Tuesday, May 5, 2026

Katrol Omzet 300%

Rekomendasi
- Advertisement -

Teknologi hidroponik menjanjikan laba bagi pekebun. Instalasi bertingkat mengatrol produksi dan omzet hingga 300%. Lahan sempit, cuaca ekstrem, modal cekak bukan lagi hambatan.

Bahrain sukses mengembangkan sayuran hidrponik di gurun pasir.
Bahrain sukses mengembangkan sayuran hidrponik di gurun pasir.

Kangkung siap panen itu tumbuh rapat di pipa polivinil klorida (PVC). Zekky Bachry membuat instalasi hidroponik dengan model talang bertingkat. Ia merancang model itu karena produksinya lebih tinggi ketimbang teknik hidroponik yang talangnya disusun secara horizontal. “Jumlah rata-rata produksi pada talang bertingkat 9,5 kg kangkung per m², talang horizontal hanya 3,5 kg,” ujarnya.

Artinya produksi melonjak hampir tiga kali lipat atau peningkatan 300%. Keruan saja omzet Zekky juga melonjak signifikan, 300% atau tiga kali lipat produksi pada sistem hidroponik horizontal. Demikian juga pada komoditas selada yang tumbuh di talang bertingkat. Zekky membangun 32 rak produksi hidroponik bertingkat berbahan pipa polivinil klorida (PVC) berdiameter 6,35 cm.

Produksi melonjak

Panjang pipa 12 meter terdiri atas 80 lubang tanam. Satu unit rak terdiri atas 24 pipa sehingga total terdapat 1.920 lubang tanam per unit atau instalasi hidroponik. Zekky lalu menanam kangkung di perangkat hidroponik itu. Dari setiap rak itu Zekky memanen rata-rata 30 kg kangkung sekali panen. Zecky yang belajar merakit secara otodidak itu lalu menjual hasil panen ke pasar swalayan dengan harga Rp20.000 per kg.

Biaya produksi kangkung hidroponik hanya Rp8.000 per kg. Artinya Zekky meraup untung hingga Rp12.000 per kg. Omzet petani hidroponik sejak 2015 itu mencapai Rp30-juta per dua pekan. Omzet sebanyak itu hampir sama dengan omzet saat ia peroleh ketika panen cabai saat harga jatuh Rp3.000 per kg. Padahal, untuk memperoleh omzet sebanyak itu Zekky hanya menggunakan lahan 3.000 m² atau seperlima dari luas areal tanam cabai dahulu.

Zekky Bachry membudidayakan sayuran dengan teknologi hidroponik bertingkat.
Zekky Bachry membudidayakan sayuran dengan teknologi hidroponik bertingkat.

Sebelum menekuni sayuran hidroponik, alumnus Fisika Universitas Indonesia itu memang menanam cabai. Harga tinggi menggiurkan Zekky Bachry untuk membudidayakan cabai di lahan miliknya di Ciapus Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. “Dulu tertarik menanam saat harga cabai Rp100.000 per kilogram,” katanya. Luas areal tanamnya pun tidak tanggung-tanggung, yakni mencapai 1,5 ha.

Dengan jarak tanam 60 cm x 60 cm, jumah populasi mencapai 41.000 tanaman. Dari jumlah populasi itu Zekky memanen rata-rata 1,5 kg cabai per tanaman atau total 61,5 ton cabai. Jumlah panen itu lebih tinggi daripada rata-rata jumlah produksi cabai nasional yang hanya 0,8 kg per tanaman. Namun, ia malah merugi karena saat panen harga terjun bebas, yakni hanya Rp3.000 per kg. Padahal, biaya produksi cabai mencapai Rp7.000 per kg.

Iklim ekstrem
Sejak itu Zekky berhenti membudidayakan cabai dan beralih menanam sayuran hidroponik pada 2015. Kini Zekky juga tengah mengembangkan aneka jenis selada di lahan miliknya di Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor. “Ada permintaan rutin selada hingga 200 kg per hari,” ujarnya. Itu menjadi bukti bahwa dengan teknik hidroponik pekebun dapat memperoleh hasil panen tinggi dari lahan yang lebih sempit.

Teknik hidroponik juga menjadi solusi untuk daerah yang beriklim ekstrem. Contohnya di Bahrain. Negara gurun di Asia barat daya itu terpaksa mengimpor 80% kebutuhan pangan dari berbagai negara seperti Belanda, Thailand, Malaysia, dan India karena tidak dapat memproduksi pangan sendiri karena kendala alam. Menurut ahli hidroponik dari Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat, Edi Sugiyanto, 92% kawasan Bahrain gurun pasir.

Suhu udara di negara yang terletak di Teluk Persia itu sangat ekstrem. Pada musim dingin, yakni pada Desember—Maret, suhu udara menukik tajam, hanya 6—8°C. Sebaliknya pada musim panas, April—Mei dan Oktober—November, suhu udara bisa mencapai 40—52°C. Pada musim panas, kelembapan udara di Bahrain mencapai 99% sehingga udara terasa semakin panas. Pada kondisi iklim seperti itu tanaman gagal tumbuh.

Hidroponik skala mini hasil rancangan Jimmy Halim.
Hidroponik skala mini hasil rancangan Jimmy Halim.

Namun, jika terus-menerus menyerah pada kondisi alam, maka keamanan pangan terancam. Kebutuhan pangan akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Salah satu perusahaan swasta di Bahrain mengubah ancaman itu menjadi peluang. Mereka membangun Peninsula Farm dengan menggelontorkan biaya investasi tinggi untuk membangun sarana produksi aneka jenis sayuran.

