Trubus.id — Sekitar pukul 05:30 WIB pada 7 November 2022, Rosmanah (41) mulai sibuk memasak di dapur. Uniknya, saat Rosmanah mulai menyalakan kompor, nyala api berwarna biru, tidak seperti nyala api kompor gas elpiji pada umumnya.
Ya, warga Kelurahan Cipaku, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, itu tidak menggunakan gas elpiji untuk menyalakan kompor.
Kompor menyala dengan pemanfaatan aliran biogas dari Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS-3R) yang berada di dekat rumahnya. Tepatnya, di RW 15 Kelurahan Cipaku, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.
Biogas merupakan energi yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan organik secara anaerobik digester, yang menghasilkan gas metana (CH₄) dan karbondioksida (CO₂). Energi yang dikeluarkan itu dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti memasak.
Jarak antara rumah Rosmanah dan TPS3R itu sekitar 50 meter. Rosmanah menggunakan biogas sejak 2016. Sejak itu pula, volume pembelian gas elpiji di rumahnya berkurang.
Biasanya, sebelum ada biogas, Rosmanah saban bulan menghabiskan 2 tabung gas elpiji 3 kilogram untuk kebutuhan memasak, dengan harga Rp23.000 per tabung. Adanya biogas meminimalisir biaya pengeluaran Rosmanah.
Sementara itu, aktivitas pemanfaatan biogas lainnya bisa dilihat di lokasi TPS-3R. Pekerja di sana kerap memanfaatkan kompor biogas, seperti memasak nasi, telur, kopi, mi, dan lainnya. Utamanya pada saat jam istirahat.

Luas lahan TPS-3R Kelurahan Cipaku 500 m², dengan jumlah pekerja 10 orang. Setiap pagi, pukul 08:00 WIB, empat pekerja menggunakan motor roda tiga menuju ke rumah warga untuk mengambil sampah rumah tangga.
Sementara itu, tiga orang pekerja bertugas memilah sampah di TPS-3R, satu orang bertugas di bagian pengomposan, satu orang mengurus sampah anorganik hasil pilahan, dan satu orang bertugas untuk menyediakan konsumsi.
“Tetapi itu situasional, tergantung kondisinya. Misal, jika sampah yang dipilah banyak, maka yang lain juga ikut bantu memilah,” kata, Amiharja (52), Ketua TPS-3R Kelurahan Cipaku.
Tiga produk
Menurut Amiharja, sampah rumah tangga yang diangkut dari rumah warga ke TPS-3R ada 500 kilogram per hari. Sampah-sampah itu berasal dari RW 03, RW 04, RW 05, RW 12, RW 15, Kelurahan Cipaku. Sampah lain berasal dari RW 05, RW 06, RW 01, Kelurahan Genteng.
Sampah rumah tangga yang ada dipilah dan diolah. Sebelum ada alat biodigester (alat pengubah limbah organik jadi biogas), produk yang dihasilkan TPS-3R hanya pupuk kompos.
Namun, setelah adanya alat biodigester, terdapat 3 produk yang dapat dihasilkan. Di antaranya pupuk kompos, pupuk cair, dan biogas.
Ada beberapa tahapan untuk mengolah sampah rumah tangga menjadi biogas. Sampah organik yang sering digunakan di antaranya limbah sayuran, buah, dan sisa nasi.
Semua sampah dicacah hingga lumayan halus. Lalu dimasukkan melalui inlet biodigester dan diberi bakteri agar bahan organiknya bisa terfermentasi dengan baik. Inlet mampu menampung sekitar 1 ton sampah dalam sekali masukan.
Amiharja mengatakan, setiap 5 hari sekali, sampah yang ada di inlet dinaikkan kembali dan diganti dengan sampah baru. Tujuannya, menjaga volume biogas yang dihasilkan tetap stabil.
Hal ini karena biogas digunakan setiap hari yang otomatis mengurangi volume biogas sehingga perlu diganti sampah baru sebagai amunisi penghasil biogas. Meskipun berasal dari sampah, biogas yang dihasilkan tidak berbau.
Penggunaan biodigester mempercepat pengomposan. Sampah lama yang diangkat dari inlet, kemudian difermentasi selama 30 hari, dengan setiap pekan sekali dilakukan pembolak-balikkan sampah.
“Kalau menggunakan bantuan biodigester ini, kompos lebih cepat matang hanya 30 hari. Sedangkan kalau pengolahan kompos manual (tanpa biodigister) bisa sampai 90 hari baru kompos itu matang,” jelas Amiharja.

