Tuesday, November 29, 2022

Keluar dari Ancaman Krisis Buah

Rekomendasi

 

Di Purwakarta dan Tasikmalaya, keduanya sentra manggis di Jawa Barat, produksi hanya 10% dari biasanya. Sementara produksi mangga di Indramayu dan Cirebon (Jawa Barat) anjlok hingga 60%. Di Jepara, Jawa Tengah, pekebun durian pun mengeluh lantaran hasil panen drop 40%.

Anomali iklim yang terjadi beberapa tahun belakangan menjadi biangkeladi gagal panen. Mei-September 2010 yang harusnya disiram terik matahari malah diguyur hujan tiada henti. Padahal tanaman butuh minimal 2 bulan kemarau supaya terpicu berbunga dan berbuah.

Secara alami, kemarau merupakan mekanisme alam yang membuat tanaman merasa terancam hidupnya atau stres. Kondisi itu memicu pohon berbunga dan berbuah agar dapat menghasilkan biji untuk mempertahankan kelangsungan hidup spesiesnya. Tanpa adanya cekaman penyebab stres, tanaman cenderung tumbuh subur sehingga yang muncul adalah tunas-tunas vegetatif.

Bila hujan terus-menerus itu berlangsung lama, maka ancaman krisis buah dan pangan bukan sekadar isapan jempol. Upaya pencegahan harus dilakukan agar nikmatnya durian, manisnya rambutan, dan lezatnya mangga tetap bisa dicicipi di masa depan.

Cekaman buatan

Bagi pekebun buah ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang merugikan. Agar pohon dapat berbuah, dilakukan  cekaman buatan. Misalnya dengan melilitkan kawat di sekeliling batang pokok sehingga melukai kulit pohon atau dapat juga dengan mengerat kulit pohon melingkari batangnya. Perlakuan itu dapat membuat tanaman merasa tercekam sehingga merangsang pembungaan dan disusul pembuahan.

Nenek moyang kita dulu melakukan prinsip itu dengan membacok batang dengan golok. Namun, cara klasik itu tidak “berperiketanamanan” dan berbahaya karena lukanya terbuka sehingga rawan menjadi pintu masuk penyakit.

Agar optimal, teknik pengawatan itu harus dibarengi dengan membuat sistem drainase yang baik. Drainase sedalam 2 m dibuat di bawah tajuk agar air tidak menggenang di sekitar pohon. Drainase dibuat dalam supaya sebagian akar ikut terpangkas sehingga tanaman pun bakal merasa tambah tercekam. Setelah itu taburkan pupuk yang mengandung fosfor dan kalium tinggi. Tujuannya agar bunga yang terbentuk tidak gampang rontok dan buah tumbuh bagus.

Teknik cekaman lain yang juga dapat diberikan adalah pengasapan. Gas etilen hasil pengasapan masuk ke dalam stomata alias mulut daun. Akibatnya sel-sel daun tercekam dan membuat tanaman terpicu berbunga dan berbuah untuk menghasilkan biji sebagai keturunan baru.

Selain itu teknik perompesan tunas muda juga mendukung proses pembuahan. Dengan membuang tunas muda, energi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan tunas bisa dialihkan ke pembentukan buah. Cara ini cocok dilakukan pada tanaman tabulampot, sedangkan untuk pohon besar kurang efektif karena butuh banyak tenaga dan waktu lama.

Dengan sepaket perlakuan cekaman buatan itu diharapkan bila terjadi lagi musim hujan berkepanjangan, hasil panen yang hanya 10% dapat meningkat 40—50%. Kerugian akibat gagal panen karena iklim tak menentu pun dapat dikurangi. Pengamatan penulis paket perlakuan itu efektif untuk tanaman simpodial alias batang memiliki lebih dari satu titik tumbuh atau bercabang seperti durian, manggis, rambutan, lengkeng, duku, dan mangga.

Sementara pada tanaman monopodial yang berbatang tunggal seperti pepaya, pisang, kelapa, nenas, dan salak praktis tidak terlalu terpengaruh oleh perubahan iklim. Mereka tetap bisa berbunga dan berbuah meskipun terus diguyur hujan. Itu karena secara alami tanaman monopodial langsung terpicu berbunga saat ada cekaman yang kecil. Pengaruhnya hanya berupa penurunan kualitas buah, seperti rasa kurang manis.

Hikmah perubahan iklim

Toh, sebetulnya perubahan iklim juga membawa hal-hal baik. Beberapa pohon buah ternyata mampu bertahan dari perubahan iklim. Di beberapa lokasi masih ditemukan satu-dua pohon mangga, rambutan, dan durian yang berbuah lebat.

Meskipun telat berbuah mereka terbukti tidak banyak terpengaruh oleh perubahan iklim. Mereka semestinya dieksplorasi dan diseleksi sebagai calon indukan unggul. Kelak mereka bisa diperbanyak untuk menghasilkan bibit unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Gagal panen pada 2010 juga membuka peluang panen raya di pengujung 2011. Bila antara Mei-September 2011 nanti terjadi kering 2—4 bulan, maka pekebun buah bisa berharap panen raya di akhir 2011. Musim buah yang tertunda pada tahun lalu membuat energinya terakumulasi untuk berbuah lebat di tahun ini.

Oleh karena itu pekebun dan pihak terkait harus siap mengantisipasi hasil panen yang membludak. Jangan sampai buah pada saat panen raya malah terbuang percuma gara-gara kelebihan produksi. Teknologi pascapanen seperti pengawetan dan pengolahan buah mutlak dipersiapkan dan disosialisasikan di setiap sentra produksi buah sejak sekarang. Dengan begitu harga buah yang biasanya terjun bebas saat panen raya pun dapat dihindari. Pekebun pun tersenyum kembali. (Dr Ir Moh. Reza Tirtawinata MS, pakar tanaman buah di Bogor)

 

  1. Dr Reza Tirtawinata, penurunan produksi buah akibat hujan berkepanjangan dapat diminimalisir dengan membuat cekaman buatan. Tanaman buah secara alami akan berbuah bila terancam mati atau stres. Itu untuk menghasilkan keturunan baru dari biji yang ada dalam buah
  2. Produksi durian di sentra anjlok akibat hujan terus-menerus selama pertengahan 2010
  3. Secara tradisional pekebun membacok batang untuk merangsang pembuahan. Cara itu berisiko mendatangkan penyakit dan sebaiknya diganti dengan pengawatan batang
  4. Pasokan mangga saat ini terbatas lantaran produksi menurun akibat musim hujan berkepanjangan. Akibatnya harga mangga di pasaran pun meningkat

Foto-foto: Dok. Trubus

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img