Di gurun pasir itu Peninsula Farm membangun rumah tanam untuk budidaya sayuran berteknologi hidroponik. Mereka mengadopsi teknologi canggih dan mengundang konsultan asal Eropa yang sukses memproduksi sayuran meski cuaca ekstrem saat musim dingin. Namun, mereka hanya lihai menyiasati cuaca ekstrem saat musim dingin. Mereka mengalami berbagai kendala saat musim panas yang tak pernah mereka alami di Benua Biru.

“Kendala itu membuat aktivitas menanam saat musim panas berhenti, seperti halnya saat musim dingin di Eropa,” kata Edi yang berpengalaman menjadi konsultan hidroponik di berbagai perusahaan ternama itu. Pada 2012, salah satu commercial grower asal Eropa meminta bantuan Edi untuk mengatasi kendala mengelola produksi sayuran di Peninsula Farm.

Teknologi canggih
Dengan berbekal pengetahuan dan pengalaman di bidang hidroponik, Edi pun melakukan berbagai modifikasi. “Sebetulnya konsepnya sederhana. Berikan apa yang tanaman inginkan. Setelah berhasil, baru kita modifikasi lagi agar hasil budidaya tanaman sesuai dengan keinginan kita,” tutur pria yang berpengalaman dalam dunia hidroponik sejak 20 tahun lalu itu.

Tieke Meiliana Utama memanfaatkan selasar di lantai dua rumahnya untuk memproduksi sayuran hidroponik.
Tieke Meiliana Utama memanfaatkan selasar di lantai dua rumahnya untuk memproduksi sayuran hidroponik.

Pada tahap awal, Edi memodifikasi rumah tanam agar kondisi iklim mikro seperti suhu udara, kelambapan, dan sinar matahari sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman. Untuk membudidayakan sayuran, Edi menggunakan teknologi hidroponik (baca “Hidroponik Padang Pasir” halaman 10). Menurut Edi hidroponik merupakan solusi terbaik jika tak ada lahan yang dapat ditanami seperti di padang pasir.

Edi juga memanfaatkan rak bertingkat dengan panjang 15 meter. Sebuah rak terdiri atas 16 talang dengan populasi 60 tanaman per talang. Pada musim dingin, yakni pada November—Juni, jumlah talang yang ditanami 16 talang, pada musim panas (Juli—Oktober) 11 talang. Menurut Edi produktivitas hidroponik bertingkat ala Bahrain itu mencapai 60 kg selada per m² per tahun.

Itu lebih tinggi dibandingkan dengan produksi hidroponik horizontal yang hanya 45 kg untuk komoditas sama. “Tapi kita harus tahu sistem pengelolaan iklim mikro dan nutrisi. Nutrisi untuk sistem bertingkat dan datar berbeda agar hasil panen optimal,” kata Edi. Dengan teknik budidaya nirtanah, negara petrodolar itu kini mampu mengurangi pasokan impor sayuran hingga 40%.

Menurut Edi teknologi hidroponik sejatinya bukan teknologi baru. “Hidroponik sudah dikenal dunia sejak seabad silam,” katanya. Itulah sebabnya perangkat hidroponik juga dapat dibuat dengan bahan-bahan sederhana. Tieke Meiliana Utama di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat, membuktikannya. Ia memanfaatkan kotak stirofoam bekas kemasan buah impor untuk membudidayakan sayuran hidroponik.

Hidroponik jinjing
Tatag Hadi Widodo juga memanfaatkan wadah bekas es krim untuk membuat perangkat hidroponik (baca Tumbuh di Atas yang Terbuang halaman 20). Bahkan, petani hidroponik meramu sendiri nutrisi dengan cara yang sederhana. Mereka memanfaatkan bahan-bahan organik, seperti tanaman kipahit Titania diversifolia sebagai bahan baku utama nutrisi.

Edi Sugiyanto sukses mengatasi kendala alam yang ekstrem di Bahrain sehingga sukses menjadi produsen sayuran hidroponik.
Edi Sugiyanto sukses mengatasi kendala alam yang ekstrem di Bahrain sehingga sukses menjadi produsen sayuran hidroponik.

Ia mencampur 25 kg kipahit bersama 25 liter air kelapa, 1 kg gula, dan 3 botol dekomposer. Ia menutup rapat semua bahan itu lalu memfermentasi selama 1—2 pekan (baca Ramu Pupuk Sendiri halaman 20). Dalam lima tahun terakhir hidroponik begitu populer di tanahair. Hidroponik dianggap menjadi solusi jitu budidaya tanaman di lahan yang terbatas. Beberapa praktikus hidroponik di tanahair membuat aneka rancangan perangkat hidroponik skala mini.

Contohnya Jimmy Halim yang memproduksi alat hidroponik yang hanya terdiri atas 30—60 lubang tanam. “Perangkat hidroponik skala kecil itu dapat menghasilkan sayuran minimal untuk konsumsi sendiri,” tutur Jimmy. Desainnya pun beragam, ada yang disusun vertikal dan juga dapat dibongkar pasang. Jadi, banyak cara untuk menanam sayuran berteknologi hidroponik. (Imam Wiguna)


Artikel Terbaru

Cara Menanam Pepaya California agar Cepat Berbuah dan Seragam

Sebagai pekebun yang ingin pepaya california cepat berbuah dan menghasilkan buah seragam, tahap awal yang penting adalah perkecambahan benih....

More Articles Like This