Friday, January 16, 2026

Kedelai Baru: Genjah, Produktif, Tahan Masam

Rekomendasi
- Advertisement -

Kedelai baru adaptif di lahan masam, produktif, berbiji besar, dan genjah. Panen hingga 15 hari lebih cepat.

Demas 2 adaptif dan produkstif di lahan masam. (Dok. Balitbangtan)

Trubus — Tumbuh di lahan masam, bukan kendala bagi kedelai demas 2 dan demas 3 untuk produktif. Produksi demas 2 mencapai 2,79 ton, sedangkan demas 3 hingga 2,66 ton per hektare. Produktivitas kedua varietas baru itu lebih tinggi 19,35% dan 15,41% daripada saudara tuanya demas 1. Itulah hasil uji yang dilakukan pada sentra kedelai lahan masam di Lampung dan Kalimantan Selatan.

Demas 2 berbiji besar plus genjah dengan umur masak 77 hari setelah tanam. (Dok. Balitbangtan)

Kedua varietas baru itu juga genjah. Varietas demas 2 masak polong pada umur 77 hari setelah tanam. Bahkan, kedelai demas 3 masak polong pada umur 76 hari. Pada umumnya kedelai panen pada umur 85—90 hari setelah tanam. Kelebihan lain kedelai demas 2 dan demas 3 berbiji besar. Bobot per 100 biji mencapai 14,99 gram. Bandingkan dengan bobot biji kedelai lain yang umumnya hanya 11—12 gram per 100 biji. Ukuran biji besar itu cocok dengan kebutuhan industri, khususnya untuk tempe.

Potensi lahan masam

Peneliti yang membidani kelahiran demas 2 dan demas 3 adalah M. Muchlish Adie, Ayda Krisnawati, dan Apri Sulistyoi. Mereka peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) yang meriset kedelai demas sejak 2009. Para periset merakit kedelai yang adaptif di lahan masam pada pH 4,00—kurang dari 6,00.

Bobot per 100 biji kedelai Demas 3 mencapai 14,40 gram (Dok. Balitbangtan)

Harap mafhum, potensi lahan masam Indonesia tergolong besar. Menurut Muchlish Adie potensi sumber daya lahan kering di Indonesia mencapai 148 juta hektare. Dari luasan itu, 102,8 juta hektare tergolong lahan kering masam. Namun, pemanfaatan lahan itu untuk budidaya kedelai terkendala karena pH tanah yang terlalu rendah sehingga pertumbuhan akar tidak optimal. Akibatnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman ikut terhambat.

Menurut Muchlish untuk mengatasi masalah itu ada dua pendekatan. Pertama, menambahkan pembenah tanah agar pH tanah optimal. Kedua, menggunakan varietas kedelai yang tahan atau adaptif di lahan ber-pH rendah. “Pendekatan pertama berdampak terhadap meningkatnya biaya usaha tani kedelai dan pemberian pembenah tanah harus dilakukan secara terus-menerus,” ujar peraih penghargaan inovasi pangan dan pertanian tingkat nasional 2015 itu.

Ayda Krisnawati, S.P., M.Sc. pemulia kedelai dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. (Dok. Balitbangtan)

Para periset memilih solusi kedua dengan merakit varietas tahan masam. Mereka merakit dua varietas Glycine max yang adaptif di lahan kering masam bernama demas 2 dan demas 3. Menurut Ayda demas singkatan dari kedelai adaptif lahan masam. Muchlish menuturkan, demas 2 dan demas 3 hasil persilangan kedelai G511H sebagai induk jantan dan varietas anjasmoro (betina).

Uji coba

Kedua induk demas 2 dan demas 3 itu memiliki keunggulan masing-masing. Anjasmoro unggul dari produktivitas yang tinggi mencapai 2,03—2,25 ton per hektare. Selain itu varietas anjasmoro juga tahan pecah polong. Kelebihan itu menitis pada kedelai demas 3. Selain genjah, kedelai Demas 3 juga tahan pecah polong. “Dari segi ketahanan terhadap pecah polong, demas 3 lebih unggul dibandingkan dengan demas 2 dan demas 1,” ujar Ayda Krisnawati.

Periset alumnus Jurusan Budidaya Pertanian, Universitas Gadjah Mada itu mengatakan, bobot per 100 biji kedelai itu mencapai 14,40 gram. Kandungan protein demas 3 mencapai 37,53%. Sementara itu kandungan lemak demas 3 hingga 19,72%. Sementara G511H adaptif di lahan masam. Kelebihan itu diturunkan kepada demas 2 dan demas 3 yang terbukti produktif di lahan masam.

Proses perakitan kedua varietas anyar itu membutuhkan waktu 11 tahun. Periset mengawali persilangan kedua tetua itu di rumah kaca dan melanjutkan dengan berbagai uji. Uji daya hasil pendahuluan (UDHP) dilakukan di kebun percobaan (KP) Jambegede, Malang, Jawa Timur, dan KP Muneng, Probolinggo, Jawa Timur. Sementara uji daya hasil lanjut (UDHL) dilakukan di kebun percobaan Balitkabi. Adapun uji adaptasi dilakukan di delapan lokasi yang tersebar di Lampung dan Kalimantan Selatan pada 2017 dan 2018. (Bondan Setyawan)

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img