Friday, June 12, 2026

Medco Foundation Bekerja Sama dengan Kelas Trubus Tingkatkan Kompetensi Guru di Barito Utara

Rekomendasi

Guru-guru dari berbagai pelosok Barito Utara menempuh perjalanan “tak biasa” ke Muarateweh untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.

Erni Iris menempuh perjalanan tiga jam dari Haragandang, Kabuapten Barito Utara, Kalimantan Tengah, dengan mengendarai sepeda motor. Ia melewati jalan tanah merah dan belantara. Guru Sekolah Dasar Negeri 01 Haragandang itu bersyukur tidak  turun hujan selama dalam perjalanan. “Kalau hujan, kami bermalam di jalan,” kata Erni. Keruan saja waktu tempuh makin lama.

Sejatinya jarak Haragandang—Muarateweh relatif dekat, sekitar 136 km. Namun, sebagian besar jalan berupa tanah merah. Jika hujan turun, menurut Erni, jalan pun sulit dilalui. “Kalau hujan, jalan rusak. Roda (motor) tak bisa berputar,” kata guru di SD Karendan, Barito Utara, Agustinus, S.Pd. yang juga menempuh perjalanan tak biasa itu. Ia memperlihatkan video dan foto kondisi jalan tanah menuju Muarateweh yang rusak parah melalui telepon genggamnya. Jalan berubah menjadi lumpur.  Sarjana Pendidikan itu merekam dan memotret jalan itu ketika berangkat ke Muarateweh.

Untuk mengantisipasi hal itu, Erni berangkat lebih awal, bahkan empat hari sebelum jadwal pertemuan yang dimulai pada 6 Mei 2026. Bukan hanya itu, di jok belakang motor ia juga menambahkan ranjut—keranjang tradisional—berisi beragam penganan seperti nasi, lauk-pauk, dan mi instan, korek api, serta terpal berukuran 4 m x 3 m. Terpal berguna sebagai peneduh ketika hujan turun. Aneka penganan menjadi bekal selama perjalanan.

Mobil patroli

Lima guru SMP Yayasan Pendidikan Bangkanai (YPB), Kabupaten Barito Utara, juga menghadapi tantangan ketika hendak ke Muarateweh karena hujan turun. Pada saat bersamaan mobil patroli Medco Energi Bangkanai melintas. Aulianur Fajri dari Public Affairs and Sucurity Medco mengatakan, mobil patroli lazimnya mengecek kondisi pipa gas sebagai bagian dari sistem produksi.

Melihat kesulitan para guru, petugas patroli menaikkan tiga motor ke mobil bak terbuka itu. Lima guru (Andriano, Helsa, Marindu, M.R. Penyang, dan Tommi Jusua) pun menumpang mobil dobel gardan itu hingga ke Muarateweh.     

Perjalanan Erni, Agustinus, dan guru-guru lain ke Muarateweh pada awal Mei 2026 itu demi mengikuti pelatihan pemanfaatan media digital untuk pembelajaran. Sebagian besar peserta, mengalami hambatan untuk mencapai lokasi pelatihan. Keruan saja mereka juga harus meninggalkan keluarga, termasuk anak yang tengah sakit. Namun, mereka tetap antusias untuk mendapat keterampilan dan pengetahuan baru dalam pembelajaran. Mereka berjibaku—bertindak “nekat” dalam keadaan yang sulit.

Selain itu, mereka juga memperoleh materi komunikasi publik, literasi digital, produksi media pembelajaran, dan penjenamaan diri (personal branding) selama mengikuti pelatihan. “Materinya menarik dan relevan, saya jadi punya pengalaman baru,” kata guru di SD Negeri Muarapari, Wiwin Narti. Selain itu, mereka juga praktik membuat aneka media pembelajaran seperti video yang dipandu instruktur.

Kegiatan berlangsung dua hari pada Rabu dan Kamis (6—7 Mei 2026) pukul 08:00—16:00. Lokasi pelatihan di aula kantor  Kecamatan Lahei, Kabupaten Barito Utara—sekitar 20 km dari Muarateweh. “Kalau bisa pelatihan begini bisa diadakan minimal dua kali setahun,” ujar Agustinus. Beberapa peserta lain seperti Rika Yurna dan Samsinar—keduanya guru SD Negeri Haragandang—berpendapat serupa.