Kompos yang telah matang, lalu dikemas dengan kemasan 5 kg dan 7 kg. Ada pula konsumen yang memesan kompos dalam hitungan ton. Untuk harga jual kompos per kilogram Rp1.500. TPS-3R Kelurahan Cipaku mampu memproduksi kompos sebanyak 4 ton setiap bulan.
Sementara itu, untuk produk pupuk cair tidak perlu proses yang lama, sebab dari biodigester, pupuk cair akan keluar melalui outlet. Pupuk cair dengan kemasan 1.500 ml dijual dengan harga Rp10.000–Rp15.000.
Penggunaan biodigester di TPS-3R Kelurahan Cipaku sudah sejak 2016. Amiharja menilai, dengan adanya biodigester, berdasarkan analisis usahanya menguntungkan. Hal ini karena dari sampah rumah tangga bisa diolah menjadi 3 produk sekaligus.
Adanya biogas bermanfaat bagi warga untuk menekan pengeluaran biaya gas elpiji, sedangkan kompos dan pupuk cair bisa dimanfaatkan untuk tanaman.
Ramah lingkungan
Dr. Sri Wahyuni, M.P., pembina kampung ramah lingkungan Kabupaten Bogor, mengatakan, pemanfaatan biogas sangat bermanfaat untuk masyarakat. Pengolahan sampah organik menjadi biogas lebih ramah lingkungan karena dapat mengurangi pemanasan global.
Selain itu, konsep zero waste yang merupakan upaya penyelamatan lingkungan dengan lingkungan bebas sampah bisa terwujud. Pasalnya, pengolahan sampah organik menjadi biogas tidak ada yang terbuang, semuanya termanfaatkan.
Salah satu keunggulan penggunaan biogas ada pada tingkat panas api yang dihasilkan cenderung lebih panas dibandingkan dengan nyala api dari gas elpiji. Tingkat panas api biogas mencapai 1200°C, sedangkan panas api gas elpiji hanya 700–800°C.
Biogas tidak hanya dapat digunakan untuk memasak melalui kompor, tetapi energi biogas bisa dimanfaatkan menjadi energi listrik atau biasa dikenal sebagai pembangkit listrik biogas (Biotrik).
“Sehingga dengan listrik tenaga biogas itu pemenuhan kebutuhan listrik seperti nyala lampu, memasak nasi memakai magic com, hingga mengecas kendaraan listrik pun bisa terpenuhi,” kata perempuan yang kerap dipanggil ‘Ratu Biogas’ karena keahliannya di bidang biogas.

Oleh karena itu, Sri Wahyuni optimis pemanfaatan biogas dari limbah organik bisa diterapkan masif, tidak terbatas hanya di TPS-3R. Mengingat manfaatnya besar sekali, baik bagi masyarakat sendiri maupun lingkungan.
Masih melekat dalam ingatan Sri Wahyuni tentang masa kecilnya yang hidup tanpa adanya gas dan listrik. Pada 1980, saat usianya 8 tahun, ikut orangtua ke daerah transmigrasi di Pulau Buru, Kepulauan Maluku.
Sebelum memasak, Sri Wahyuni kerap membantu orangtuanya mencari kayu bakar di hutan untuk digunakan sebagai bahan bakar. Hal itu pula yang membuatnya semangat sampai saat ini untuk mengenalkan energi biogas hingga ke pelosok negeri, seperti di kawasan-kawasan terpencil Kalimantan.
Penghargaan terbaru yang diraih Sri Wahyuni yakni Piagam Dharma Karya Energi dan Sumber Daya Mineral pada 2022 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Menurut Sri Wahyuni, kendala yang dihadapi dalam pengembangan energi biogas ini perihal mindset. Masih banyak masyarakat yang menganggap biaya biodigester mahal.
“Padahal jika menghitung dari sisi analis usaha terhitung lebih hemat,” kata perempuan kelahiran Kediri itu.
Apalagi bahan kerangka fisik biodigester menggunakan fiberglass yang mampu bertahan hingga 50 tahun. Menurutnya, pemanfaatan biogas bisa dilakukan secara komunal atau bersama-sama untuk meringankan pembelian alat biodigester.
Ia mengatakan di wilayah Jabodetabek, harga alat biodigester skala rumah tangga berkisar Rp21 juta. Pemanfaatan limbah organik menjadi biogas bisa dimulai dari skala kecil. Untuk limbah kotoran manusia, minimal ada 10 orang, sedangkan jika mengandalkan limbah ternak minimal 2 ekor sapi. Adapun limbah ternak kambing minimal 10 ekor dan untuk ayam minimal 100 ekor.
Sri Wahyuni menyebut perlu adanya peran pemerintah untuk pengembangan biogas di lingkungan masyarakat. Sudah saatnya bergerak menuju pengembangan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.
