usai lomba, 5 pemasok besar dari Jakarta dan Bogor meminta dipasok rutin. (Evy Syariefa/Peliput: Astutiningsih dan Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img