Kombuca mendatangkan laba. Generasi milenia menjadi pasar menarik.
Trubus — Erina Ekawati Azis menyodorkan beberapa botol minuman dengan isi berwarna warni. Ada yang merah, kuning, atau hitam. “Silakan coba, ini dibuat dari beras kencur,” kata Erina—salah satu pendiri Heal Probiotic, produsen minuman berbasis kombuca di Menteng, Jakarta Pusat. Bersama rekan yang ia jumpai ketika menempuh pendidikan di Cornell University, Ithaca, New York, Amerika Serikat, Pratita Ichwani Chusnun, Erina meracik kombuca dalam berbagai rasa.

Tita—panggilan Pratita—lantas mengemas minuman sehat itu dalam botol kaca berkapasitas 370 ml. Mereka memberi nama heal! Probiotic pada minuman itu. Famili, relasi, dan teman-teman mereka menggemari minuman hasil fermentasi bikinan mereka. Setiap pekan penjualan 5—6 lusin atau rata-rata 250 botol per bulan. Harga per botol paling murah Rp35.000, omzet bulanan heal! Probiotic menyentuh Rp8 juta.
Omzet jutaan
Pertama kali memproduksi pada akhir 2017, Tita hanya mengemas sekitar 20 botol. Dalam hitungan bulan, jumlahnya berlipat 10 menjadi sekitar 200 botol. Penjualan mengandalkan saluran media sosial, marketplace, dan toko produk organik di Jakarta dan sekitarnya. Dua tahun terakhir, makin banyak produsen kombuca yang mengemas dalam wadah apik. Itu menandakan pergeseran dengan era 1990-an atau awal 2000.
Menurut pegiat kombucha di Kota Bandung, Jawa Barat, Arsenius Sutandio kombuca pernah tren pada akhir dekade 1990 hingga awal 2000. Sementara tren kedua ini terasa sejak 5 tahun lalu. Bedanya, “Sekarang beredar produk kombuca yang dipadu dengan berbagai rasa,” kata alumnus jurusan Teknik Informatika salah satu akademi di Bandung itu. Produsen kombuca kini menambahkan beragam herba seperti jahe, kunyit, atau temulawak.
Dahulu masyarakat memproduksi kombuca atau jamur dipo dan tidak mengemas dalam botol. Cita rasanya pun tunggal. Arsenius menyatakan bahwa tren di tanah air jauh tertinggal dari mancanegara, khususnya Amerika Serikat. Tren saat ini terbilang mengikuti tren yang muncul di Negara Abang Sam itu sejak 10 tahun terakhir. Kombuca minuman hasil fermentasi mengandung beragam senyawa aktif. Sekadar menyebut beberapa adalah asam glukonat, asam glukoronat, asam laktat, asam asetat, dan asam glukonolakton. Selain itu kombuca menghasilkan berbagai macam vitamin C dan vitamin B.

Masyarakat menggemari kombuca. Buktinya banyak produsen yang penjualannya terus membubung. Ignatia Herty Ranthy Ully, S.T.P. bersama 3 rekan, Eric Prasetya, Aldrian Kuswandi, dan Sentanah Limmase, pada Mei 2016 memproduksi minuman sehat dengan merek Hakko—bahasa Jepang artinya fermentasi. Produk awal mereka tidak dijual, hanya dibagikan percuma kepada teman dan tetangga kos. Tidak sekadar memberikan minuman gratis, mereka meminta umpan balik dari para “pelanggan” pertama itu.
“Kami menjaring masukan tentang rasa, harga, dan berbagai hal yang biasanya diinginkan konsumen,” kata alumnus Departemen Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor itu. Herty dan rekan-rekan menjual Hakko dalam botol kaca berkapasitas 330 ml seharga Rp25.000—Rp30.000. Setiap bulan mereka berproduksi 2—3 kali masing-masing setara 600 botol. Dengan demikian tiap bulan omzet minimal Hakko Rp30 juta.
Saat pertama kali serius berbisnis, kapasitas produksi mereka hanya 100 botol per bulan. Percobaan pertama mereka lakukan di kamar Eric, menggunakan panci milik Eric dan kompor lapangan milik Aldrian. Setelah mengikuti berbagai kompetisi, mereka mendapat fasilitas di lembaga inkubator bisnis IPB. Mereka lulus kuliah pada pertengahan 2017, sehingga fasilitas itu berakhir. Oleh karena itu, mereka memindahkan produksi ke rumah Eric di Kota Bekasi, Jawa Barat.
Herty lantas menawarkan lokasi milik orang tuanya di Kota Bandung, Jawa Barat. Rumah tinggal seluas 6 x 6 m2 yang pernah menjadi kantor itu menyediakan beberapa ruangan terpisah. Kondisi itu cocok untuk proses produksi. Ruang untuk produksi dan fermentasi terpisah dengan ruang untuk pengemasan dan pelabelan. Ruang untuk meletakkan kulkas penyimpanan produk pascakemas pun terpisah dengan gudang bahan baku.

