Kelekak: Warisan Hutan Rakyat yang Menjaga Alam dan Kehidupan di Bangka Belitung

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id-Hutan memiliki fungsi vital—bukan hanya sebagai tempat hidup bagi berbagai makhluk dan penyerap karbon, tetapi juga sebagai sumber air, pangan, dan penghidupan masyarakat lokal. Di Bangka Belitung, hutan-hutan kecil yang dikenal sebagai kelekak memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan ekonomi dan sosial komunitas setempat.

Retno Kartini Savitaningrum Imansah, peneliti dari Pusat Riset Agama dan Kepercayaan (PRAK) BRIN, menjelaskan bahwa kelekak merupakan bentuk agroforestri tradisional yang menggabungkan unsur hutan, kebun, dan pertanian. “Kelekak biasanya berupa lahan keluarga seluas 1–2 hektare yang ditanami beragam pohon buah dan kayu,” ujarnya dalam Webinar “Merawat Lingkungan melalui Spirit Keagamaan”, Senin (25/08).

Dari perspektif ekoteologi dan ekonomi hijau, Retno melihat bahwa tradisi pengelolaan hutan berbasis kearifan lokal telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di berbagai wilayah Nusantara, termasuk di Bangka Belitung. Praktik ini tidak hanya bertumpu pada produktivitas, tetapi juga menjunjung prinsip keberlanjutan.

Salah satu prinsip utama kelekak adalah menebang dan menanam kembali. Bila sebuah kelekak tidak lagi memiliki pewaris yang jelas, lahan tersebut menjadi milik desa dan dikelola secara komunal. “Model ini tidak hanya memperkuat solidaritas sosial, tetapi juga menjaga keseimbangan ekologis,” jelas Retno dilansir pada laman BRIN.

Lebih dari sekadar penghasil buah-buahan seperti durian, manggis, dan cempedak, kelekak juga menghasilkan komoditas bernilai tinggi, seperti madu lebah klanceng (Trigona) dan jamur pelawan yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah per kilogram. Produk-produk ini turut memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Seiring waktu, banyak kelekak yang berkembang menjadi destinasi ekowisata. Di Hutan Pelawan misalnya, wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tapi juga bisa mencicipi kuliner khas seperti jamur pelawan dan mengikuti tradisi makan bedulang. Peran generasi muda melalui kelompok sadar wisata (pokdarwis) menjadikan kawasan ini sebagai ruang edukasi lingkungan sekaligus motor ekonomi lokal.

Tradisi kelekak pun erat kaitannya dengan nilai-nilai keagamaan. Masyarakat Melayu Bangka Belitung yang mayoritas Muslim memandang pengelolaan hutan sebagai bagian dari amanah sebagai khalifah di bumi—menjaga ciptaan Tuhan, tidak merusak alam, serta berbagi hasil panen. Praktik budaya seperti taber gunung, di mana tokoh adat dan agama terlibat bersama, mencerminkan harmoni antara nilai adat dan ajaran agama.

Meski demikian, pelestarian kelekak tidak lepas dari tantangan. Retno menyebut beberapa ancaman utama seperti alih fungsi lahan untuk tambang timah dan perkebunan, deforestasi, minimnya keterlibatan generasi muda, konflik antara ekonomi dan konservasi, serta kebijakan pemerintah yang belum konsisten.

Namun, peluang juga terbuka lebar. Penguatan ekowisata, program Satu Desa Satu Tujuan Wisata (Susena), insentif konservasi, serta peningkatan kesadaran masyarakat bisa menjadi kunci untuk menjaga dan mengembangkan kelekak. Kolaborasi antara pemerintah, komunitas lokal, dan lembaga swadaya masyarakat juga sangat dibutuhkan.

Tradisi kelekak bukan sekadar praktik pertanian atau konservasi, melainkan warisan ekologis, sosial, dan religius yang menyatu dalam kehidupan masyarakat. Ia menunjukkan bahwa pelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan dapat berjalan seiring. “Penguatan tradisi ini adalah salah satu cara menjawab tantangan kerusakan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan di Bangka Belitung,” tutup Retno.

https://trubus.id/wp-content/uploads/2026/08/spanduk-roll-banner-website.jpg.jpeg
Artikel Terbaru

Ekspor Florikultura Indonesia Tembus Rp3,51 Triliun, Kirim 59,6 Juta Komoditas

Trubus.id — Tanaman hias dan komoditas florikultura Indonesia semakin mendapat tempat di pasar internasional. Badan Karantina Indonesia (Barantin) mencatat...

More Articles Like This