Peserta pelatihan itu guru-guru SD dan SMP dari berbagai wilayah di Barito Utara seperti Karendan, Muarapari, Luwehulu, dan Rahaden. Penyelenggara pelatihan itu adalah Medco Foundation. Jumlah peserta 29 guru. Education & Literature Program Lead, Medco Foundation,  Oktin Catur Palupi, mengatakan,  pelatihan itu atas permintaan Medco E & P Blok Bangkanai, Kalimantan Tengah.

Nilai melonjak

Supervisor Public Affairs and Security Medco Energi Bangkanai, Asep Ahmad, mengatakan, pelatihan pembelajaran mendalam dengan pemanfaatan kecerdasan buatan juga bentuk kepedulian Medco terhadap pendidikan Indonesia. Instruktur pelatihan adalah praktisi komunikasi Dr. Sardi Duryatmo, M.Si. dan Hafidh Dama, A.Md., S.Sos. dari Kelas Trubus, divisi Majalah Trubus yang fokus pada pengembangan sumberdaya manusia.

Menurut Asep Ahmad metode pembelajaran mendalam (deep learning) yang  dicanangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah membutuhkan kompetensi para guru untuk mewujudkannya. Para guru dituntut mampu menyampaikan materi secara mendalam melalui berbagai sarana, termasuk sarana digital. Oleh karena itu, upaya peningkatan kapasitas tenaga pendidik perlu terus dilakukan.

Supervisor Public Affairs and Security Medco Energi Bangkanai, Asep Ahmad (paling kanan) dan Education and Literature Program Lead, Medco Foundation, Oktin Catur Palupi (paling kiri). (Foto: Sardi Duryatmo)

Medco Energi Bangkanai ingin terlibat dalam peningkatan kapasitas guru melalui penyelenggaraan pelatihan pembelajaran mendalam digital (digital  deep learning). Perusahaan energi itu menjadi salah satu pihak yang berkomitmen mendorong penguatan kapasitas guru dalam penguasaan digital deep learning itu.

Dalam sambutannya, Nourmaulidah, S.Pd. mewakili Kepala Bidang Kelembagaan dan Peningkatan Mutu Dasar, Dinas Pendidikan Kabupaten Barito Utara, mengatakan bahwa kegiatan ini mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam memanfaatkan teknologi digital serta pendekatan deep learning dalam proses pembelajaran di sekolah.

Hasil pelatihan menunjukkan pengetahuan para peserta meningkat signifikan sebagaimana dibuktikan dengan nilai prates (sebelum pelatihan pada hari pertama) dan nilai postes (setelah pemberian materi berakhir pada hari kedua). Semua peserta menjawab semua pertanyaan melalui google form. Nilai prates mereka rata-rata 77,24 sedangkan nilai postes 91,20. Hal itu salah satu indikator pengetahuan mereka meningkat.

Dalam kesempatan itu, para peserta juga mendapatkan materi industri hulu minyak dan gas bumi yang disampaikan oleh Supervisor Public Affairs and Security Medco Energi Bangkanai Ltd, Asep Ahmad. Menurut Asep penjelasan materi itu diharapkan dapat membuka wawasan tambahan kepada para guru mengenai sektor energi serta relevansinya dalam pembelajaran kontekstual di sekolah.

Medco dan instruktur akan mendampingi para guru itu selama dua bulan.  Ketika mereka mempraktikkan pengetahuan dan menghadapi kendala, tim akan membantu mengatasinya. Saat pelatihan berlangsung pun, mereka terhimpun dalam sebuah grup whatsapp. Hal itu untuk memudahkan komunikasi di antara para peserta, penyelenggara (Medco), dan instruktur.

Para guru dari berbagai wilayah itu berjanji memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dalam pembelajaran di kelas pada masa mendatang. Tentu saja mereka juga menghadapi tantangan seperti ketersediaan jaringan internet di pedalaman. Sekali lagi, mereka pun harus berjibaku. (Dr. Sardi Duryatmo, M.Si.)


Artikel Terbaru

Pascapanen Tepat, Kunci Hasilkan Beras Sorgum Berkualitas

Trubus.id — Sorgum semakin dilirik sebagai sumber pangan alternatif karena kaya serat, bebas gluten, dan dapat diolah menjadi beras...

More Articles Like This