
Biopestisida kitosan mencegah dan menanggulangi serangan antraknosa pada cabai.

Trubus — Bercak hitam kecokelatan melingkar pada buah cabai isyarat serangan antraknosa. Masyarakat menyebut penyakit patek. Buah busuk, mengering, lalu jatuh. Menurut petani cabai di Nongkojajar, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Rianto, kegagalan panen akibat antraknosa mencapai 75%. Apalagi penanaman saat musim hujan serangan patek kian tinggi.
Menurut peneliti di Departemen Biologi, Institut Pertanian Bogor, Okky Setyawati Dharmaputra, antraknosa disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici. Akibat serangan antraknosa buah tanaman anggota famili Solanceae itu busuk.
Faedah kitosan
Menurut peneliti di Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT), Dr. Awang Maharijaya, S.P., M.Si., antraknosa dapat menyerang tanaman sejak buah mulai terbentuk hingga panen. Awang mengatakan, cendewan penyebab antraknosa bisa terbawa oleh benih, percikan air, maupun alat semprot. Pencegahan dengan membersihkan lahan dan tanaman yang telanjur terserang agar penyakit tidak menyebar.

Pemberian fungisida sistemik golongan triazole dan pyrimidin (0,05—0,1%) sebelum tanam siasat untuk mencegah serangan antraknosa. Kepala biro riset PT Riset Perkebunan Nusantara, Dr. Riza Arief Putranto DEA membuktikan, kitosan juga manjur menanggulangi antraknosa.
Riza mengatakan hal itu saat seminar Trade Summit Southeast Asia di Hotel Westin, Jakarta Selatan, pada 4—5 Desember 2018. Menurut Riza sumber kitosan banyak terdapat pada hewan yang memiliki cangkang, seperti rajungan, udang, kepiting, dan bekicot. Kitosan adalah bahan antimikrob, turunan zat kitin, mengandung enzim lisin dan gugus aminopolisakarida. Kitosan mampu menangkal antraknosa pada tanaman jagung dan cabai.

Dengan modifikasi penambahan senyawa “pembawa” atau carrier, kitosan menjadi berukuran nano. Kitosan nano lebih efektif mencegah dan menanggulangi antraknosa. Kini terdapat kitosan dalam bentuk cair. Para petani cabai dapat memanfaatkannya untuk menanggulangi patek. Riza menambahkan, dosis penggunaan kitosan nano bisa lebih irit hingga 20 kali lipat dibandingkan adengan aplikasi fungisida sintetis.
Itulah sebabnya penggunaan kitosan pun lebih ekonomis. Menurut Riza petani lebih hemat menggunakan pestisida nabati kitosan. Sebab, dosisnya lebih irit 20 kali lipat dibandingkan dengan penggunaan fungisida sintetis. Penggunaan kitosan juga lebih aman dan ramah lingkungan. Riza mengatakan, kitosan bersifat biofungsida yang sangat mematikan bagi cendawan penyebab antraknosa.

Biopestisida
Mekanisme kerja kitosan menaklukkan Colletotrichum sp dengan cara masuk ke jaringan cendawan. Kitosan beracun bagi cendawan sehingga membunuh dari dalam. Apalagi ukurannya nano, sehingga lebih efektif dan efisien. Aplikasi kitosan bisa untuk pencegahan dan penanggulangan patek. Dosis untuk penanggulangan dua kali lipat dibandingkan dengan pencegahan.
Pada beberapa kasus, antraknosa justru menyebar pada buah cabai setelah panen. Satu buah terkena antraknosa berpotensi menyebar ke buah sehat ketika pengiriman atau penyimpanan. Menurut Riza aplikasi kitosan itu sangat mungkin untuk pascapanen. Artinya setelah memanen cabai, petani dapat menyemprotkan kitosan untuk mencegah atau menanggulangi antraknosa.
Fungsi kitosan untuk coating buah dan sayur, sehingga bisa mencegah antraknosa. Menurut Riza biopestisida nano kitosan kini masih dalam tahap pengembangan. Jika tidak ada aral akan dilepas sebagai produk pada 2019. Menurut ketua CropCare, Joko Suwondo, peran pemerintah amat strategis dalam memajukan biopestisida di Indonesia. (Muhamad Fajar Ramadhan)
