Wednesday, January 28, 2026

Kedelai : Derek Tameng Etiella

Rekomendasi
- Advertisement -

Kedelai baru yang produktif, berbiji besar, dan tahan hama penggerek polong.

Trubus — Umur Etiella zinckenella baru tiga hari ketika mulai berulah. Ia menggerek polong kedelai untuk mencari makan. Keruan saja ulahnya itu merugikan para petani. Sebelumnya serangga dewasa keluarga Pyralidae itu meletakkan telur lonjong 0,6 mm di bunga atau bawah daun kedelai. Setelah telur berumur tiga hari berubah jingga, menetas, larva mencari makan dan menggerek bijinya. Kerusakan akibat serangan larva mencapai 70—80%.

Jumlah polong derek mencapai 61.

Jika tak terkendali, serangan penggerek polong yang rata-rat aberumur hingga 15 hari itu membuat petani gagal panen atau puso. Menurut pemulia kedelai di Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Dr. Heru Kuswantoro, S.P., M.P. serangan penggerek pada polong muda mengakibatkan kerontokan polong. Sementara serangan pada polong tua menurunkan kuantitas dan kualitas biji kedelai.

Persilangan

Para petani menempuh beragam pengendalian. “Sekitar 90% usaha pengendalian hama penggerek polong kedelai menggunakan pestisida kimia,” ujar Heru Kuswantoro. Padahal penggunaan insektisida kimia memerlukan biaya tingga dan tidak ramah lingkungan. Salah satu pengendalian yang ramah lingkungan tetapi jarang tersentuh adalah penggunaan varietas tahan penggerek polong.

Sejak 2006 Heru Kuswantoro bersama tim dari Balitkabi merakit varietas kedelai tahan penggerek polong. Alumnus Ilmu Pertanian, Universitas Brawijaya, itu menggunakan kedelai varietas anjasmoro sebagai tetua jantan dan kedelai varietas tanggamus sebagai tetua betina. “Baik anjasmoro maupun tanggamus merupakan varietas yang kurang disukai Etiella zinckenella dalam meletakkan telur,” ujarnya.

Dr. Heru Kuswantoro, S.P., M.P. meriset kedleai derek sejak 2006.

Tanggamus merupakan varietas dengan jumlah polong banyak, sedangkan anjasmoro merupakan varietas dengan ukuran biji besar. Para petani menyukai kedua karakter kedelai itu. “Persilangan untuk memperoleh galur kedelai dengan jumlah polong isi banyak, berbiji besar, dan berumur genjah. Persilangan juga diarahkan untuk memperoleh galur kedelai tahan Etiella zinckenella,” kata Heru.

Unggul dan tahan

Seleksi ketahanan terhadap penggerek polong dilakukan pada saat galur telah homozigot. Heru yang pernah menjabat Koordinator Plasma Nutfah itu menyeleksi ketahanan kedelai terhadap penggerek polong di rumah kaca dan lapangan. Penelitian selama 12 tahun itu membuahkan hasil. Heru dan rekan membidani kelahiran galur tahan penggerek polong dengan kode Tgm/Anj-910.

Mereka menamakan kedelai itu derek singkatan kedelai tahan penggerek. Kementerian Pertanian resmi melepas varietas baru itu pada 2018. Hasil pengujian Heru Kuswantoro membuktikan, kedelai varietas derek ampuh melawan penggerek polong. Pada uji coba serangan serangga itu hanya mampu merusak 47,67% polong dan 33,75% biji kedelai derek.

Bandingkan dengan kedelai varietas anjasmoro yang kerusakannya mencapai 67,39% pada polong dan 59,38% biji. Varietas wilis yang juga menjadi pembanding juga masih kalah dengan tingkat serangan pada polong mencapai 61,74% dan pada biji 36,59%. Dari segi produktivitas derek juga mengalahkan varietas pembandingnya. Rata-rata hasil derek 2,61 ton per hektare dengan potensi hasil 3,56 ton per hektare.

Hamparan kedelai varietas derek yang unggul
tahan hama penggerek polong.

Produktivitas varietas anjasmoro 2,38 ton per ha dengan potensi hasil 3,11 ton per ha. “Sementara kedelai wilis rata-rata hasilnya 2,31 ton per ha dengan potensi hasil 2,64 ton per ha,” ujar pemulia yang juga turut membidani kedelai unggul varietas tanggamus, sibayak, dan nanti itu. Umur panen Derek 84 hari setelah tanam (HST). Sama dengan anjasmoro, tetapi lebih cepat dari wilis yang mencapai 86 HST.

“Kelemahan derek pada kadar proteinnya yang masih kalah dengan anjasmoro,” kata Heru. Kadar protein derek 36,13%, anjasmoro 37,30%, dan wilis 37,85%. Beragam keunggulan derek terutama ketahanannya terhadap hama penggerek polong Etiella zinckenella—untuk menghargai entomolog Jerman Johann Zincken (1770-1856)— menjadi solusi untuk petani kedelai. Tujuannya agar produktivitas terjaga, keuntungan meningkat. (Bondan Setyawan)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img