Trubus.id—Pada 2024 Indonesia optimis untuk semakin kokoh sebagai pemain hilirisasi. Hal itu turut didorong dengan adanya peningkatan kebutuhan dalam negeri akibat adanya mandatori B30.
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono, dalam webinar Perkebunan Outlook 2024 yang diselenggarakan Gamal Institute pada Selasa, 30 Januari 2024 menjelaskan, devisa ekspor pada 2022 mencapai 39,07 Milyar US Dollar tertinggi sepanjang sejarah, sementara pada 2023 sekitar 25,58 Milyar US Dollar.
“Ternyata yang kita ekspor tidak lagi bahan baku Crude Palm Oil (CPO), produksi dari pabrik kelapa sawit. Tahun 2019 kita ekspor dalam bentuk CPO 7,4 juta ton, 2022 3,4 juta ton jadi tinggal 10 % dalam bentuk bahan baku selebihnya dalam bentuk refinery,” tutur Mukti.
Lalu pada 2023 ekspor CPO hanya 2.6 ton, sementara refinery palm oil 19,7 juta ton, oleochemical 3,8 juta ton. Ternyata ekspor tidak lagi bahan baku CPO, produksi dari pabrik kelapa sawit.
Tahun 2019 ekspor dalam bentuk CPO 7,4 juta ton, pada 2022 3,4 juta ton. Sisanya 10 % dalam bentuk bahan baku selebihnya dalam bentuk refinery. Negara tujuan utama antara lain Cina, India, Pakistan, Timur Tengah, Banglades, dan Uni Europa.
Paparan pada webinar tersebut menjelaskan pada 2024 diperkirakan kebutuhan dalam negeri akan meningkat apalagi jika terjadi mandatori B45. Hanya saja produksi diperkirakan tidak terlalu meningkat drastis.
Sementara realisasi replanting melalui program Peremajaan Kelapa Sawit Rakyat masih sangat rendah sehingga tidak terlalu memberikan dampak produksi signifikan dalam meningkatkan produksi.
Belum lagi pupuk masih jadi masalah sawit, pasalnya tidak ada lagi pupuk bersubsidi sehingga berkontribusi pada stagnasi produksi. Sementara El Nino yang terjadi di Indonesia lebih banyak di bagian selatan seperti di Jawa dan ada sedikit di Sumatra bagian Selatan, sehingga tidak terlalu berdampak di pada 2024.
“PSR dananya sudah disediakan BPDPKS, namun rekomentek masih terbatas walaupun transfer BPDPKS Rp8 Triliun sudah digelontorkan untuk peremajaan. Faktornya lambatnya realisasi salah satunya adalah legalitas lahan. Ada yang sudah yang punya sertifikat namun kemudian dinyatakan masuk kawasan hutan atau tumpang tindih dengan HGU. Selain itu karena harga bagus petani dengan meremajakan,” jelas Mukti.
Selain itu penurun produktivitas kelapa sawit juga terjadi di negara lainnya seperti Malaysia. Hal itu mengindikasikan perlu adanya intervensi dalam budidaya kelapa sawit melalui introduski varietas baru. Inovasi lain salah satunya serangga penyerbuk. GAPKI pun tengah menginisiasi introduksi dari Afrika.
Diperkirakan tahun 2024 konsumsi akan meningkat mencapai angka 25 juta ton minyak kelapa sawit untuk kebutuhan makanan, biodiesel, dan oleochemical, sehingga diperkirakan akan mengerus sementar ekspor karena produksi relatif tidak meningkat signifikan. Harga minyak nabati tidak akan mengalami perubahan.
Sehingga perlu adanya peningkatan realisasi PSR dan penyelesaian masalah lahan khususnya penyelesaian kebun sawit di lahan hutan sekitar 3 juta ha lahan . Selain itu perlu adanya pengembangan kebun kelapa sawit khusus yang didedikasikan kepada energi agar tidak menurunkan ekspor.
