Wednesday, January 28, 2026

Kiat Panen Sawit Meningkat

Rekomendasi
- Advertisement -

Memacu produksi sawit dengan bibit unggul, pemilihan lingkungan, dan perawatan optimal.

Produksi crude palm oil
ditentukan oleh kualitas bibit, perawatan, dan lingkungan.(Dok. Trubus)

Trubus — Data Badan Pusat Statistik menyatakan, produksi total crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah Indonesia 34,45 juta ton dengan luas lahan total 12,30 juta ha. Artinya rata-rata produktivitas sawit nasional 2,8 ton CPO per hektare pada 2017. Pada tahun sama, Malaysia memproduksi 19,92 juta ton CPO dari lahan seluas 5,81juta hektare, yang berarti produksi rata-ratanya 3,43 CPO per hektare.

“Itu karena lebih dari separuh lahan sawit Indonesia adalah kebun rakyat,” kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono. Ia menyatakan, banyak perkebunan rakyat cenderung abai prinsip budidaya yang baik (good agriculture practices, GAP). Wajar kalau produksi rendah. Joko menyatakan, produksi tandan buah segar (TBS) rata-rata kebun rakyat hanya 12—15 ton per hektare per tahun.

(Dok. Trubus)

Bibit unggul

Sudah begitu, akibat penanaman pohon dari bibit serampangan plus budidaya asal-asalan, rendemen minyak TBS kebun rakyat pun relatif rendah, kurang dari 20%. Hal itu berkebalikan dengan kebun perusahaan maupun pekebun plasma yang bermitra dengan perusahaan. Agronom di produsen Grup Wilmar International, Syaiful Bahri Panjaitan, S.P., M.Agric.Sc menyatakan, produktivitas rata-rata kebun yang dikelola grup Wilmar berkisar 24 TBS per hektare per tahun.

Angka itu lebih tinggi lagi ketika tanaman berada di umur puncak produksi, yaitu 12—16 tahun. “Produksi 26—30 ton TBS per ha per tahun,” kata Syaiful. Itu lantaran di Grup Wilmar maupun produsen sawit lain, “Pemupukan menjadi hal wajib, 37% biaya produksi adalah untuk membeli pupuk,” kata anggota staf Pemasaran dan Pengembangan Produk Grup Wilmar, Ramdhani, S.P. Di kebun yang letaknya jauh, biaya pupuk bahkan bisa sampai 50% lantaran tambahan ongkos pengangkutan.

Syaiful Bahri Panjaitan, SP, M.Agric. Sc., agronom produsen Pupuk Mahkota di Medan, anggota Grup Wilmar International di Sumatera Utara. (Dok. Trubus)

Meski begitu hasilnya memuaskan. Pemupukan teratur sejak bibit hingga produksi menjadikan produksi optimal sesuai potensi klon pohon sawit yang dikebunkan. “Bibit unggul menghasilkan produksi tinggi,” kata Syaiful. Untuk itu pemberian pupuk harus menyesuaikan dengan umur tanaman. Ia menganjurkan pekebun menanam klon sawit bersertifikat dari pembenih terpercaya atau balai penelitian, misalnya Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, Sumatera Utara.

Saking pentingnya bibit unggul, Grup Wilmar International mendirikan pembibitan khusus. Perusahaan pembibitan milik Wilmar, PT Tania Selatan, merilis 3 varietas unggul. PPKS Medan juga merilis varietas toleran jamur ganoderma berjuluk DxP 540 NG (baca “Tahan Gempuran Ganoderma” hal. 122—123). Tentu saja, biaya pengadaan bibit unggul tidak murah. Menurut Syaiful harga bibit produksi Tania Selatan minus ongkos kirim Rp9.000. Sementara itu, PPKS melepas bibit mereka seharga Rp16.000.

Faktor penting lain adalah kultur teknis. Hal itu mencakup persiapan lahan, kastrasi, dan perawatan—terdiri dari pemupukan, penanaman legume cover crop (LCC), serta pengendalian gulma. Kastrasi, perompesan bunga yang muncul ketika tanaman berumur 8—14 bulan, memastikan tanaman tidak berproduksi sebelum benar-benar siap. Hal itulah yang tidak banyak disadari pekebun rakyat. “Banyak yang bangga kalau pohonnya berbunga di umur setahun. Padahal kualitas TBS rendah karena pohon belum mampu menyuplai nutrisi untuk mengisi buah,” kata Syaiful.

Perlu hujan

Makin tua tanaman makin tinggi sehingga pemeliharaan dan panen tidak efisien. (Dok. Trubus)

Di pembibitan, saat tanaman berumur 0—14 bulan, sawit memerlukan asupan tinggi unsur makro berupa nitrogen dan fosfor. Unsur mikro yang vital adalah boron, “Untuk pembelahan sel,” kata Syaiful. Ia merekomendasikan pupuk jenis NPK Mg dengan rasio 15-15-6-4 dengan dosis 2,5 gram per liter air untuk 100 bibit. Memasuki umur setahun (tahun kedua), asupan kalium perlu ditambah untuk memperkuat ketahanan pohon terhadap hama atau penyakit.

Pupuk diganti dengan NPK Mg 12-12-17-2 dengan dosis 1 kg per tanaman per tahun. Dosis meningkat 1 kg tahun berikutnya, demikian seterusnya sampai menjadi 3 kg per tanaman per tahun untuk tanaman belum menghasilkan (TBM) umur 3 tahun. Setelah berproduksi, tanaman sawit memerlukan asupan pupuk NPK Mg 13-8-27-4 dan 0,5 B (borat) 3,5—5,5 kg per pohon per tahun untuk pohon umur 3—8 tahun. Di umur 9—14 tahun, dosis meningkat menjadi 5,5—7,75 kg per pohon per tahun.

Setelah berumur 14 tahun, asupan pupuk menurun lantaran produksi mulai stagnan. Pohon berumur lebih dari 14 tahun cukup mendapat pupuk NPK Mg 13-8-27-4 sebanyak 4,5—6 kg per pohon per tahun. “Asupan pupuk mempertahankan produksi, tapi pohon semakin tinggi sehingga perawatan maupun panen lebih sulit,” kata Syaiful. Itu sebabnya rata-rata pekebun sawit besar membatasi umur pohon maksimal 30 tahun. Jika terlalu tinggi, pekerja harus memanen maupun memotong pelepah dengan galah. Lebih sulit dan lebih lama sehingga efisiensi waktu berkurang.

Agar produksi optimal, sawit memerlukan lingkungan tumbuh yang optimal. “Pohon sawit memerlukan banyak air tapi tidak tahan genangan,” kata Syaiful. Di lahan rawa, pekerja perlu membuatkan parit untuk mengalirkan air. Toh, air kerap menjadi faktor pembatas yang tidak bisa ditentukan manusia. “Begitu hujan berhenti sama sekali lebih dari 2 bulan, tandan didominasi bunga jantan yang tidak produktif,” kata Syaiful.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono. (Dok. Trubus)

Contohnya ketika el nino menerpa Indonesia pada 2017, produksi CPO pun anjlok. Toh, sebelum pasrah kepada alam, pekebun perlu memaksimalkan upaya untuk mengoptimalkan produksi. Dengan dukungan cuaca, kebun bisa memproduksi minimal 24 ton TBS per ha dengan rendemen 23—25%, setara 5,5—6 ton CPO per ha per tahun. Tidak kalah dengan negara-negara produsen CPO lain. (Argohartono Arie Raharjo)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img