Seperti Tita dan Erina, penjualan Hakko pun mengandalkan kanal media sosial, marketplace, dan aplikasi ponsel pintar. Mereka juga mengandalkan kerja sama dengan distributor di Medan, Jakarta, Bogor, Bekasi, Surabaya, dan Bali. Sementara itu Tita masih berjuang meluaskan pasar ke seputaran Jakarta seperti Tangerang, Serpong, Depok, atau Bogor.
Lucunya, “Produk kami justru sudah sampai ke Bandung, Semarang, dan Bali melalui distributor,” kata Erina. Permintaan yang belum terlayani datang dari Palembang (Sumatera Selatan), Purwakarta (Jawa Barat), dan Purwokerto (Jawa Tengah). Menurut Tita, ia masih mencari metode pengiriman yang efektif agar produk tidak rusak setiba di tujuan. Maklum, fermentasi terus berlangsung selama produk belum dikonsumsi. Konsumen yang belum tahu kerap mengeluhkan “ledakan” akibat akumulasi gas dalam botol.
Disuka mertua
Di Jakarta Selatan, Joy Paramita Surya tertarik memproduksi kombuca sejak mencicipi produk itu di Amerika Serikat pada 2015. “Rasanya unik dan membuat penasaran,” kata alumnus International Business Marketing Indiana University, Amerika Serikat itu. Sejak beralih ke gaya hidup vegetarian, ia kesulitan mencari kudapan atau minuman yang sesuai bagi kaum vegan. Apalagi anak keduanya menderita berbagai alergi sehingga ia harus super teliti memilih asupan. Kombuca salah satu dari sedikit asupan yang tidak memicu alergi sang anak.
Sejak itu Joy belajar membuat kombuca. Ternyata, “Setelah konsumsi kombuca, alergi anak saya tidak mudah kumat,” kata perempuan 36 tahun itu. Sejak rutin minum kombuca, reaksinya terhadap berbagai jenis alergen berkurang. Menurut Joy, frekuensi kumatnya pun dalam setahun tidak sampai 5 kali.
Begitu di rumahnya tersedia kombuca, suami dan mertuanya pun ikut gandrung minum teh fermentasi itu. Mertua Joy sampai membuat di rumah untuk dikonsumsi sendiri. Sang mertua kerap menyuguhkan kombuca bagi tamu yang bertandang. “Banyak yang suka lalu memesan. Akhirnya saya berjualan sekalian,” kata sulung dari empat bersaudara itu. Saat itu Joy membuka gerai bakery di salah satu mal kelas elite di Jakarta Selatan. Ia memajang kombuca merek Sweet Gems buatannya.

Setelah masa sewa gerai berakhir, Joy mengandalkan penjualan daring melalui kanal media sosial dan marketplace. Sayang, baik Joy maupun Arsenius menolak mengungkap angka penjualan. Yang jelas, “Saya orang pertama di Indonesia yang menjadi full timer kombucha brewer dan nyatanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup,” katanya sembari melangkah ke mobilnya.
Penghargaan
Dari semua produsen kombuca tersebut di atas, hanya Hakko yang berangkat dengan motif ekonomi. Lainnya karena ingin menyediakan minuman sehat bagi kalangan terdekat. Erina dan Tita menomor satukan misi memperkenalkan minuman probiotik yang enak dan, “Kalau diramu dengan rasa lain menjadi keren,” kata Erina. Joy tertantang oleh keinginan menyediakan minuman yang cocok untuk para vegan, apalagi setelah ia merasakan kesulitan mendapatkan makanan atau minuman yang tepat bagi kaum nabati.
Meski mengandalkan kombuca sebagai mata pencaharian, Arsenius memulai dengan misi memperkenalkan dan memasyarakatkan minuman sehat. Saat memulai pada 2002, ia menjual minuman dan biang kombuca (symbiotic culture of bacteria and yeast-scoby) agar pembeli bisa membuat sendiri di rumah. Cara meracik dan pantangan membuat kombuca pun ia bagikan gratis di laman daring yang ia buat sekaligus untuk berjualan. Gelar S. Kom dari sebuah perguruan tinggi informatika di Bandung pun ia pelesetkan sebagai sarjana kombuca.
Hampir semua menyasar pasar dari kalangan kaum muda yang sibuk dan tidak sempat meracik minuman sehat di rumah. Sejatinya banyak pelaku lain yang karena beberapa hal belum merespons permohonan wawancara Trubus. Satu hal yang pasti, kombuca menjanjikan kesehatan dan laba bagi produsennya. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Hanna TP Borneo Hutagaol & Tamara Yunike)
