Coryanthes anggrek baru yang berhabitat di Meksiko. Bunganya unik dan harum.

Adelia Anastasia jatuh hati pada pandangan pertama ketika melihat sosok anggrek coryanthes disebuah pameran di Filipina. Bagi pehobi tanaman hias di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, sosok coryanthes unik. Lihat saja kantong bunganya mengingatkan pada sosok kantong semar Nepenthes sp. Bagian depan bunga itu mirip jamur tiram yang belum mekar. Di sebuah ekhisibisi itu Adelia membeli anakan terdiri atas 5—6 bulb.
Setelah tiba di Indonesia, ia memindahkan anggrek itu ke rangka kayu sebagai wadah tumbuh. Tanaman anggota famili Orchidaceae itu cepat berdaptasi, terbukti memunculkan umbi-umbi baru. Dalam waktu setahun, anggrek itu tampak rimbun. Pada November 2015, anggrek yang diperkenalkan oleh Sir William Hooker pada 1831 itu mulai berbunga. Meski hanya sebuah kuntum, penampilannya menarik. Tangkai bunga muncul dari dasar umbi dan menjuntai sepanjang 20—30 cm.
Masih langka

Sekuntum bunga berwarna kombinasi cokelat muda di bagian kepala dan kuning krem di bagian kantong menggelayuti tangkai itu 10—12 cm. Uniknya antara kepala dan kantong terdapat leher yang bergerigi, sehingga bunga anggrek itu pun menyerupai burung. Bunga yang mirirp oncidium itu juga menguarkan aroma harum. Sayangnya, daya tahan bunga rendah, hanya bertahan sehari.
Pada keesokan hari bunga layu, terutama pada bagian ekor, sedangkan kepala masih segar hingga 2—3 hari. Tepat sebulan kemudian atau pada Desember 2015, coryanthes itu kembali berbunga. Kali ini tangkai bunganya lebih panjang 30 cm. Dua kuntum bunga meng gelayutinya. Sama seperti sebelumnya, daya tahan bunga hanya 1 hari, setelah itu bagian ekor layu, sedangkan kepala tetap segar hingga 2—3 hari kemudian.

Menurut pehobi anggrek di Jakarta, Frankie Handoyo, coryanthes belum banyak masuk Indonesia sehingga sifat-sifatnya pun belum banyak dikenal. Kerabat vanili itu berhabitat asli dan tersebar luas dari Meksiko bagian utara, Bolivia, dan Brasil bagian selatan. Coryanthes menyukai habitat dengan kelembapan dan suhu tinggi. Contohnya di dekat sungai di hutan primer. Anggrek itu tumbuh di ketinggian 0—1.200 meter di atas permukaan laut.
Menurut Frankie coryanthes mempunyai sosok dan tipe pertumbuhan yang mirip stanhopea karena memang masih satu sub-suku yaitu stanhopeinae dan subfamili Epidendroideae. Jenis stanhopea lebih dikenal di Indonesia. Keduanya memiliki umbi semu dan ditumbuhi daun di atasnya. Namun, bentuk bunga keduanya sangat berbeda. Bila bunga coryanthes cepat layu, maka bunga stanhopea lebih tahan lama, 5—7 hari.
Itu karena sepal dan petalnya cukup tebal. Kantong bunga coryanthes tipis sehingga cepat layu. Menurut Frankie coryanthes di hutan sulit berbiak secara alami. Dibutuhkan serangga khusus bersosok sangat kecil di antaranya euglossa, eulaema, dan euplusia. Serangga itu tertarik datang ke bunga setelah mencium aroma harum putik matang. Setelah hinggap di kantong, serangga itu kerap mengalami nasib malang, yakni tergelincir ke dalam kantong.
Di dalam kantong biasanya terdapat air atau cairan yang membasahi sayap serangga sehingga tidak mampu terbang. Dengan sisa sisa tenaga serangga jantan itu memanjat ke atas ia akan melewati stigma dan punggungnya menyentuh tepungsari. Tanpa sengaja ia pun melewati polinarium sehingga menggesekkan tepungsari pada putik dan terjadilah pembuahan.
Perawatan mudah
Karena penyerbukan bunga coryanthes membutuhkan serangga khusus sehingga penyebaran anggrek itu pun terbatas. Namun, dengan melalui pemisahan rumpun anggrek itu bisa diperbanyak. Sebagian anggrek spesies, rajin berbunga sepanjang tahun. Sebagian lainnya jarang berbunga, atau hanya 1—2 kali setahun. Frankie mengatakan, faktor gen, genus, dan ketersediaan nutrisi serta lingkungan mempengaruhi “kerajinan” anggrek berbunga.

Pada musim hujan, ketersediaan air merangsang anggrek berbunga. Apalagi bila nutrisi memadai. ”Makanya anggrek budidaya lebih rajin berbunga daripada anggrek alam, karena terjamin nutrisinya,” kata pehobi yang acap bereksplorasi anggrek di seantero Indonesia itu. Contohnya dendrobium dan phalaenopsis dapat berbunga sepanjang waktu di kebun. Adapun di alam, keduanya hanya berbunga sesuai musim, biasanya peralihan musim panas ke hujan atau sebaliknya.
Meski tanpa perawatan khusus, coryanthes cepat berkembang biak dan berbunga. Menurut Kieny Kinoy, yang merawat anggrek coryanthes, tidak ada perawatan khusus. Saat ia memupuk dan menyemprot sansevieria, anggrek itu pun mendapat jatah. Kieny menyemprotkan pupuk NPK seimbang setiap pekan. Selain itu ia juga memberikan pestisida untuk mencegah penyakit. Setiap hari ia pun Kieny menyiram hingga basah. Dengan perawatan sederhana, anggrek itu rajin berbunga. (Syah Angkasa)
