Wednesday, January 7, 2026

Kelebihan Budidaya Ikan Nila Menggunakan Sistem Bioflok

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Lazimnya, tempat budidaya ikan nila berupa hamparan kolam tanah. Namun, belakangan ini peternak ikan nila bisa menggunakan kolam terpal dengan bak bulat berdiameter 4 meter.

Konstruksi wadah pemeliharaan nila bisa berbahan terpal dengan ketebalan 0,3 mm untuk dinding dan dasar wadah. Besi anyaman (wiremesh) berdiameter 6 mm berfungsi sebagai rangka dinding wadah. Sementara itu, fiber tipis atau karpet talang air sebagai pelapis dinding.

Kolam nila dengan desain seperti itu biasa disebut dengan kolam sistem bioflok. Sistem bioflok bukan hanya digunakan pada lele, melainkan untuk ikan nila pun bisa dan menguntungkan.

Budidaya sistem bioflok berisi beragam mikrob seperti bakteri, protozoa, fungi, fitoplankton, dan zooplankton. Semua mikrob itu bersatu padu mereduksi bahan organik sisa pakan dan kotoran ikan. Harapannya, kualitas air terjaga sehingga nila pun nyaman.

Tanpa bioflok, dijamin ikan mati karena kekurangan oksigen. Oleh karena itu, perlu organisme lain, yakni bakteri pengurai amonia sehingga bisa bermanfaat untuk ikan. Agar dapat tumbuh dan berkembang, bakteri heterotrof memerlukan 2 mg oksigen per liter air.

Pemanfaatan sistem bioflok pada nila tergolong baru di Indonesia. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, merilis secara resmi budidaya nila sistem bioflok di BBPBAT Sukabumi pada April 2018.

Penerapan dan pengembangan budidaya nila sistem bioflok sangat efektif dan efisien dalam penggunaan sumber daya air, lahan, dan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim. Adapun kelebihan budidaya nila sistem bioflok mampu meningkatkan kelangsungan hidup atau survival rate (SR) hingga lebih dari 90% dan tanpa penggantian air.

Kelebihan lain, budidaya nila sistem bioflok tidak mengganggu lingkungan sekitar karena airnya tidak berbau. Bahkan, sistem itu dapat disinergikan dengan budidaya sayuran dan buah karena terdapat mikrob pengurai limbah budidaya menjadi pupuk.

Selain itu, produktivitas budidaya nila sistem bioflok dapat membubung hingga 25–30 kg per m3. Jumlah itu 12–15 kali lipat lebih tinggi ketimbang kolam biasa, yakni 2 kg per m3. Semua keunggulan itu mendorong masyarakat untuk turut membudidayakan nila sistem bioflok.

Artikel Terbaru

Aksi Yayasan Bina Trubus Swadaya (YBTS) untuk Korban Banjir dan Longsor di Sumatra

Hujan deras yang mengguyur wilayah Sumatra pada akhir 2025 bukan sekadar angka curah hujan di laporan cuaca. Di lapangan,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img