Pehobi mulai mengoleksi pseudolithos dan huernia. Sukulen bersosok apik.

Trubus — Nama pseudolithos memang tak setenar sukulen lain seperti agave, haworthia, dan aloe. Sekilas penampilan tanaman kurang menarik karena serupa batu sesuai dengan namanya—pseudo artinya palsu, sedangkan lithos berarti batu. Bagi Sugita Wijaya, kolektor sukulen di Surabaya, Jawa Timur, pseudolithos merupakan sukulen yang berpenampilan menarik.
Lihat saja koleksi Sugita berupa P. harardheranus berkepala dua. Tanaman dalam balutan pot hitam itu berbentuk bundar dengan permukaan menggerinjul. Tubuhnya berselimut warna hijau dengan sedikit taburan rona putih. Sugita juga mengoleksi P. migiurtinus yang mengalami mutasi kristata. Migiurtinus itu mengalami mutasi di bagian titik tumbuhnya sehingga penampilan tanaman tampak gepeng di bagian puncak.
Kurang sedap
Pseudolithos merupakan tanaman dengan habitat asli dari Somalia, Yaman, dan Oman. Migiurtinus berasal dari wilayah Gunung Migiurtina di timur laut Somalia. Bunga migiurtinus berukuran mini dan membentuk klaster. Tanaman itu menyukai lingkungan bercahaya penuh, tetapi tidak terlalu panas. Ia juga senang tinggal di lokasi dengan sirkulasi udara lancar.

Kolektor sukulen di Jakarta Pusat, Fernando Manik, juga mengoleksi puluhan pseudolithos baik spesies maupun hasil silangan. Fernando tertarik pada sosok tanaman yang eksotis. Sebut saja P. migiurtinus x dodsoniana dari hasil perbanyakan anakan yang didapat dari seorang rekan. Pseudolitas hibrida itu tampak nyentrik lantaran berkerut-kerut dengan balutan warna hijau keabuan.
Warna bunga merah tua berukuran mini dan beraroma kurang sedap. “Bunga yang bearoma busuk itu berguna untuk menarik lalat sebagai agen penyerbukan,” kata Fernando. Di habitat asalnya bunga mekar biasanya pada musim panas. Selain pseudolithos, Fernando juga mengoleksi huernia. Sukulen yang masih kerabat pseudolithos itu berbunga variatif. “Pehobi biasanya tertarik untuk merawat huernia karena keindahan bunganya,” ujarnya.

Fernando mengumpulkan berbagai jenis huernia klangenannya di rumah tanam di lantai dua kediamannya. Di sana ia menempatkan Huernia kennedyana, H. thuretii bean S.N Kalinyanga Engocobo, H. barbata PVB 9864, dan H. hallii PVB 3529. Habitat asal huernia tersebar di seluruh kawasan timur dan selatan benua Afrika seperti Afrika Selatan, Namibia, Tanzania, dan Ethiopia.

Mereka hidup di bawah pepohonan. Penduduk Ethiopia bahkan memanfaatkan jenis huernia tertentu sebagai bahan pangan. Nama huernia berasal dari nama seorang botani asal Belanda, Justin Heurnius. Ia merupakan kolektor pertama yang memiliki huernia pada 1600-an. Namun, huernia baru berhasil dideskripkan oleh ilmuwan pada 1800-an.
Bentuk batang huernia membulat panjang dan bersegi-segi. Pertumbuhan batang cenderung melengkung ke atas. Bunga huernia berpenampilan menarik dengan warna dan motif cantik. Ada yang berwarna merah, kuning, dan bercorak serupa zebra. Mayoritas genus huernia mempunyai bunga berukuran kecil dengan mahkota berlobus 5. Bunga biasanya muncul saat musim panas.
Cantik
Kennedyana begitu nyentrik dengan batang berwarna hijau keunguan dan gendut. Duri-duri mini nan lunak tampak menghiasi tubuhnya. Bunga kennedyana berwarna kuning dengan garis-garis putus berwarna hitam. Fernando menuturkan pertumbuhan kennedyana sangat lambat. “Dalam setahun hanya muncul 2 cabang,” katanya.

Penampilan thuretii juga elok dengan tubuh berwarna hijau dan bersegi. Batang thuretii cenderung tinggi dan ramping dibandingkan dengan kennedyana. Bunga yang muncul berwarna kuning bercorak merah tua. Barbata dan hallii juga tak kalah unik. Barbata mempunyai bunga berwarna krem dengan totol merah marun. Sementara itu hallii berbunga krem dengan garis-garis kecil berwarna merah.
Fernando menuturkan keindahan bunga huernia bisa dinikmati selama 3—5 hari dengan waktu mekar dari kuncup hingga merekah selama sepekan. Ia meletakkan tanaman pada pot plastik berisi media tanam berupa sekam bakar, pasir malang, dan batu apung masing-masing dengan perbandingan sama. Nutrisi berupa pupuk lambat urai dengan kandungan kalsium tinggi dan nitrogen rendah.
“Huernia mudah dirawat asalkan media tanam porous dan mendapatkan sinar matahari cukup. Musababnya, huernia terancam busuk jika media tanam terlalu banyak mengandung air,” ujar Fernando. Lakukan penyiraman saat media tanam sudah kering. (Andari Titisari)
