Friday, May 8, 2026

Aeroponik Kentang, Biopestisida, dan IoT Perkuat Pertanian Modern

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Inovasi teknologi hortikultura terus berkembang untuk menjawab tantangan produksi pangan yang efisien dan berkelanjutan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Balai Benih Kentang (BBK) Pengalengan, Jawa Barat, mengembangkan sejumlah teknologi baru mulai dari sistem aeroponik kentang hingga precision farming berbasis internet of things (IoT).

Salah satu inovasi yang menjadi perhatian ialah pengembangan teknologi perbenihan kentang berbasis sistem aeroponik. Teknologi itu dikembangkan secara kolaboratif oleh BRIN dan BBK Pengalengan untuk meningkatkan kualitas serta produktivitas benih kentang.

Kepala BBK Pengalengan, Tatang, mengatakan teknologi tersebut terus disempurnakan, termasuk penggunaan penyangga lubang tanam sistem empat arah untuk mengoptimalkan pertumbuhan stek berakar kentang.

“Kami sedang mematangkan teknologi aeroponik ini dan hasilnya direncanakan dipatenkan bersama sebagai joint patent antara BRIN dan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat,” ujar Tatang.

Sistem aeroponik memungkinkan akar tanaman memperoleh suplai oksigen lebih optimal karena akar menggantung di udara dan mendapat nutrisi melalui kabut atau semprotan larutan hara. Metode itu dinilai mampu menghasilkan benih kentang lebih sehat dan seragam.

Selain pengembangan benih, pengendalian organisme pengganggu tanaman juga menjadi fokus penelitian. Penyakit seperti hawar daun, antraknosa, dan fusarium pada kubis serta bawang merah menjadi tantangan utama di lapangan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, periset BRIN mengembangkan biopestisida berbasis agen hayati seperti Bacillus dan Metarhizium. Biopestisida itu diharapkan efektif menekan serangan hama sekaligus lebih ramah lingkungan dibanding pestisida kimia sintetis.

Pendekatan pengendalian tersebut tidak hanya menyasar hama dewasa, tetapi juga telur hama sehingga pengendalian lebih menyeluruh.

Dalam bidang pemuliaan tanaman, BRIN juga memperkenalkan varietas unggul baru kentang bernama “Bimasakti”. Varietas turunan Bio Granola itu memiliki ketahanan terhadap penyakit hawar daun Phytophthora.

Peneliti BRIN, Kusmana, mengatakan varietas tersebut saat ini masih dalam tahap pemeliharaan kultur jaringan sebelum diperbanyak secara luas.

“Varietas ini dirancang untuk menjawab kebutuhan petani terhadap benih yang tahan penyakit dan berdaya hasil tinggi,” kata Kusmana.

Di sisi lain, teknologi digital mulai diterapkan dalam sistem budidaya hortikultura melalui konsep precision farming berbasis IoT. Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN, Dwinita Wikan Utami, mengatakan pihaknya telah bekerja sama dengan kelompok tani di Pangandaran untuk mengembangkan teknologi tersebut.

Sistem itu mencakup efisiensi penggunaan air dan hara, serta deteksi dini serangan hama berbasis sensor suara. Dengan teknologi IoT, pengelolaan budidaya menjadi lebih presisi dan responsif terhadap kondisi di lapangan.

“IoT memungkinkan pengelolaan budidaya yang lebih presisi dan responsif terhadap kondisi lapangan,” ujar Dwinita.


Artikel Terbaru

Tiga Herbal yang Berpotensi Membantu Menurunkan Kolesterol

Trubus.id — Pola makan kurang sehat menjadi salah satu pemicu utama tingginya kadar kolesterol. Konsumsi makanan tinggi lemak seperti...

More Articles Like This