Wednesday, January 28, 2026

Komunitas Wanita Tani Binangkit : Panen Sayur di Pekarangan

Rekomendasi
- Advertisement -
Ragam sayuran di pekarangan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga. (Dok. Trubus)

Memanfaatkan pekarangan yang menganggur untuk budidaya beragam sayuran.

Trubus — Bertahun-tahun pekarangan warga Kampung Cibenda, Desa Cikarang, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menganggur. Gulma seperti babadotan yang tumbuh di pekarangan rata-rata seluas 10—20 m². Namun, sejak Juni 2019, warga memanfaatkan pekarangan sebagai lahan budidaya beragam sayuran. Banyak warga memanen sayuran di pekarangannya.

Yati Syaiful, misalnya, memanen 5 kilogram bayam pada 14 Oktober 2019. Ia mengonsumsi 3 kilogram bayam untuk keluarganya. Adapun selebihnya 2 kilogram bayam dijual. Warga lainnya, Dewi Parti, memanen 3 kilogram kangkung dari pekarangan seluas 10 m2. Sebanyak 2 kilogram untuk konsumsi keluarga, sisanya 1 kilogram kangkung dijual. Menjual sayuran hasil panen relatif mudah. Pasalnya ada warga yang menampung sayuran dan menjajakannya ke desa di sekitarnya.

Pekarangan warga Desa Cikarang, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat,
sebagai lahan budidaya sayuran. (Dok. Trubus)

Komunitas terbaik

Gerakan menanam sayuran di pekarangan terbentuk karena para ibu tergabung dalam ikatan Kelompok Wanita Tani (KWT) Binangkit. Menurut penyuluh pertanian setempat, Fajar Agustiani S.Pt., “Wanita binangkit berarti wanita kuat, gagah, dan serba bisa.” Saat ini 42 warga menjadi anggota KWT. Menurut Fajar kegiatan awal sebetulnya program kampung Keluarga Berencana. Namun, ibu-ibu setempat lebih bersemangat memanfaatkan pekarangan rumah dengan bercocok tanam.

Mereka makin bersemangat setelah membentuk KWT. Kepala Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Jampangkulon, Ucu Rohillah S.Pt.,M.P. menuturkan, “Kegiatan KWT Binangkit sejalan dengan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).” Mereka, bercocok tanam di pekarangan untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Barulah menjual jika kebutuhan sudah terpenuhi.

KWT Binangkit memperoleh bantuan greenhouse hidroponik dari Bank Indonesia pada November 2019. (Dok. Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Jampangkulon)

Satu rumah minimal memiliki 75 polibag untuk menanam beragam sayuran seperti pakcoi, caisim, selada, bawang daun, kangkung, cabai, dan tomat. Warga yang memanfaatkan polibag lazimnya berpekarangan sempit, kurang dari 10 m2. Setiap rumah minimal memiliki 75 tanaman. Adapun warga yang memiliki pekarangan luas sekitar 20 m² menanam langsung di tanah, tanpa polibag.

Menurut Fajar produksi sayuran di pekarangan sangat potensial. Alumnus Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor itu mengatakan, 1 kilogram pakcoi hasil panen 4—8 polibag. Artinya potensi panen per kepala keluarga 9,3 kg—18,75 kg dalam sekali penanaman.

KWT Binangkit mendapat prestasi KWT terbaik tingkat Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kelompok itu mendapat bantuan greenhouse dari Bank Indonesia pada November 2019. Ukuran rumah tanam 4 m x 5 m. Anggota KWT Binangkit memanfaatkan greenhouse untuk budidaya bawang merah secara hidroponik. KWT Binangkit mengelola 1 greenhouse di atas lahan 40 m². Menurut Fajar semua anggota KWT terlibat dalam budidaya sayuran di greenhouse. Mereka sekali panen pada Januari 2020.

Jamur kolangkaling produksi Kelompok Wanita Tani Binangkit. (Dok. Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Jampangkulon)

Keunikan lain dari KWT Binangkit adalah pemanfaatan kulit buah aren Arenga pinnata sebagai media tumbuh jamur. Masyarakat setempat menyebutnya suung caruluk atau jamur kolang-kaling. Jamur dengan bentuk mirip jamur paha ayam Coprinus comatus itu tumbuh pada limbah kulit buah aren. Menurut Fajar kebiasaan warga mengumpulkan sisa kulit buah aren di satu tempat di pekarangan.

Kemudian mereka membuang sisa rebusan air buah aren yang dingin di tumpukan kulit buah. “Jamur biasanya tumbuh alami 2 pekan sampai 1 bulan setelah disiram air rebusan aren,” kata Fajar. Rasa jamur tak kalah lezat dibandingkan dengan jamur tiram. Harga jual jamur kolang-kaling Rp25.000 per kilogram. Pemanfaatan limbah itu menjadi nilai tambah warga. Terutama untuk konsumsi sendiri, barulah menjadi tambahan untuk ekonomi keluarga jika produksi berlebih. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img